KORBAN PERAMPOKAN PALSU: Polisi memeriksa Zainal (32) yang menjadi tersangka rekayasa drama perampokan Rp100 juta terhadap dirinya, dan rekannya Darsono (41) yang karena kasihan, membantu Zainal. (Foto: DOK POLSEK SUMBEREJO)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Zainal Muhktar Arif (32), menciptakan sebuah drama perampokan seperti film ber-genre crime. Warga Pekon Argomulyo, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus itu, ibarat seorang sutradara sekaligus tokoh protagonis dalam skenario buatannya. Ia harus kehilangan uang tunai Rp100 juta. Lantaran menjadi korban tindak pidana pencurian dengan kekerasan di rumahnya sendiri.

Zainal memutar otak sedemikian rupa. Bahkan sampai tercetus ide membuat drama aksi curas dengan kerugian Rp100 juta yang menimpa dirinya. Dia menipu mentah-mentah istri dan keluarga besarnya, termasuk mengelabui Polsek Sumberejo. Ironisnya itu semua ia lakukan, semata-mata hanya untuk menghindari membayar utang-utangnya. Bahkan juga demi mendapatkan simpati dari para tetangganya serta para debitur. Karakter protagonis Zainal ternyata hanya sebuah kedok peran antagonisnya.

Skenario curas dengan kerugian Rp100 juta itu, dimulai oleh Zainal di rumahnya, pada Kamis (2/7/2020) pagi hingga adegan “klimaks” sekitar pukul 14.00 WIB. Demi kelancaran drama itu, Zainal memastikan istrinya, Suryani (30), tidak berada di rumah. Dalam drama ini, Zainal tak sendirian. Ia dibantu seorang rekannya yang menjadi “pemeran pembantu”. Yaitu Darsono (41), masih satu pekon dengannya.

Kapolsek Sumberejo, AKP Takarinto menjelaskan, hampir semua “scene” ditata dengan cantik oleh Zainal. Mulai dari Zainal berangkat menuju Bank BRI Kecamatan Sumberejo untuk mengambil sejumlah uang — yang diklaim sebesar Rp100 juta. Kemudian membawa pulang uang tersebut ke rumahnya.

“Setibanya di rumah, Zainal memastikan istrinya (Suryani — yang kemudian menjadi pelapor ke Polsek Sumberejo), tidak ada di rumah. Barulah Zainal menghubungi Darsono dan dimulailah drama curas itu. Itu semua akhirnya terungkap adalah rekayasa Zainal, setelah kami melakukan pemeriksaan mendalam pada dirinya, Darsono, kemudian para saksi di sekitar TKP,” ujar Takarinto, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Oni Prasetya, S.I.K.

Adegan dalam drama itu, sungguh meyakinkan. Sebab Zainal mengalami luka tusuk senjata tajam sedalam 3 cm pada dada kanannya. Belakangan diketahui, Zainal-lah yang menusuk dadanya sendiri. Sebab sang pemeran pembantu, Darsono, menolak melakukan adegan itu. Adegan menusuk dada sendiri, tidak berlangsung mulus. Zainal harus mencobanya beberapa kali.

Akhirnya — dengan tekat demi meyakinkan semua orang — Zainal berhasil mengabaikan rasa sakit. Ujung pisau berhasil menembus dada kanannya. Darah segar pun mengucur deras. Saat itulah, Zainal memberi isyarat pada Darsono, agar segera mengambil tas hitam berisi uang dan pergi meninggalkan lokasi.

Setelah pemeran pembantu pergi dari TKP, Zainal menjerit untuk menarik perhatian tetangga sekitar. Mendengar teriakan suaminya, Suryani yang sedang berada di rumah tetangganya, lari tunggang-langgang menuju rumah. Bak disambar petir siang bolong, Suryani terperangah melihat suaminya bersimbah darah. Kontan ia menjerit meminta pertolongan warga.

Sejurus kemudian, persis seperti rencana Zainal, para tetangganya berduyun-duyun mendatangi rumahnya dan memberikan pertolongan. Zainal pun dilarikan ke rumah sakit. Sebab darah terus mengalir dari luka tusuk di dadanya.

Menerima informasi dugaan tindak pidana curas, petugas Polsek Sumberejo segera mendatangi dan mensterilkan TKP. Polisi juga mengamankan sebilah pisau sepanjang 10 cm bergagang kayu.

“Anggota pun juga bergerak ke rumah sakit tempat Zainal dirawat. Sejumlah pertanyaan dilontarkan pada Zainal. Ia awalnya mengaku baru saja mengambil uang Rp100 juta dari Bank BRI Sumberejo. Lalu saat ia tiba di rumah, pelaku datang, menusuk dadanya, kemudian membawa kabur uang tersebut. Itu kata Zainal pada kami,” ujar Kapolsek Sumberejo.

Lantaran suaminya (Zainal) sedang dirawat di rumah sakit, Suryani yang akhirnya menjadi pelapor ke Polsek Sumberejo. Laporan diterima polisi, dengan Nomor: LP/B-117/VII/2020/LPG/RES.TGMS/SEK Sumber, tertanggal 2 Juli 2020.

Ini Kejanggalan yang Ditemukan Polisi

ATAS laporan istri Zainal, Suryani, polisi segera membentuk tim gabungan untuk mengungkap perkara ini. Tim gabungan terdiri dari personel Polsek Sumberejo dan personel TEKAB 308 Satreskrim Polres Tanggamus.

Tim gabungan memulai penyelidikan di TKP, yaitu rumah Zainal. Kemudian sekitar TKP, yaitu para tetangga Zainal serta pihak BRI Sumberejo. Dari sinilah, polisi mulai menemukan beberapa kejanggalan.

Para tetangga yang dimintai keterangan oleh polisi, mengungkapkan bahwa sepeda motor Honda BeAT yang diduga milik Darsono, terparkir cukup lama di depan rumah Zainal. Sementara sama sekali tak terdengar suara gaduh perkelahian antara korban dengan pelaku perampokan.

“Belum lagi hasil penyelidikan ke pihak bank. Tim gabungan mendapati bahwa Zainal ternyata hanya mengambil uang Rp800 ribu. Bukan Rp100 juta seperti pengakuan Zainal. Fakta-fakta itu yang menjadi dasar kuat, bahwa perkara curas ini adalah rekayasa si korban sendiri. Akhirnya tim gabungan memfokuskan penyelidikan pada Zainal,” ujar Kapolsek Sumberejo, AKP Takarinto.

Berkat kepiawaian tim gabungan polisi, dalam rangkaian penyelidikan, akhirnya Zainal mengakui semua perbuatannya. Yaitu sengaja merekayasa aksi perampokan yang menimpa dirinya. Bahkan jumlah kerugian material pun sengaja Zainal bengkakkan, dari Rp800 ribu menjadi Rp100 juta.

Aksi Zainal ini, awalnya sukses menipu mentah-mentah istrinya, Suryani dan seluruh keluar besar serta masyarakat Pekon Argomulyo. Namun kini tabir rekayasa itu sudah tersingkap. Sehingga, polisi berbalik menetapkan Zainal serta Darsono sebagai tersangka pembuat laporan palsu. Barang bukti yang diamankan yaitu sebilah pisau, satu unit sepeda motor Honda BeAT, satu buah tas warna hitam, dan uang tunai Rp800 ribu.

“Akibat ulahnya merekayasa sebuah peristiwa curas, Zainal terancam dijerat Pasal 242 subsider Pasal 220 KUHPidana tentang Pengaduan atau Laporan Palsu. Dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara,” tegas kapolsek.

Niat Darsono Murni Membantu Zainal Berujung Bui

DARI drama perampokan rekayasa Zainal ini, Darsono yang merasa kasihan pada Zainal ikut kena getahnya. Dia terancam ikut dibui bersama Zainal. Padahal, Darsono awalnya hanya kasihan dan ingin membantu Zainal.

Kepada petugas, Darsono menyebutkan sempat melarang Zainal membuat drama perampokan ini. Nasehat itu Darsono sampaikan, saat Zainal curhat padanya. Namun Zainal tetap kekeuh pada idenya. Bahkan Zainal mengiming-imingi Darsono, akan memberikan sesuatu.

“Darsono mengaku menolak iming-iming dari Zainal. Tetapi karena kasihan dan murni ingin membantu, Darsono ikhlas membantu Zainal tanpa meminta imbalan. Pun demikian, niat baik Darsono membantu Zainal, harus berujung di meja hijau. Dengan ancaman pasal yang sama seperti Zainal,” tandas Takarinto. (ayp)