Oleh : Ismail Komar

Berpikir positif benar-benar menjadi hal penting sekarang ini. Curiga? Boleh tapi lebih ke waspada ya. Lalu apa hubungan ini dengan kondisi sekarang?

Ada banyak hal. Salah satunya adalah ketidak mampuan melihat peluang di tengah masalah. Pendemi Corona selama ini selalu dipandang dengan negatif. Semua wall sosmed membahas itu. Bahkan jika kita membuka sosmed di halaman pertama tertulis soal informasi mengenai covid 19.

Baik tapi otak hampir dua bulan ini dijejali oleh pemberitaan mengenai hal itu. Hal lain hampir tidak menarik. Mulai dari kesulitan ekonomi, sosial dan masih banyak lagi. Psikologis masyarakat begitu terganggu.

Celakanya informasi yang simpang siur itupun bahkan di dapat dari lembaga resmi. Hari ini menghimbau A, besok himbauan itu di ralat. Panik? Betul.

Ini parah, komunikasi tidak berjalan cenderung liar. Tapi banyak hal yang kita bisa ambil dari sudut pandang lain dengan hadirnya covid 19 ini. Salah satunya adalah peluang besar. Ya peluang itu berupa kesempatan kita untuk berpikir positif tentang peluang apa saja yang bisa kita raih di tengah kesulitan ini. Alih profesi menjadi hal yang tak mustahil dilakukan. Keluar dari zona nyaman.

Dari epidemi ini salah satu yang jarang dipikirkan adalah bahwa kebutuhan dasar menjadi penting banget. Dulu kebutuhan dasar ini dihargai murah, karena ada kebutuhan lain yang sipatnya life style. Sekarang berprofesi sebagai petani luar biasa mantap. Bayangkan jika anda petani penghasil beras.

Sekarang kebutuhannya tinggi sekali. Lalu persoalannya apakah petani bisa memanfaatkan peluang ini? Jangan jangan malah spekulan yang bermain.

Jika dulu Lampung misalnya dikenal sebagai penghasil singkong, tapi populasinya singkong racun karena lebih banyak patinya jika diproduksi menjadi tapioka. Kenapa tidak kembali bertani singkong makan.

Bayangkan Raffi Ahmad bisa meraup Rp100 miliar dari berjualan keripik singkong. Saya terkejut. Rafi Achmad ternyata lebih jago dari kita kebanyakan untuk melihat peluang. Itu baru dari keripik.

Kebayang sekarang banyak orang rindu dengan makanan masa lalu, tiwul misalnya. Susah sekali sekarang mendapatkannya. Nah, ditengah WFH kadang orang ingin bernostalgia.

Ini Peluang. Lalu bagaimana jika pendemi ini selesai? Dunia pariwisata, kuliner kudu bersiap. Banyak sekali orang sekarang ini sangat tidak kuat untuk tidak keluar rumah demi liburan.

Ada teman saya sampai bilang, jika kondisi sekarang ini sebenarnya sama saja di “penjara” secara sukarela. Saya mengamininya. Artinya “pemberontakan” untuk mendapatkan liburan ini sedemikian kencangnya.

Berpikiran positif membuat kita menyiapkan semuanya. Obyek wisatanya, warkop, hotel, merchandise, travel agen, infrastruktur, regulasi, wah masih banyak lagi yang bakal menggeliat.

Memikirkan ini saya sangat bersemangat lagi. Bagaimana dengan Anda?

Lampung 13 April 2020