Sore itu saya mendapat notifikasi dari Mas Aqua. Isinya kalau beliau mau ke Lampung. “Mau nemuin Mas Komar, ke Warkop WAW,” katanya.

Ini sambil ketawa saya bilang Mas AQua guyon banget nih. WA itu saya terima sekira pukul 17.45 WIB. Eh pukul 21.30 Mas Aqua sudah nongol di Warkop WAW Lampung.

Kayak samber geledek. “Lah beneran toh Mas,” kata saya sambil terkejut. Dengan gayanya yang humble luar biasa dia bilang khusus datang ke Lampung menemui saya. “Hah,” tambah lagi terkejut tingkat dewa dong.

Tapi saya semakin mengerti mengapa Mas Aqua ini memang luar biasa. Bayangkan kami bukan apa-apa saja dikunjungi tanpa alasan apapun untuk layak dikunjungi.
Mas Aqua dulu pernah berjanji untuk memberikan bukunya ke kami sebagai koleksi bacaan untuk pengunjung Warkop WAW.


Tentu tak terpikir jika Beliau sendiri yang mengantarkan buku tersebut. Kepikiran kalau buku tersebut datang via k

kurir Ndakkkk habis pikir saya dengan pola beliau. Jadilah malam itu dua bukunya, Humanisme Silaturahim Menembus Batas dan Berkarya & Peduli Sosial Gaya Generasi Milenial sudah tersedia di Warkop WAW.
Karenanya buku tersebut langsung ditandatangani beliau.

Kembali ke soal kedatangan beliau ke Warkop WAW, masih penasaran ini saya tanyakan lagi. Akhirnya beliau menjawab jika siangnya ada pertemuan dengan Dandim di Cilegon. Nah beliau bertanya kalau ke Merak berapa lama. Dandimnya cerita jika tak sampai 15 Menit. “Makanya saya langsung ingat Mas Komar, di Lampung, langsung dah meluncur,” ungkapnya ringan.

Saya tanya lagi setelah ini kemana lagi. “Pulang lagi,” jawabnya. Gak tau malam itu rasanya bingung campur-campur. Semakin saya mengerti betapa beliau ini menulis dan benar-benar dijalankan. “Saya belum bisa seperti Mas Aqua,”. Jawabannya benar-benar buat kami semangat. “Pasti bisa. Prosesnya sudah tepat,” ujar beliau memberi semangat.

Pertemuan itu begitu singkat sekitar 30 menit kemudian beliau pamit pulang. Sebelum pulang dengan ringganya beliau bertanya ada berapa karyawan yang malam itu masih standby. Melalui kasir kami Beliau langsung memberikan sejumlah uang yang membuat semua karyawan tersenyum. “Tamu bapak aneh ya, itu orang kok baik sekali,” kata anak-anak.

Dalam pembicaraan singkat tersebut Motivator dan Konsultan Komunikasi Nasional tersebut bersedia untuk terus membimbing kami. “Selama energinya positif ini akan terus kita support,” katanya.
Jujur sayapun minta dikoreksi soal komunikasi dengan konsumen. Ada masukan yang luar biasa didapatkan dari beliau. Ini juga terkait dengan kelemahan saya menggunakan perangkat handphone. Karena jawaban saya terlalu singkat-singkat. Komunikasi verbal itu yang perlu dikuatkan, sedangkan komunikasi non verbal perlu asistensi. Nah beliau menganjurkan untuk ada pendamping. Langsung setelah malam itu saya putuskan dokter Endang Purwaningsih yang akan menjawab pertanyaan konsumen soal Warkop WAW.(*)