TRANSLAMPUNG.COM, LAMPUNG BARAT – Sosok Mbah Wiryo yang berusia 100 tahun berbaur bersama puluhan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama perjalanan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-106, di Pekon Bandar Agung, Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS) Lampung Barat (Lambar).

Rumah Mbah Wiryo yang dijadikan sebagai posko TMMD, mampu membangkitkan kenangannya semasa ikut berjuang merebut kemerdekaan.

Bahkan, di sisa memori yang mampu diingat Mbah Wiryo yang lahir pada 1919, menambah bekal para prajurit dalam mempertahankan NKRI.

Kebahagiaan Mbah Wiryo bertambah karena diangkat sebagai orang tua asuh oleh Serda Risat, Anggota Kodim 0422 Lampung Barat, sehingga memberikan semangat tambahan kepada anggota Satgas TMMD 106 tersebut, untuk selalu hadir di tengah rakyat.

“Alhamdulillah, saya dapat mengenal bahkan mempunyai orang tua asuh seperti Mbah Wiryo, karena walaupun saat ini usianya sudah satu abad, tapi semangat untuk menjaga NKRI masih sangat tinggi, dan patut menjadi teladan bagi generasi milenial,” kata Risat, Senin, 28 Oktober 2019.

Apalagi, lanjut dia, selama menempati rumah Mbah Wiryo, banyak mendengarkan ceritanya saat ikut berperang melawan penjajah, sebelum maupun sesudah merdeka, sehingga menjadi energi tambahan prajurit untuk tetap bersama rakyat dan menjaga keutuhan NKRI.

“Mbah Wiryo walaupun tidak tercatat sebagai tentara veteran, tetapi ikut bertempur langsung mengusir penjajah, dan cerita beliau menjadi semangat kami sebagai prajurit untuk mempertahankan NKRI,” ujar Risat.

Komandan Satuan Tugas (Dan Satgas) TMMD 106, Letkol Kav Adri Nurcahyo mengatakan, anggotanya berharga untuk tetap bersama rakyat, jalin hubungan baik dengan humoris dan humanis. Apalagi rakyat adalah ibu kandung TNI.

“Sebagai ibu kandung, Prajurit TNI harus selalu ada untuk rakyat. Jangan melihat tahta, harta dan kasta, di mata prajurit semua rakyat itu sama, dan harus ditanamkan dalam jiwa bahwa TNI dari rakyat untuk rakyat,” kata Adri.

Adri yang juga Dandim 0422 Lampung Barat meminta kepada Anggota TNI yang memiliki orang tua asuh, harus dirawat dan dijaga, anggap seperti orang tua sendiri. Jangan sia-siakan orang yang sudah kita anggap sebagai orang tua.

“Kalau kita sudah mengakui seseorang sebagai orang tua asuh, harus dijaga hubungan baik, rawat, jalin silaturahmi dan akan lebih penting lagi anggap orang tua asih seperti orang tua sendiri,” tuturnya. (Safri)