(Bagian 1 dari 2 tulisan)

Oleh: Ita Lizamia

Sederet _woro-woro (pengumuman) masuk WAG Jamaah Umrah the Power of Silaturahim (POS) III Surabaya-Sidoarjo, pada 21 Agustus 2020. Isinya, ”undangan” dari Pak Aqua Dwipayana untuk silaturahim ke Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Kurnia Dewantara, ke Bali.
Saya menyambut undangan itu dengan semangat. Meski sejak pandemi saya tidak lagi bekerja —sehingga tidak ada pendapatan— keinginan silaturahim seakan tidak bisa ditolak. Langsung saya isi daftar peserta yang sudah dibikin Cakfu (Fuad Ariyanto), koordinator POS III Surabaya-Sidoarjo yang juga wartawan senior._

Silaturahim ke Bali ini merupakan muhibah kali ketiga dilakukan POS III Surabaya-Sidoarjo. Sebagaimana muhibah sebelumnya, semua uang transportasi dan lain-lain diganti oleh Pak Aqua Dwipayana, pemrakarsa sekaligus penyandang dana the POS.

Pak Aqua seperti sengaja membiarkan kami ribut dulu. Mulai mengkalkulasi biaya transportasi sampai reservasi tiket pesawat. Menjelang berangkat baru Pak Aqua mengabari bahwa semua uang tiket ditanggung. Alhamdulillah.

Demikian juga ketika silaturahim pertama ke Jogjakarta Agustus tahun lalu. Uang sewa mobil diganti menjelang kami balik ke Surabaya. Muhibah ke Jogja itu untuk silaturahim ke rumah motivator tersebut sekaligus halal bi halal seusai Lebaran.

Silaturahim kedua ke Bandung, Sukabumi, Bogor, Depok dan Jakarta pada 15—19 Oktober 2019. Di Bandung kami bermalam di markas Seskoad dan dijamu Danseskoad Mayjen TNI Kurnia Dewantara yang sekarang menjabat Pangdam IX/Udayana. Beliau merupakan ayah angkat the POS.

Sebelum berangkat tentu kami harus melakukan rapid test dan mengisi Electronic Health Alert Card (E-HAC) yang merupakan protokol kesehatan dalam penerbangan.

Rombongan terdiri atas 11 orang. Jadwal acara selama di Bali sudah disusun oleh Pak Gusti Ngurah (Danden Inteldam IX Letkol Gusti Ngurah S.), yang mendapat tugas dari Pak Kurnia untuk menerima kami.

Dimanjakan, Makan Enak Tidur Nyenyak
Sabtu, 19 September 2020, sekitar pukul 06.00 —dua setengah jam sebelum berangkat– kami sudah berada di T1 bandara Juanda. Ini mematuhi kesepakatan tim berdasarkan masukan dari ”Lurah” Bandara Juanda Mas Kholid Widodo. Station Manager Lion Air Juanda itu juga ikut dalam rombongan.

Banyak keuntungan Mas Dodo —panggilan akrab Kholid Widodo— ikut dalam rombongan. Antara lain, semua barang bawaan ada yang menangani dan langsung masuk bagasi.

Sebelumnya, Mas Dodo juga mengurus semua E-HAC rombongan. Mulai pemeriksaan E-HAC, rapid test, sampai masuk pesawat kami mendapatkan prioritas, didahulukan. Ibaratnya kami tinggal melenggang sampai ke kursi pesawat. Duduk di deretan kursi depan. Alhamdulillah….

Karena berstatus sebagai tamu Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kurnia Dewantara, di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Badung, Bali kami dijemput beberapa anggota TNI AD. Kemana pun kami pergi selalu ada pengawalan.

Selain sekitar empat orang yang selalu menyertai kami, di beberapa tempat yang dikunjungi selalu siap Babinsa sebagai tambahan pengawalan. ”Pengawalnya lebih banyak dibanding yang dikawal,” kelakar Bu Anisah, salah satu anggota rombongan.

Meski ada pengawalan kami tak merasa risih atau dibatasi. Sebab, para pengawal itu rata-rata ramah dan cepat akrab seperti kawan lama. Apalagi, mereka umumnya suka berkelakar.

Selama tiga hari di Bali kami merasa dimanjakan. Menikmati wisata dengan nyaman, makan enak, tidur nyenyak. Meski Pak Aqua tidak bisa mendampingi kami karena jadwalnya yang superpadat, tapi kami merasakan betul manfaat amalannya.

Ini semua merupakan buah silaturahim yang telah Pak Aqua lakukan selama bertahun-tahun. Harus diakui bahwa kami menjadi tamu Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kurnia Dewantara dan mendapat perlakukan istimewa berkat beliau.

Makan pun selalu di restoran kenamaan. Keluar dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, kami langsung dibawa ke resto Bebek Tepi Sawah (BTS) di Jalan Raya Kuta. Acara selanjutnya tur ke tempat-tempat wisata favorit.

Di Garuda Wisnu Kencana (GWK) kami dikawal Babinsa. Obyek wisata itu sebenarnya tutup, namun atas bantuan Pak Ngurah, kami diberi kesempatan untuk masuk dan berfoto-foto di sana. Jadi saat itu hanya rombongan kami saja.

Layanan eksklusif seperti ini —terus terang—belum pernah saya rasakan. Meski tidak menggunakan vorijder —karena jalanan sepi– perjalanan lancar dan nyaman.
 
Kejutan berlanjut ketika minibus mengantar kami ke tempat bermalam. Hotel Courtyard by Marriot Seminyak, hotel bintang lima milik Pak Ventje Suardana. Dia teman baik sekaligus saudara angkat Pak Aqua Dwipayana.

Kawasan Seminyak merupakan salah satu daerah mahal di Bali. Wow…. betapa senangnya. Meski pandemi, fasilitas hotel semisal resto, tetap buka dengan protolol kesehatan yang ketat. Juga kolam renang yang tersebar di tiga lokasi.

Malam pertama di hotel itu kami harus cepat beristirahat. Sebab, dini hari nanti kami harus segera berangkat ke Singaraja, Bulelelng. Tepatnya, ke pantai Lovina untuk melihat ikan lumba-lumba di laut lepas. (bersambung).*

Penulis wartawati senior dan anggota rombongan umrah The Power of Silaturahim III.