TRANSLAMPUNG.COM,PESAWARAN -Legalitas masyarakat adat atau majelis adat harus sesuai dengan peraturan adat agar pemberian gelar adat menjadi sah dan dapat dipertanggungjawabkan serta  masyarakat adat tidak sembarangan memberikan gelar adat kepada siapapun.

Hal ini di ungkapkan oleh Suntan Junjungan Makhga, Farifki Zulkarnain menyikapi pemberian gelar adat  yang di nobatkan kepada M. Nasir sebagai bagian keluarga besar adat Saibatin Bandakh Makhga IV Waylima Buay Khandau Selimau di Lamban balak Kekhatun kebandakhan makhga Waylima IV dengan Gelar/ Adok Dalom Cahya Makhga.

“Kalau menurut aturan yang ada seharusnya pemberian gelar itu harus di musyawarahkan terlebih dahulu dengan Makhga Selimau disetuju atau tidak jangan asal memberikan gelar itu ,”selsalnya.

Lebih lanjut menurut  mantan Anggota Dewan Kabupaten Pesawaran yang juga Pemuka Adat Marga Waylima mengatakan, bahwa untuk  pemberian gelar dengan siapapun sudah selayaknya di lakukan musyawarah terlebih dulu dengan makhga selimau setuju atau tidaknya.

“Setelah ada keputusan adanya musayawarah itu baru dikabarkan dengan punyimbang yang lainnya dengan acara sakral. Dan juga harus mengundang makhga-makhga seperti Makhga badak, Makhga putih, Makhga Sepekhtiwi, seperti ini baru benar,” kata Farifki, Sabtu (17/10/2020).

Ia juga juga menjelaskan bahawa dalam acara pemberian gelar tidak hanya memotong kerbau, Sakralnya adalah pemberian Katil kepada Punyimbang Selimau. 

“Bukan hanya sekedar motong kerbau. Tapi itu ada sakralnya dengan membagi katil dengan punyimbang selimau, Ini cuman empat punyimbang yang hadir, sedangkan yang tidak hadir ada 10 punyimbang, artinya  banyak puyimbang yang tidak setuju dengan pemberian gelar tersebut dari pada yang setuju,” ucapnya.

Dengan adanya hal ini selaku Suntan junjungan Makhga sangat menyangkan pemberian gelar tersebut, dan terkesan dipaksakan 

“Seharusnya Agus Bastian gelar Suntan Bandakh Makhga harus ikuti musyawarah selimau artinya dari surat penolakan untuk hadir diacara tersebut, ya acaranya jangan dilakukan, kalau begini terkesan seperti dipaksakan,” ungkapnya 

Farifki juga menjelaskan bahwa penobatan M. Nasir menjadi Dalom Cahaya Makhga menjadi tidak sah, karena hanya dihadiri oleh empat punyimbang. 

“Ya dari makhga selimau aja cuman empat punyimbang yang hadir, yang 10 gak hadir jadi gak sah kalau menurut saya,” pungkasnya,(ydn).