PRINGSEWU – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinas P3AP2KB) Kabupaten Pringsewu menggelar workshop penulisan fiksi sebagai bagian dari rangkaian acara peringatan HUT Pringsewu yang ke-11.

Workshop digelar di kampus Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Selasa (18/2/2020) siang atas kerjasama pemkab dengan Koalisi Kependudukan Pringsewu, Kagama Writing Club dan Lamban Sastra Lampung.

Pelatihan yang diikuti siswa SMP, SMA dan mahasiswa di Pringsewu tersebut menghadirkan Koordinator Kagama Writing Club Adolf Ayatullah Indrajaya, Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, Agusri Junaidi dan novelis muda asal Pringsewu, Aditya Yudis.

Acara dibuka oleh Asisten Bidang Ekubang John Drawadi SE, MM, dan dihadiri oleh Rektor Umpri sekaligus Ketua Koalisi Kependudukan Drs Wanawir AM, MM, MPd dan Warek Fatoni MM.

Tampak hadir Sekretaris Dinas Drs Sunargianto MPd dan Kabid Pengendalian Penduduk dan Penggerakan Hani Lina Nadwa, SIP, MIP beserta jajaran staf.

Dalam pelatihan, Aditya memaparkan teknik penulisan dan tips supaya karya penulis bisa diterima masyarakat hingga diterbitkan.

“Bisa mulai dari platform di beberapa aplikasi penulisan. Saat ini banyak novel-novel yang diterbitkan awalnya dirilis di sana dan mendapat respon baik dari pembaca,” urai penulis novel berjudul “Potret” dan beberapa novel lain yang diterbitkan oleh Gramedia, Mizan dan lain-lain penerbit.

Bung dolop –sapaan Adolf– menegaskan kalau menulis merupakan skill yang memiliki teknik dan aturan yang jika dilatih berulang-ulang akan semakin baik penulisannya.

“Menulis bukan (hanya) bakat. Menulis itu skill. Latihan yang tepat akan membuat seorang penulis semakin bagus,” ujarnya.

Di tempat yang sama Agusri juga membacakan puisinya dan mengulas soal teknik penulisan puisi.

“Puisi itu harus menjadi impersonal dan memberi pengaruh kepada orang banyak,” ujar Gusjun, panggilan akrabnya.

Dalam sesi dialog, audiens antusias mengulas teknik penulisan fiksi dan berinteraksi dengan ketiga narasumber.

Mahasiswa Umpri, Faradilla meminta supaya komunitas literasi bisa dibentuk sehingga kegiatan ini memiliki tindak lanjut yang positif. “Kita meminta supaya ada follow-up, semoga pihak kampus dan pemerintah bisa memfasilitasinya,” harap dia. (*/rilis)