REALITAS SOSIAL : MANA DULU TELUR ATAU AYAM

Wendy Melfa

Pengasuh RuDem ( Ruang Demokrasi )

Pengantar
Bangsa ini masih dalam keadaan prihatin (kalau tidak mau dikatakan krisis) yang berkepanjangan akibat pandemi covid-19 yang belum dapat diukur, diprediksi apalagi dipastikan kapan bisa diatasi atau diakhiri hingga merasakan merdeka dan terbebas dari pandemi beserta semua hal yang menyelimutinya, wallahhu alam, kita masih harus bersabar dan tetap tawakal kepada Yang Maha Kuasa, karena belum satupun ilmuan dan ahli bisa memprediksinya kapan pandemi bisa berakhir, bahkan secara statistik kondisinya menunjukkan angka yang semakin memprihatinkan.

Pemerintah juga sebagai pihak yang mempunyai otoritas dan bertanggungjawab mengurus negara ini telah dan masih berupaya untuk bisa mengalami dan keluar dari belenggu pandemi ini, dari upaya yang dikatagorikan sistematis sampai kepada kebijakan yang “trial and error”, cucuk cabut dan kurang konsisten, semua dilakukan sebagai upaya agar bangsa ini bisa mengatasi pandemi ini dengan dengan baik, kita masih ingin percaya itu.

Dari sisi masyarakatpun nampak sudah mulai belajar membiasakan diri untuk mengikuti pola hidup dengan kebiasaan baru, menerapkan protokol kesehatan, walau disana-sini masih harus terus dibina, tapi paling tidak kesadarannya mulai tumbuh seiring perjalanan waktu. Hal waktu jualah yang kemudian membuat problem pandemi semakin dinamis, sejak dideklarasikan sebagai pandemi diawal tahun 2020 sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, bahkan semakin buruk keadaanya, jumlah korban semakin banyak baik yang terpapar, dirawat, bahkan meninggal bahkan eskalasi data perhari semakin menunjukkan angka peningkatan, dan itu tersaji secara terbuka diberbagai media informasi. Problem pandemi yang cukup panjang dari sisi waktu ini juga menyebabkan problem ekonomi dan keuangan yang cukup mengkhawatirkan baik pemerintah juga apalagi rakyat kebanyakan, bahkan sudah dikatakan krisis.

Realitas Sosial, mana dulu telur atau ayam

Dampak pandemi covid-19 dengan berbagai problem yang menyertainya secara nyata menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat bahkan minus akibat perputaran ekonomi global dan masyarakat menurun, penurunan daya beli dan pendapatan, minimnya penyerapan tenaga kerja bahkan disana-sini banyak pengurangan tenaga kerja, angka kemiskinan baru, muncul kerawanan sosial dan lain-lain dampak yang diharapkan. Dari kondisi itu, ada dua hal yang paling mendominasi ruang fikir dan ruang gerak kita yaitu kesehatan dan ekonomi, keduanya harus dijaga dan butuh diselamatkan, keduanya tidak bisa diabaikan, apalagi mengabaikan satu dengan lainnya, sayangnya ketika dilapangan, pada tingkatan implementasi, keduanya terkadang tidak saling kompromi bahkan saling mendahului dengan pendekatan ego sentris untuk akhirnya saling mengabaikan, ini yang menyebabkan bertambahnya keprihatinan kita.

Senin 12 juli kemarin, viral beredar di media sosial cuplikan video yang memvisualkan cek cok mulut yang sengit antara tim gugus tugas covid-19 Bandarlampung dengan seorang pedagang warung kopi pinggir jalan yang menggelar jualannya di jalan Imam Bonjol yang terkena penertiban karena dianggap melewati batas waktu jam buka. Nampak di video itu antara seorang petugas berseragam dengan pedagang kopi “saling” berteriak hebat meski mulut mereka tertutup masker namun intonasi dan kata-kata mereka cukup jelas terdengar, sangking tingginya nada bicara mereka, meskipun diantara mereka ada banyak petugas lainnya. Fenomena yang hampir sama juga pernah penulis lihat bebera hari sebelumnya dari cuplikan video antara pedagang sayur mayur yang menggelar lapak dagangannya di pinggir jalan yang terkena razia petugas karena sebab dagangannya dapat menyebabkan kerumunan di Sumatra Utara.

Hal yang patut kita cermati dari fenomena realitas sosial kedua peristiwa tersebut meskipun pada tempat yang berbeda, bahkan jauh adalah terdapat “kesamaan” alasan yang melatarbelakangi kedua pedagang itu bekerja menggelar dagangannya sampai sanggup melanggar “aturan”, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, sampai ada kata-kata “…. Tangkap saja saya pak, penjarakan saya pak, saya tidak kriminal, saya hanya cari makan untuk makan anak-anak saya, bapak (petugas) tidak pernah memikirkan itu ….” …., fenomena ini membuat penulis prihatin, dan kita semua prihatin. Namun disisi lain, petugas dilapangan yang kelelahan karena banyaknya masyarakat yang harus dibina dihadapi oleh problem klasik terbatas personil, anggaran yang tidak memadai bahkan teman saya yang bertugas menceritakan bahwa tukinnya belum dibayarkan padahal mereka juga harus “menjaga” anggota keluarganya juga dari dampak pandemi ini, juga dapat sebagai pemicu munculnya hal-hal yang tidak diharapkan dalam tugas.

Kedua pihak dalam fenomena itu seakan mewakili pola perilaku pihak yang berorientasi kesehatan, satu lagi yang berorientasi ekonomi. Agar semuanya terjaga dengan baik, maka sebaiknya terbangun iklim yang tidak saling mendahului, keduanya adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan ini. Bila kita masih menggunakan pola pendekatan ego sentris kepentingan salah satu kutub orientasi tersebut, maka sama sulitnya kita mencari jawaban atas pertanyaan “mana lebih dulu antara telur atau ayam ?”.

Tugas Negara yang dijalankan oleh Pemerintah sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 diantaranya adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan seterusnya. Melindungi rakyat dari bahaya ancaman kesehatan akibat pandemi covid-19 adalah tugas negara, memajukan (juga menjaga termasuk menjaga didalamnya) kesejahteraan rakyatnya adalah tugas negara. Pemerintah sebagai representasi organ negara harus “hadir” ditengah-tengah rakyatnya diminta ataupun tidak, karena itu memang menjadi tugas dan tujuan berdirinya suatu negara.

Yang kita butuhkan adalah terbangunnya kesadaran komunal tentang paham dan pentingnya kesehatan yang secara bertahap rakyat terdidik untuk secara mandiri menerapkannya. Dan secara bersamaan dapat menciptakan ruang yang cukup bagi rakyatnya untuk mengupayakan meningkatkan kesejahteraannya juga secara mandiri manakala negara belum cukup mampu untuk secara langsung mensejahterakan karena berbagai kendala.

Ditengah keprihatinan yang masih kita rasakan saat ini, tidak bijak rasanya bila pendekatan ego sentris tugas dan kelembagaan yang kita kedepankan, karena hal itu pasti akan berhadaphadapan dengan keprihatinan yang dirasakan masyarakat sebagai sebuah realitas sosial, dan bila tidak terpelihara dengan baik akan memicu dan menimbulkan kerawanan sosial. Sikap kompromi dan tidak menang sendiri adalah justru hal yang bisa menentramkan. Saatnya kita atasi dan hadapi bersama pandemi covid ini, tidak sedikitpun ada dalam pemikiran bahwa sang anjing akan menempati posisi kafilah, kalaupun anjing menggong-gong itu karena rasa kepeduliannya. Kafilah yang bertanggungjawab dia akan memperhatikan disekitarnya, meskipun ada anjing yang menggong-gong. Semoga kita bersatupadu mengatasi pandemi ini dan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi dan menyelamatkan kita semua, Aamiin.