TRANSLAMPUNG.COM, BARADATU – SDIT Bina Insan Madani Way Kanan mencoba menggagas kegiatan bernama Lomba Kreasi Pojok Baca dalam rangka mengisi Bulan Bahasa 2019. Hal itu dikatakannya Kepala SDIT BIMA Istika Sandra Sari, S.Pd  kepada translampung.com via whatsapp, Kamis (31/10/2019).

Kegiatan antar kelas itu menurut Istika dinilai sangat menarik dan potensial dalam menghidupkan gerakan literasi sekolah. Karena di era digital merupakan sebuah tantangan tersendiri jika minat berliterasi justru semakin rendah. Sesuatu yang bersifat instan membuat kebanyakan pelajar menjadi lemah dalam melakukan analisis dan mencari banyak referensi.

“Alhamdulillah, Selasa 29 Oktober 2019 lalu sekitar pukul 09.30 telah dilakukan penilai lomba Kreasi Pojok Baca antar kelas di Sdit Bina Insan Madani Baradatu Way Kanan. Hadir selaku Juri Diana Vionila, S.E, M.M, mewakili Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Way Kanan, Bapak Sugiharto Pandu Dwijo Prayitno, M.Pd selaku Pengawas Sekolah serta Ibu Lia Satria, S.Si dari Penerbit Buku Sygma Daya Insani. Ketiga dewan juri sangat mengapresiasi kegiatan ini, bahkan berharap dapat tersyiarkan sampai ke perpusnas”, terangnya.

Masih menurut Istika, persiapan lomba berjalan cukup panjang dan tidak menggangu kegiatan belajar. Pengadaan buku dalam pojok baca tersebut dengan mewajibkan seluruh siswa berkontribusi membawa satu buku untuk ditinggal di sekolah selama satu semester. Kreasi pojok baca masing-masing kelas didesain antara guru dan siswa, tak bisa dipungkiri kegiatan ini disambut baik oleh wali murid yang di luar jam sekolah turut ikut serta memberikan ide, menghias bahkan menambah jumlah koleksi buku.
.
“harapan besar SDIT BIMA tidak hanya pada kegiatan yang bersifat event saja. SDIT BIMA mencoba menampilkan kearifan lokal, serta menyiapkan peserta didik akan kebutuhan di masa mendatang yaitu keterampilan berliterasinya di abad 21 sesuai tema kegiatan ini.
.Edukasi literasi semacam ini sangat menarik bagi anak-anak, selain membuat suasana kelas menjadi unik dan menarik, ananda juga mulai betah dengan kebiasaan membaca buku. Namun juga harus diperhatikan, kesediaan buku, tata kelola dan kreativitas program literasi di sekolah tentu harus digodok matang-matang sehingga tidak hanya untuk sehari dua hari saja setelahnya ditinggalkan”, imbuhnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Diana Vionila, S.E, M.M, mewakili Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Way Kanan mengatakan, kegiatan tersebut sangat baik, SDIT BIMA layak menjadi contoh dalam mengawal Kegiatan Literasi di sekolah di Way Kanan.

“Hal ini sangat sinergi dengan program pemerintah daerah dalam menggagas Way Kanan sebagai Kabupaten Literasi”. Demikian tutur Ibu Diana saat menilai pojok baca.(rls/yudi)