Oleh Erwin Kustiman

ALHAMDULILLAH, pada buku “Humanisme Silaturahim Menembus Batas (Kisah Inspiratif Persahabatan Aqua Dwipayana-Ventje Suardana; Satu Kesamaan yang Mampu Mengalahkan Sejuta Perbedaan)”, terselip satu testimoni yang pernah saya tuliskan. Isinya merupakan kesan dan kekaguman saya kepada kedua sosok inspiratif, Bapak Dr Aqua Dwipayana dan  Bapak Ventje Suardana. Sosok pertama adalah mantan wartawan dan unsur pimpinan salah satu perusahaan besar nasional yang memilih berhenti bekerja pada orang lain dan kini menjadi motivator nasional dan pakar Komunikasi yang kiprahnya kian meluas. Sedangkan yang kedua adalah pengusaha properti dengan aset ratusan miliar rupiah. Kedua-duanya tentu sama-sama orang sukses yang pantas diteladani dan dijadikan inspirasi bagi siapapun.

Akan tetapi, satu hal yang paling layak dan bahkan harus dijadikan inspirasi, refleksi, dan teladan terutama bagi kalangan muda adalah perilaku santun dan amat hormat kedua sosok “orang besar” ini kepada kedua orang tua. Inilah teladan terbaik dan paling humanis dari seorang Aqua Dwipayana dan Ventje Suardana.

Saya ingin menyampaikan kembali catatan saya itu sebagai upaya mengingatkan khususnya buat saya sendiri, bahwa salah satu penentu keberkahan dalam hidup adalah bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua. Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan naluri dan fitrah setiap manusia. Sebab dalam jiwa dan setiap orang tertanam sifat cinta dan hormat kepada kedua orang tuanya atau ayah ibunya. Karena kedua ibu bapaknyalah yang menjadi sebab kehadiran setiap orang ke dunia ini.

Meskipun demikian dalam Islam berbakti kepada  kedua orang tua memiliki kedudukan yang mulia. Banyak keterangan dari Alquran dan hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Sehingga, birrul walidain ini merupakan bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Bahkan,  berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah nonmuslim. Setiap muslim wajib mentaati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah ALLAH SWT. Birrul walidain merupakan bentuk silaturahim yang paling utama.

Sejatinya, dalam Islam tidak saja ditekankan harus menghormati kedua orang tua tapi juga ada akhlak yang mengharuskan orang yang lebih muda untuk menghargai orang yang lebih tua usianya dan yang tua harus menyayangi yang muda. Dalam segala kegiatan umat Islam diharuskan untuk mendahulukan orang-orang yang lebih tua usianya, penjelasan ini berdasarkan perintah dari Malaikat Jibril, karena dikatakan bahwa menghormati orang yang lebih tua termasuk salah satu mengagungkan ALLAH SWT. Akhlak ini telah dilakukan oleh para sahabat, mereka begitu menghormati terhadap yang orang yang lebih tua meskipun umurnya hanya selisih satu hari atau satu malam, atau bahkan lahir selisih beberapa menit saja.

Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua juga sudah niscaya dan menjadi inti ajaran dalam kearifan lokal semua budaya. Dalam khazanah budaya Sunda (tempat penulis lahir dan berkehidupan) ada adagium “Indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat, munjung mah kudu ka indung, muja kudu ka bapa”. Peribahasa Sunda ini memiliki makna sangat dalam. Di dalamnya terkandung makna Ibu adalah akar kemuliaan hidup, dan bapak sebagai pohon kehormatan. Oleh karena itu, kita harus berbakti dan hormat kepada ibu dan bapak.

Begitu Tinggi Rasa Takzim dan Penghormatan Mereka kepada Sosok Orang Tua
MENYIMAK kisah persahabatan bahkan kemudian mewujud menjadi persaudaraan yang erat antara Bapak Aqua Dwipayana dengan Bapak Ventje Suardana, kita ditunjukkan secara nyata bagaimana praktik autentik membaktikan diri sepenuh jiwa dan raga kita bagi orang tua kita tercinta. Termasuk juga bagaimana mengembangkan sikap saling menghormati dan menyayangi manusia dengan melepaskan berbagai sekat dan rintangan yang kerap dijadikan pembeda. Inilah keluhuran humanisme silaturahim yang benar-benar menembus batas.

Betapa keikhlasan, niat mulia, penghormatan dan kasih sayang kepada orang tua, dan nilai-nilai kebaikan lainnya telah menjadi bahasa yang universal. Kebaikan-kebaikan itu telah menyingkirkan segenap sekat karena perbedaan budaya bahkan agama yang kadang ketika kita abai pada perspektif kemanusiaan yang lebih luas, kita justru kerap bersikap egois dan meniadakan yang lain. Itulah inti dari refleksi kisah persaudaraan Pak Aqua dan Pak Ventje.

Dari keduanya, sisi yang paling saya kagumi dan menjadi inspirasi adalah begitu tinggi rasa takzim dan penghormatan mereka kepada sosok orang tua. Pak Aqua yang kebetulan sudah ditinggalkan kedua orang tuanya, tetap menunjukkan jiwa bakti seorang anak kepada orang tuanya.  Pak Aqua memang punya kebiasaan yang unik, sangat menginspirasi, dan membahagiakan sahabat-sahabatnya. Juga kental dengan nilai penghargaan pada orang tua.

Beliau terbiasa berkunjung ke orang tua sahabat-sahabat dan kenalannya bahkan ketika sahabat dan kenalannya itu sedang tidak  bersamanya. “Bagi saya, orang tua sahabat dan kenalan saya adalah juga orang tua saya sendiri,” begitu dikatakan seorang Aqua Dwipayana.

Saya mengatakan demikian karena saya merasakan sendiri kebahagian betapa Pak Aqua tak hanya menjadikan saya sahabat beliau tapi beliau sendiri yang berinisiatif untuk bisa mengunjungi ibunda saya. Kebetulan, ayahanda saya sudah wafat beberapa tahun lalu.

Suatu ketika usai mengajak saya bersilaturahim kepada sahabat-sahabat beliau dalam sebuah kunjungan ke Kota Bandung, menjelang sore Pak Aqua mengajak saya berkunjung ke rumah Umi, begitu saya memanggil ibunda saya. Umi saya yang sengaja tidak diberitahu ihwal kedatangan kami, begitu bahagia bisa bersilaturahim dengan Pak Aqua Dwipayana.

Saya sendiri sudah lama selalu bercerita tentang pertemanan saya dengan Pak Aqua, sehingga Umi saya sudah faham ihwal kebaikan dan sikap santun Pak Aqua kepada teman-teman dan bahkan orang tua dari teman-temannya.
Karena tahu dari cerita saya, Umi saya pun menghaturkan terima kasih atas semua kebaikan Pak Aqua kepada saya, anaknya. Beliau tahu bahwa saya berangkat umrah belum lama ini berkat fasilitasi dan kebaikan Pak Aqua, bagaimana Pak Aqua juga terus mendorong saya melanjutkan studi S3 bahkan menjamin pembiayaannya.

“Sulit menemukan sosok seperti bapak. Semoga kebaikan dan keikhlasan yang bapak berikan kepada ananda saya, mendapat balasan yang jauh lebih tinggi dari ALLAH SWT kepada bapak dan seluruh keluarga Bapak,” ungkap ibunda saya penuh haru. Saya yang hanya duduk tepekur dan mendengarkan pembicaraan Pak Aqua dengan ibunda tak kuasa menyeka air mata yang tiba-tiba memenuhi kelopak mata.

Sungguh, kebahagian demi kebahagian saya dapatkan lewat perantaraan seorang Dr Aqua Dwipayana. Semoga ALLAH SWT senantiasa mencurahkan rahmat dan berkah-Nya kepada beliau, istri beliau Ibu Retno Setiasih, kepada kedua putri dan putra beliau Mbak Ara dan De Ero, serta seluruh keluarga besar beliau.

Bahkan beberapa waktu lalu, menjelang Ramadan tiba, Pak Aqua tetap ingat pada keberadaan ibunda saya dan memberikan sejumlah uang untuk disampaikan kepada Umi saya. Saya sebetulnya amat malu karena terus menerima kebaikan demi kebaikan dari Pak Aqua, tapi beliau memaksa dan mengatakan Mas Erwin sudah saya anggap saudara jangan menolak, sehingga saya pun tak kuasa menerima kebaikan Pak Aqua tersebut. Amanah itu segera saya sampaikan kepada Umi saya dan dengan suara bergetar karena haru Umi terus mendaraskan doa terbaik untuk Pak Aqua Dwipayana dan keluarganya.

Jejak kebaikan dan bakti seorang anak yang sangat takzim dan mendalam juga ditunjukkan oleh sosok pengusaha papan atas tapi sangat membumi Bapak Ventje Suardana. Meski saya belum ditakdirkan bersua dengan beliau, tapi dari kisah yang diuntai dalam berbagai pesan tertulis maupun kisah yang disampaikan langsung Pak Aqua, betapa saya mendapatkan banyak hikmah dan teladan dari sikap takzim dan amat berbakti Pak Ventje kepada kedua orang tua beliau.

Saya kembali ingin mengutip kalimat Mutiara dari Imam Ali Radhiyallahu Anhu, bahwasannya, “Bertemanlah dengan orang yang selalu mengingat kebaikanmu dan melupakan kebaikannya kepadamu.” Dari khalifah keempat yang juga menantu Rasulullah SAW tersebut kita juga dingatkan akan sebuah ungkapan yang menekankan makna penting toleransi. “Dia yang bukan saudaramu dalam agama adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” demikian kata-kata mutiara dari pria yang juga digelari sebutan karamallahu wajhah.  Itu adalah doa untuk Sayidina Ali bin Abi Thalib karena beliau pernah berikrar tidak akan menggunakan wajah nya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun.

Menyimak kisah persahabatan bahkan kemudian mewujud menjadi persaudaraan yang erat antara Bapak Aqua Dwipayana dengan Bapak Ventje Suardana saya seakan kembali diingatkan pada untaian dua kata mutiara di atas. Betapa keikhlasan, niat mulia, penghormatan dan kasih sayang kepada orang tua, dan nilai-nilai kebaikan lainnya telah menjadi bahasa yang universal. Kebaikan-kebaikan itu telah menyingkirkan segenap sekat karena perbedaan budaya bahkan agama yang kadang ketika kita abai pada perspektif kemanusiaan yang lebih luas, kita justru kerap bersikap egois dan meniadakan yang lain.

Itulah inti dari refleksi kisah persaudaraan Pak Aqua dan Pak Ventje. Semoga keberkahan dan kebaikan dalam hidup senantiasa tercurah kepada dua sosok inspiratif tersebut. Aamiin ya robbal aalamiin… (BERSAMBUNG)***

Penulis Corporate Secretary PT Pikiran Rakyat Bandung.