TRANSLAMPUNG.COM (PANARAGAN)–
Jauh sebelum mengenal peradaban modern. Masyarakat pribumi Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung kala itu, masih sangat kental menggunakan tanaman yang berbentuk lidi raksasa, sering disebut warga pribumi dengan bahasa daerah Lampung, TiQew.

Dari tanaman yang tumbuh dalam area rawa itu, masyarakat Tubaba pada zamannya telah mampu mengolah TiQew menjadi berbagai macam jenis kerajinan. Diantaranya, Tikar, topi, Kecandang (Tas besar) hingga kerajinan lainnya.

Olahan itu juga tidak hanya dilakukan oleh ibu tua semata, namun wanita remaja pun turut dilibatkan untuk membantu mulai dari persiapan pembersihan TiQew, Penumbukan, penjemuran hingga memberi TiQew  warna.

Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit wilayah Indonesia yang notabene berpenduduk Bhineka Tunggal Ika, nyaris melupakan warisan leluhur, tentunya itu tidak luput dari pengaruh zaman modern  budaya barat. 

Meski demikian, pengaruh itu tidak berlaku terhadap Bupati Muda Tubaba Umar Ahmad, yang pemikirannya sangat menjunjung tinggi warisan kebudayaan leluhur hingga tetap melestarikannya.

Pada pembukaan acara yang bertajuk Sharing Time Megalithic Millennium Art, sejak 20 hingga 26 Januari 2020 lalu. Bupati Umar Ahmad berkesempatan secara langsung disaksikan tamu istimewa dari mancanegara melakukan penanaman TiQew di Talang Kappung ST. Agung, Jl. Bawang Betettew, Gn. Katun Tanjungan, Tulang Bawang Udik, Kab. Tulang Bawang Barat, Lampung.

“Tanaman TiQew ini sangat banyak manfaatnya, selain dapat dibuat anyaman tikar, TiQew itu juga bisa difungsikan sebagai sedotan (Pipet). Menurut saya patut kita kembangkan kembali skala besar, dengan maksud mampu dijadikan produk unggulan khas Tubaba, yang otomatis berdampak pada peningkatan ekonomi warga penggiat.” Ungkap Umar, melalui pesan singkatnya terhadap translampung pada (30/1/2020) sekitar pukul 10.38 WIB.

Meskipun keinginannya nya sangat besar, seorang Umar Ahmad bukan lah apa-apa jika tidak ada dukungan dari seluruh lapisan elemen masyarakat Tubaba. Oleh karenanya, dia mengajak warga untuk menyatukan niat, bahu membahu, demi berkembangnya Bumi Ragem Sai Mangi Wawai secara berkelanjutan.

“Warisan leluhur jangan pernah kita lupakan, harus tetap kita lestarikan demi anak cucu kita dimasa mendatang, jika bukan kita siapa lagi.” Imbuhnya (D/R).