Sujarwo Atmo Waridjo SH. MH.

Bandar Lampung — Perbincangan sangat menarik bersama Sujarwo Atmo Waridjo SH. MH. Tentang seni budaya, sejarah, pendidikan dan hukum, merupakan kesempatan langka ditengah kesibukan Beliau yang teramat padat, di hari libur pun tetap beraktifitas dalam suasana rilek dan santai menerima awak media dalam lobi kantornya yang sejuk damai, dengan warna dinding putih, membias sinar kehijauan terang dan teduh sangat eksklusif.
Dalam perbincangan yang asyik Beliau menjelaskan tentang lukisan dinding bergaya etnik bermotif Kapal Jung, corak kain pelepai Lampung yang menghiasi ruang tamu kantornya.

Sujarwo menjelaskan bahwa: Djong (juga disebut jong, jung atau junk) adalah jenis kapal layar kuno yang berasal dari Jawa, digunakan secara umum oleh pelaut Jawa dan Melayu. Djong (Jung) berfungsi utama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, dapat mencapai Ghana atau bahkan Brazil di zaman kuno. Bobot muatan rata-rata adalah 400-500 ton, dengan kisaran 85-700 ton. Pada zaman Majapahit kapal jenis ini digunakan sebagai kapal perang, tetapi masih dominan sebagai kapal angkut

Kapal Besar Jung Jawa, Armada Terbesar Indonesia di Masa Lampau yang Jarang Orang Ketahui

Sejarah Indonesia terkait dengan lautnya memang tidak akan ada habisnya. Istilah “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” semakin mengarah pada kebenaran. Karena pada dasarnya rakyat nusantara dikenal dengan kemampuannya berlayar dan melakukan eksplorasi laut. Bahkan jauh sebelum era Cheng Ho dan Colombus melakukan pelayaran dunia untuk mengeksplorasi bagian-bagian terjauh bumi, penjelajah laut Nusantara telah melakukan pelayaran hingga benua-benua lainnya. Jika melihat catatan perjalanan keagamaan yang ditulis oleh I-Tsing (671-695 M), ia melakukan perjalanan ke India Selatan menggunakan kapal dari Kerajaan Sriwijaya yang pada waktu itu dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

“Orang Jawa adalah orang-orang yang sangat berpengalaman dalam seni navigasi, sampai mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini, walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Cina lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa. Tetapi yang pasti adalah orang Jawa yang dahulu berlayar ke Tanjung Harapan dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar, dimana sekarang banyak dijumpai penduduk asli Madagaskar yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan orang Jawa”. Itulah tulisan dari Diego de Couto dalam bukunya yang berjudul Da Asia yang terbit pada 1645, yang menggambarkan seberapa eksploratifnya masyarakat Jawa di waktu itu”
Demikian ujar Sujarwo Atmo Waridjo SH. MH. Di Kantor Advocate & Legal Consultant Sujarwo & Partners Jl. Gatot Subroto No 70C Garuntang Bandar Lampung. Minggu (20-02-2020).

Salah satu bukti kejayaan dari Masyarakat Jawa di masa lampau adalah Kapal Jung Jawa, yang merupakan kapal terbesar dalam sejarah dunia. “Nama Jung jika diartikan dalam bahasa Jawa Kuno berarti kapal perahu besar. Sedangkan khazanah Melayu juga mengartikan Jung sebagai kapal yang hanya dimiliki oleh orang Jawa. Sejarahnya bermula di era 1500-an ketika orang Jawa dikenal menguasai kawasan Asia Tenggara, dengan menguasai jalur rempah-rempah antara Maluku, Jawa, dan Malaka” jelas Sujarwo.

“Sehingga lambat laun Pelabuhan Malaka menjadi pusat perdagangan pada waktu itu. Pedagang, nahkoda kapal, bahkan tukang kayu memilih untuk menetap di wilayah tersebut. Kemampuan orang Jawa dalam membangun kapal juga menjadi modal untuk terus mengembangkan kapal-kapal besarnya. Bahkan jika melihat relief pada Candi Borobudur tergambar bahwa masyarakat sana telah berhasil membangun perahu bercadik, yang kemudian disebut sebagai Kapal Borobudur.

Puncak kejayaan perkapalan di Jawa adalah ketika orang Jawa berhasil membuat kapal Jung Jawa pada abad ke 8. Kapal ini menjadi perhatian kawasan Asia Tenggara, karena teknologi yang digunakan dalam pembuatan kapal ini cukup unik. Jung Jawa dibangun tanpa menggunakan paku, seperti halnya pembuatan Kapal Borobudur. Kapal ini terdiri dari empat tiang layar dan dinding, yang merupakan gabungan dari empat lapis kayu sehingga tahan akan tembakan meriam dari kapal-kapal Portugis. Berat dari Jung Jawa juga bervariasi, dari kisaran 600 ton hingga 1000 ton seperti yang digunakan oleh Kerajaan Demak dalam peperangan di Malaka tahun 1513″ jelasnya.

Dilansir dari berbagai sumber. Ukuran Jung Jawa berdasarkan pada catatan Tome Pires dan Gaspar Correia juga sangat besar. Bahkan Jung Jawa tidak dapat menepi ke daratan karena ukurannya yang begitu besar. Sehingga diperlukan kapal kecil untuk melakukan bongkar muat. Selain itu Jung Jawa menurut Gaspar Correia melebihi besar dari kapal terbesar Portugis pada waktu itu, Kapal Flor de La Mar.

“Kapal Flor de La Mar, dikenal memiliki kapasitas 500 orang pasukan dan 50 buah meriam. Data ini jika dibandingkan dengan kapasitas Jong Jawa, akan cukup timpang. Menurut buku “Majapahit Peradaban Maritim”, Jung Jawa memiliki ukuran 4 hingga 5 kali lipat Kapal Flor de La Mar. Jung Jawa memiliki panjang 300-400 meter. Sehingga jika dibandingkan dengan kapal milik Cheng Ho yang hanya memiliki panjang 138 meter, Jung Jawa jauh lebih besar dan setara dengan bahtera atau kapal induk di masa sekarang” ujar Sujarwo.

“Jung jika diartikan dalam bahasa Jawa Kuno berarti kapal. “Sujarwo & Partners” ini saya ibaratkan kapal besar yang di dalamnya di naiki oleh para pengacara sebagai Pilar-pilar Penegak Keadilan dengan muatan gunungan.

Gunungan dalam pewayangan adalah figur khusus berbentuk gambar gunung beserta isinya.
Gunung memiliki banyak fungsi di dalamnya terdapat banyak penggambaran yang berbeda-beda pada dua sisinya. Pada salah satu sisi, di bagian bawah terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai, melambangkan pintu gerbang istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kehidupan (kalpataru) yang dibelit oleh seekor ular naga. Pada cabang pohon digambarkan beberapa binatang hutan, seperti harimau, gajah, kera, dan burung.
Secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara, kelestarian alam harus tetap terjaga. Kalau hutan rusak berarti alam ini akan ikut rusak” ujar Sujarwo.

Intinya gunungan melambangkan keadaan alam, kehidupan di dunia beserta isinya.
Semuanya memiliki hak hidup, sejahtera berkeadilan” tandas Sujarwo menegaskan.

“Dari uraian saya tadi menginspirasi pelukis nya, Bambang Suroboyo untuk melukis yang diberi judul “Jung, Bahtera Keadilan” (2019) spesifikasi karya. Media: Cat Air diatas kanvas. Ukuran 100 Cm X 65 Cm. Karya adaptasi dari Kain Pelepai Lampung.

Pelepai adalah kain kapal yang dipakai sebagai hiasan dinding untuk acara adat. Umumnya kain Pelepai hanya dimiliki oleh sesepuh adat.

Motif kapal Lampung juga diartikan sebuah lambang perjalanan hidup manusia sejak dari lahir sampai saat menutup mata selama-lamanya, juga diartikan sebagai perlambang kehidupan manusia yang senantiasa bergerak dari satu titik ke titik tujuan dan memiliki hak kehidupan berkeadilan. Diatur dalam UUD No. 39 tahun 1999 dan UUD pasal 28 A-J.” Tandas Sujarwo mengakhiri perbincangan. [sby]