Palangkaraya – Subdit Renakta Direskrimum Polda Kalimantan Tengah berhasil mengungkap kekerasan seksual terhadap seoarang balita berumur 3,5 tahun hingga korban tertular penyakit menular seksual sipilis. Kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh seoarang ustadz berinisial RT di Palangkaraya Timur ini juga memakan 4 korban lainnya

Komnas Perlindungan Anak sangat berterima kasih dan memberikan apreasiasi dan penghargaan terhadap kerja keras dan komitmen yang diberikan jajaran Direskrimum subdit IV Renakta Polda Kalimantan Tengah atas kasus kejahatan seksual terhadap anak balita. Penghargaan ini diberikan sebagai tanda meningkatkan kerjasama antara Polda Kalteng dan Komnas Perlindungan Anak dalam mewujudkan gerakan penegakan hukum dan perlindungan anak-anak untuk memutus mata rantai kekerasan seksual terhadap anak di Kalimantan Tengah.

Penyerahan sertifikat penghargaan diberikan kepada Kapolda dan Jajaran Direskrimum serta Subdit IV Renakta Polda Kalteng didampingi Dhanang Sasongko Sekjen Komnas Perlindungan Anak dan Komisioner Sumberdaya Perlindungan Anak Lia Latifah.

” Untuk kasus kejahatan seksual terhadap anak
Balita yang dilakukan tersangka A (21) kakak tiri korban, bersesuaian dengan UU RI Nomor : 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pelaku A diancam minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun dan dapat dikenakan hukuman tambahan berupa ancaman seumur hidup bahkan hukuman mati ” demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak kepada sejumlah media dalam keterangan persnya bersama Wakapolda Kalimantan Tengah dan jajaran Direkrimum Kalimantan Tengah, Sekda Pemprop Kalteng Rabu 22 Juli 2020 di Mapolda Kalimantan Tengah.

Lebih lanjut Arist menjelaskan, bercermin dari kasus kekerasan seksual terhadap anak balita hingga menderita sipilis yang dilakukan kakak tiri korban dan kasus kejahatan seksual yng dilakukan oleh oknum ustad, Komnas Perlindungan Anak mengajak semua pihak dan semua masyaralat untuk bahu membahu membangun gerakan perlindungan Anak terpadu berbasis kampung dengan melibatkan warga sekampung dan organisasi sosial yang ada dikampung seperti karang taruna, organisasi perempuan PKK, dan remaja.

Sudah saatnya menjaga dan melindungi anak dan memutus mata rantai kekeradan terhadap anak harus dilakulan oleh warga sekampung.

” Selain penegakan hukum, keterlibatan dan partisipasi masyarakat di masing-masing kampung sangat diperlukan untuk melindungi anak. Pengungkapan kasus kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan Polda Kalimantan Tengah ini adalah momentum bagi orangtua dan masyarakat Kalimantan tengah untuk memberikan ektra perhatian terhadap perubahan prilaku anak dan penggunaan media sosial. Seringkali predator kejahatan seksual terinpirasi dan terdorong dari tayangan-tayangan pornografi. Waspadalah dengan kekerasan seksual terhadap anak yang marak terjadi dilingkungan sosial anak di Kalteng ” ungkap Arist. (Ams)