TRANSLAMPUNG.COM ,PESAWARAN-Selaku bidan desa tugasnya berkewajiban untuk melayani masyarakat dalam hal bidang kesehatan dan dalam bentuk situasi apapun terkait pelayanan kesehatan yang di butuhkan oleh masyarakat di desa yang di tempati dalam menjalankan tugas dan kewajiban guna melayani kesehatan masyarakat.

Namun sangat di sayangkan pelayanan yang dilakukan oleh salah satu bidan desa yang bertugas di Desa Kunyayan Kecamatan Marga Punduh Kabupaten Pesawaran, RR yang telah melakukan dugaan kelalayan dalam penanganan salah satu pasien Ibu hamil,warga Desa  Kunyayan Melda Yanti sehingga  mengakibatkan anak ke dua dari Melda tersebut meninggal dunia saat masih dalam kandungan.

Menurut keterangan Paman Pasien Asropi  bahwa kejadian ini bermula terjadi pada hari Minggu tanggal 14/06/2020 dimana kondisi keponakanya yang sedang mengandung  anak keduanya ini tidak di indahkan oleh RR selaku bidan Desa kunyayan saat dalam kondisi urgent (mendesak ) hendak melahirkan dan miminta surat rujukan dari Bidan desa.

“Melda Yanti inikan,memang dari awal sudah di tangani oleh RR selaku bidan desa dan sudah dilakukan pemeriksaan dan di pastikan pada tanggal 08/06 /2020 harus di lakukan oprasi Cesar, tapi waktu tanggal tersebut bidan desa tidak memberikan rujukan dengan alasan mati lampu dan terkendala signal ,”kata Asropi kepada trnaslampung.com, Senin (15/06/2020).

Dirinya juga mengatakan selain alasan mati lampu lataran tidak memberikan rujukan juga beralasan tidak ada signal untuk melakukan prin surat rujukan ,malah RR menyarankan untuk persalinannya mengunakan jampersal meski dirinya siap membantu, lataran BPJS mandiri milik Melda Yanti tidak terdaptar, padahal keponakanya ini selalu membayar iuran BPJS Mandiri perbulanya.

“Anehnya setelah di tanya dengan RR yang juga selaku Koordinator BPJS Kesehatan  Kecamatan Marga Punduh menyatakan bahwa BPJS Melda Yanti tidak ada datanya ,sehingga Melada Yanti menanyakan langsung Kekantor BPJS Pusat dan pihak BPJS pusat nyatakan Melda Yanti sudah terdaptar, di Kecamatan Marga Punduh,” jelasnya.

Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa kejadian tragis yang menimpa Melda Yanti dan bayinya ini terjadi pada Har Senin tanggal 15/06/2020 kisaran Pukul 05.00 WIB menjelang subuh ,dimana keponakanya ini merasakan bahwa tidak ada respon sang cabang bayi dalam kandungannya,dan oleh pihak kelurga langsung  untuk mendatangi rumah Bidan Desa untuk membantu melakukan pemeriksaan Meda Yanti.

“Tapi entah kenapa RR tidak menghiraukan panggilan kami pahal saya sudah mengetuk pintu rumah beberapa kali baikdari depan dan belakang tidak ada respon dari RR ,malah tetangga depan rumah banyak yang terbangun mendengar hiruk piruk pangilan dari kelurga kami, setelah tidak ada respon dari RR lalu kami sekelurga berinisiatif mendatangi Rumah Kepala Desa untuk meminta bantuan,”tambahnya.

“Setelah berkordinasi dengan kepala desa lalu kepala Desa meminta bantuan Bidan Desa tetangga agar di lakukan pemerikasaan dan segera di rujuk ke rumah bersalin di bandarlampung ,”jelasnya.

Nah,lanjut dia atas rujukan bidan Desa Pekon Ampai Sri Indari ,yang merupak bidan desa tetangga dengan Desa Kunyayan,lalu keponakan kami langsung di lakukan pemerikasaan dan di sarankan untuk ditindak lanjuti kerumah Bersalin Mutiara Purti Bandarlampung untuk di tangani pengoprasian Cesar.

“Saat dilakukan pemeriksaan oleh bidan Sri Indari  bayi dalam kandungan keponakan kami dinyatakan meninggal setelah itu baru di rujukanl ke Rumah bersalin Mutiara  Putri untuk di lakukan oprasi secar ,”kata Asropi kepada translampung.com.

“Cobak kalau bidan desa Kunyayan  cekat dalam melakukan tindakan mungkin nyawa bayi Melda bisa tertolong ,”sesalnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa bukan kali ini saja kelalaian yang di lakukan Bidan Desa Kunyayan RR , karna pernah juga terjadi sebelumnya dengan hal yang sama lataran ketidak tanggapan RI menagani masalah keluhan masyarakat di Desa Kunyan ini.

“Masalah seperti ini sudah kedua kalinya yang pertama alasnya anaknya rewel dan kedua kalinya tidak respo saat di mintai bantuan, jadi kami berharap kepada dinas terkait yakni Dinas Kesehatan Pesawaran agar mengefaluasi kinerja bidan Desa Kunyayan agar tidak  terlulang lagi kejadian seperti ini,”harapnya.

Sementara itu selaku tokoh adat Kecamatan Punduh Pedada yang juga warga kelahiran Desa kunyayan ,Dayat menjelaskan bahwa kejadian tragis menimpa salah satu warga Desa kunyayan,Melda Yanti ,atas kelalayan penangganan yang di lakukan oleh bidan desa RI sebagai contoh pengabidan kepada masyarakat yang kurang sepenuh hati dan selalu mengabaikanya apa yang di butuhkan masyarakat,oleh karna itu dirinya  berharap agar RI di gantikan dengan bidan desa lainya agar kejadian yang sama tidak terulang lagi dan membuat masyarakat Desa Kunyana resah.

“Saya selaku tokoh adat Punduh Pedada serta merasa memiliki Desa Kunyayan merasa miris atas kejadian yang menimpa warga Desa kunyayan Melda Yanti dan berharap  jangan sampai terulang lagi untuk ketiga kalinya,”tegasnya.

Disisi lain selaku korban ,Melda Yanti saat di hubungi bahwa apa yang selama ini terjadi memang benar adanya ,namun juga tidak menghilangkan apa yang sudah di perjuangkan bidan Desa RR Kepada sieinya selama dalam menjalankan kehamilanya.

“Memang selama saya memgandung anak saya banyak yang sudah di bantu beliau tapi yang saya sangat sayangkan kenapa waktu saya meminta surat sujiukan untuk oprasi Cecar sangat sulit medapatkanya cuman beralasan BPJS saya tidak terdapat di Kecamatan Marga Punduh,”kata Melda saat di konfirmasi, Rabu (17/06/2020)

“Selain itu juga waktu kondisi saya Urgent RR, tidak respon cepat memberikan bantuan padahal alasan tidak medengar panggilan dari kelurga sepertinya tidak masuk akal ,”sesalnya. 

Saat di tanya langkah apa yang akan di ambil dalam kejadian ini? Melda Yanti mengatakan bahwa dirinya saat ini masih ingin tahu alasan yang tepat kenapa susah benar dirinya mendapatkan rujukan padahal tanpa rujukan saja pihak Bidan atau pihak puskesmas bisa berkordinasi dengan Dokter yang telah menagani dirinya sewaktu USG.

“Dari kejadian ini saya belum mengambil tidakan apa lagi kemasalah hukum ,tapi kalau ini masuk dalam unsur kelalaian maka akan saya tindak lanjuti keranah hukum ,”jelasnya.

Berdasarkan ungkapanya  yang di tulis oleh Melda Yanti dalam setatus FB sangat terpukul dan merasa sedih lataran bayi yang selama ini di rawat dari seumur anggur hingga waktunya melahirkan ternyata meninggal dalam kandungan, lataran tidak di lakukan tindakan cekat oleh bidan Desa Kunyayan RI.Dan kekeasal dan kesedihanya ini di tuliskan dalam setatus Feacbook atas nama Mamah Quieen.

“Saya sudah banyak kehilangan banyak hal dari kehidupan saya. Tapi hal yang paling menyakitkan kehilangan anak yang sudah saya jaga-jaga  dari sebiji anggur sampai berwujud manusia yang sempurna 

Akhirnya dia pergi dengan cara yang sangat sulit saya terima,” tulisnya dalam satatus fb pada tanggal 15/06/ 2020.

Setatus yang menunjukan kekesalan dan acaman ditulis dalam dinding FB Mamah Queein pada tanggal 14/06/2020 sebagai berikut.

“Be careful ya…

Kasus anak saya bakal naik

Wait n see ya”, tulis Mamah Queein di dinding fb nya.

Saat di konfirmasi melalui sambungan telpon selaku bidan Desa Kunyayan, RR menyatakan bahwa dirinya mengakui kalau Melda Yanti, merupakan pasien yang dia tangani selama ini, dan dalam penangananya RR mengkelim bahwa Melda telah di tanganin sesuai dengan Setandar Oprasional (SOP) dari Dinas Kesehatan.

“Dalam penangan sudah di lakukan sesuai dengan SOP karna sioatnya bukan Urgent melainkan sudah di rencanakan untuk oprasi Cecar ,”jelasnya.

Dirinya menjelaskan bahwa saat kejadian pada hari Senin tersebut dirinya memang tidak mendengar panggilan dari kelurga Melda Yanti, lataran dirinya sedang berada di kamar ,namun saat pagi harinya dia menanyakan kepada tetangga tentang kedatangan Melda.

“Saya juga menanyakan kepada kelurga Melada ternyata Melada sudah di tangani Bidan Desa Pekon Ampai Sri Indari dan dia juga tau Melda merupakan pasien saya lalu oleh nya  di rujuk ke Rumah bersalin Mutiara Putri bandarlampung, dan dari info bidan Sri bahwa bayi melda sudah meminggal lalu di rujuk untuk di lakukan oprasi Secar kisaran Pukul 13.00 WIB telah di lakukan tindakan,”jelasnya.

Lebih lanjut RR juga mengatakan terkait permintaan rujukan dari dirinya oleh Melda dirinya membenarkan namun waktu itu memang sedang mati lampu dan terkendala signal dan dirarakan untuk menunggu serta dirinya menyarankan untuk biyaya cevar mengunakan Jampersal dan dirinya siap membantu , mengingat biyaya persalinan mencapai Rp 15 juta, sementara BPJS mandiri Melda paskesnya masih di jakarta.

“Nah,tanpa sepengetahuan saya Melda datang ke Puskes untuk minta rujukan tapi pihak puskes lagi -lagi  mengatak tidak bisa di rukujuk lataran BPJS Melda pasumnya masih di jakarta,Namun Melada bersihkukuh untuk  mendatangi BPJS pusat yang ada di Rajabasa,”jelansnya.

Setelah itu lanjut RR dirinya berkoodinasi dengan pihak BPJS pesawaran agar BPJS Melda segera di pindah dan sudah di lakukan,namun  BPJS tersebut bisa aktif pada tanggal 1 bulan Juli ini.

“Nah,cobak di bayangkan ibu  hamil dan sudah mau melahirkan malah keluyuran kasana -kesini padah sudah saya sarankan jaga kehamilanya, tentunya berpengaruh terhadap perkembangan bayi yang di kandungnya, makanya waktu mendatangi rumah saya,mungkin dia merasa bayi yang di kandungnya  sudah tidak  bergerak,”jelasnya.

RR juga menegaskan lagi  bahwa kehamilan yang dialami Melda bukan sipatnya Urgent tapi melaninkan sudah di rencanakan untuk dilakukan Secar, namun karna kendala BPJS makanya terjadi seperti ini.

“Semua sudah kita lakukan perencananya dan saya sudah menelpon dokter di GMS tapi Melda nya meminta untuk persalinya di lakukan di Rumah bersalin Mutiara Purti,”kata RR saat di hubungi.

 “Intinya kata RR kalaupun pihak kelurga menuding  masalah ini kelalayan dari saya dan akan membawa keranah hukum  saya siap sampai dimanapun karna kalau masalah hukum saya ada beking dengan Pangkat AKBP karna masalah ini sudah saya lakukan sesuai dengan SOP dan ada aemua rekam medisnya ,”tantangnya.

Selaku Kepala Desa Kunyayan Octa Resvita S.membenarkan adanya kejadian ini,dan  dirinya menjelaskan bahwa RR merupakan salah satu koordinator BPJS kesehatan di Kecamatan Marga Punduh ,berhubung karna tidak adanya bidan desa di Desa  kenyayan makanya  RR melaksanakan tugas tersebut.

“RR ini kurang lebih 8 tahun mengabdi di Desa Kunyayan dan baru dua tahun ini menjadi warga Desa Kunyayan,dan membangun rumah disini dan memjadi bidan Desa Kunyayan ,”jelas Octa.

Dirinya membenarkan bahwa pihak kelurga Melda Yanti pada waktu Hari Minggu menjelang Subuh datang ke kediamanya dan meminta bantuan dirinya lataran bidan desa Kunyayan tidak bisa di hubungi, lalu dirinya melakukan koordinasi kepada  bidan desa Pekon Ampai Sri indari (Umban) untuk di lakukan tindakan,setelah itu baru dilakukan rujukan ke Rumah bersalin Mutiara Putri Bandarlampung untuk di lakukan oprasi Cecar meskipun Bayi dalam kandungan sudah dinyatakan meningal dalam kandungan.

“Intinya saya selaku Kades sudah melakukan upaya untuk membantu,,kalaupun ada ketidak puasan dari pihak korban itu hak nya untuk melakukan jalur hukum,tapi saya sarankan agar penyelesayan ini di lakukan secara kekeluargaan ,”pungkasnya (ydn).