Translampung – Tujuh bulan berjalan Covid-19 membekap kehidupan. Cekikannya membelit hampir semua lapisan usia. Mulai bayi hingga tua renta. Membelenggu banyak sektor tatanan peradaban. Dari sosial ekonomi sampai pendidikan. Dari pariwisata sampai keamanan._

Pandemi telah membuat banyak kepala mumet. Pusing. Anak-anak galau karena kehilangan kebebasan bermain bersama teman. Rindu guru. Rindu sekolah. Rindu wisata. Keceriaannya makin pudar karena harus belajar melalui laptop atau telepon genggam. Di bawah pengawasan orang tua yang umumnya kurang faham mata pelajaran. Atau kurang sabar menghadapi anak yang tak cepat mencerna ajaran.

Orang tua pusing karena berbagai persoalan. Mulai kebutuhan hidup harian sampai ancaman kehilangan pekerjaan.

Pada waktu hampir bersamaan mereka terpaksa googling untuk belajar semua pelajaran. Demi anak. ”Oh…Pak Guru…Bu Guru…di sekolah guru hanya mengajar satu atau dua pelajaran. Lah…saya hanya ibu rumah tangga, bagaimana harus mengajar semua pelajaran? Saya bukan propesor Mas Menteri,” keluh seorang ibu dengan nada ngomel.

Covid-19 harus diakui membuat beban hidup tiap keluarga bertambah. Selain kewajiban memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada tugas mengajar anak lengkap dengan pemenuhan fasilitas infrastrukturnya. Pulsa, wifi, internet sampai perangkat keras. Semua itu menguras tenaga, pikiran, juga finansial.

Di sisi lain, bisnis sedang seret. Tak bebas keluar rumah karena ancaman virus atau aturan. Bagi pegawai kantoran —negeri atau swasta— kondisinya tak jauh berbeda. Bahkan, karyawan swasta ada ancaman pemutusan hubungan kerja atau pensiun dini.

Beban fisik dan pikiran serta kelelahan mental yang dialami anak maupun orang tua tersebut bisa memicu stress berkepanjangan. Apalagi, muncul larangan masuk bagi WNI dari 59 negara, yang menambah beban pikiran siapa saja. Larangan tersebut, paling tidak, merupakan tengara bahwa pemerintah kurang serius —atau tidak becus— dalam menangani Covid-19. Wallahu a’lam.

Makin Butuh Motivasi
Stress maupun kelelahan mental itu secara langsung atau tidak akan mempengaruhi semangat, etos kerja, dan kinerja karyawan. Terapi stress tentu harus ditangani ahlinya.

Sedangkan menjaga semangat kerja, membangkitkan etos kerja, dan meningkatkan kinerja karyawan perusahaan –atau instansi— merupakan bidang garap Dr. Aqua Dwipayana, motivator kondang yang juga pakar Komunikasi itu.

Akibat peningkatan beban pikiran —dan fisik— tersebut, tampaknya banyak pimpinan perusahaan –atau instansi— yang merasa perlu memberikan suntikan motivasi pada karyawannya.

Buktinya, setidaknya selama tiga bulan ke depan jadwal Aqua sangat padat. Pada dua bulan belakangan ini dia sudah mengisi sharing Komunikasi dan Motivasi di beberapa perusahaan dan instansi. Dari Medan sampai Mataram. Dari Jatinangor sampai Makassar.

Dengan motivasi itu diharapkan karyawan tetap produktif, kreatif, dengan produk yang tetap berkualitas. Bahkan, di musim yang tidak normal ini justru kreativitas karyawan tidak boleh mandeg (stagnan).

Kurang tahu, apakah motivator lain punya jadwal sepadat Aqua. Namun, cukup beralasan jika beberapa pimpinan perusahaan dan instansi itu memilih Aqua.

Pertama, tentu karena jaringan Aqua sangat luas. Hal ini tak lain berkat silaturahim yang rajin dia dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

Dengan segala keramahan dan kerendahan hatinya dia mampu merawat jalinan persahabatan tersebut dengan siapa saja. Sejak seseorang itu belum ”jadi apa-apa” sampai menjadi pimpinan.

Kedua, Aqua sudah punya ”brand image” Silaturahim yang sudah banyak dikenal publik. Tidak hanya sebagai wacana di ruang sharing komunikasi, tapi sudah menjadi amalan keluarga Aqua sehari-hari.

Ketiga, jam terbang. Makin banyak jam terbang makin dikenal. Meski begitu, Aqua tak segan-segan terus mensyiarkan berbagai kegiatannya melalui grup WA (GWA) Komunitas Komunikasi Jari Tangan, maupun grup lain. Tak jarang dalam sehari, lebih dari sekali anggota grup menerima kiriman WA dari Aqua, berupa berita Aqua yang ditulis beberapa media cetak maupun online.

Keempat, referensi. Dari pengalaman mengundang Aqua, tak sedikit pimpinan yang memberikan referensi pada sahabat atau rekanannya untuk mengundang Aqua jika perusahaan perlu memotivasi karyawan.

Referensi tersebut diberikan tentu karena hasil yang didapatkan sangat signifikan. Selain, cara penyampaian Aqua yang akrab, dialogis, dan menyenangkan. Di musim pandemi, Aqua telah membuktikan dirinya tetap produktif dan memperoleh banyak rezeki.

Semoga bermanfaat.***

(Wassalam, Cakfu)

Penulis Wartawan senior yang produktif menulis buku.