Oleh Albaet Pikri

Terima kasih Pak Aqua.
Terima kasih Pak Ali Akbar.

Jam 20.02 pada Minggu malam (15/11/2020) tiba-tiba telefon saya bergetar. Begitu dilihat dari siapa, oow ternyata Pak Aqua Dwipayana.

Surprise Pak Aqua mengajak silaturahim lagi. “Tolong Pak Albaet ajak istri ya, sekalian saya akan tagih rencana menginap di tempat saya di Yogyakarta,” pesan Pak Aqua.

Rencana semula kami ketemu pada Senin siang (16/11/2020) setelah Pak Aqua menghadiri penandatanganan kerjasama antara Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan PLN di kantor pusat BUMN itu. Ngobrol sambil makan siang.

Mendadak Pak Aqua selesai acara di PLN harus ketemu Kapuspen TNI Mayjen TNI Achmad Riad. Mereka mendiskusikan kondisi terkini dan aktual di Tanah Air dan strategi Komunikasinya.

Pak Aqua minta maaf atas penundaan pertemuan itu. Saya sangat memakluminya. Saya yakin urusan dengan Kapuspen TNI Mayjen TNI Achmad Riad cukup penting.

Bertemulah kami di hotel Mercure Cikini, tempat di mana tempo hari kami ngobrol-ngobrol. Saat itu saya dan istri mendapat sekardus besar empek-empek oleh-oleh dari Pak Aqua yang baru sampai dari Palembang.

Sore ini kami bersilaturahim, di mana sebelumnya saya minta ijin mengajak Deki Putra Sudirman yang sehari sebelumnya juga mengatakan ingin silaturahim ke saya. Alhamdulillah terjadilah obrolan yg menambah kedekatan, spirit silaturahim, cerita-cerita baru, dan tentang dua buku Pak Aqua yang segera terbit.

Mengenai buku itu, sempat kami diperlihatkan foto cover yang penerbitannya didukung beberapa sponsor dari perusahaan besar di Tanah Air. Berbagai inspirasi dan jalan kemudahan tercipta dari energi dan multiefek silaturahim tanpa pamrih yang selama puluhan tahun dilakukan Pak Aqua. Luar biasa Pak Aqua.

Saya bertambah paham, kenapa Pak Aqua begitu gigih mengajak kita untuk rajin bersilaturahim dengan ikhlas dan berbagi spiritnya. Himbauan untuk meningkatkan terus silaturrahim baik kuantitas apalagi kualitasnya, baik dengan bertemu langsung maupun melalui banyak tulisan. Sesuatu yg tidak biasa, ini terkesan sebagai sesuatu yang gigih dan berulang secara konsisten

Memberikan Penyegaran dan Pendalaman dalam Berkaca Diri
Saya jadi teringat guru agama kami di SMA Negeri 3 Bukittinggi, Sumatera Barat dulu. Bapak Ali Akbar namanya. Sosok guru yang dekat dengan gambaran seorang guru yang ada dalam lagu Omar Bakrinya Iwan Fals.

Dalam kenakalan sebagai siswa, kami mempertanyakan kenapa taushiyah agama, ceramah dalam berbagai peringatan, dan khutbah Jumat serta Hari Raya itu kontennya seringkali diulang. Itu ke itu saja. Pertanyaan ini lebih kepada ekspresi keisengan pada awalnya.

Pak Ali Akbar dengan sabar menjawab di mana jawaban ini sekarang makin saya pahami ketika melihat betapa gigihnya Pak Aqua bersilaturahim. Kata Pak Ali, “Pertama, manusia itu sifatnya mudah terlena dan cenderung lalai. Oleh karenanya perlu saling mengingatkan dan saling mengajak dengan berulang-ulang. Bukankah shalat, puasa, dzikir dan berbagai amalan lainnya juga pengulangan. Itu pun manusia masih banyak yang alpa. Kedua, kita manusia ini hidup bergenerasi. Pengulangan bagi kita yang sudah mulai pelupa, itu pelajaran baru bagi anak dan remaja.”

Sori Deki, anggaplah kami sebagai yang sudah mulai pelupa dan Deki sebagai remajanya.😊

Alhamdulillah, silaturahim dengan Pak Aqua dan Deki itu memberikan penyegaran dan pendalaman dalam berkaca diri, memaknai silaturahim dan kehidupan.

Barakallahu fiikum Pak Ali Akbar dan Pak Aqua. Terima kasih sangat…🙏👍💪☕🎶

Albaet Pikri
Jkt 201120

@⁨Aqua Dwipayana⁩
@⁨Deki Putra Sudirman FMM Korpus PP Gema Unand Padang⁩

Penulis adalah mantan Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.