TRANSLAMPUNG.COM, BLAMBANGAN UMPU – Satreskrim Polres Way Kanan mengungkap pelaku yang diduga melakukan pencabulan dan atau Persetubuhan Anak dibawah umur, di salah satu Mes perusahaan di Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way kanan. Rabu, (09/09/2020).

Kapolres Way Kanan AKBP Binsar Manurung melalui Kasat Reskrim AKP Devi Sujana menjelaskan kronologis kejadian terjadi pada hari selasa tanggal 05 Mei 2020 sekira pukul 11.00 WIB, telah terjadi tindak pidana perbuatan cabul dan atau persetubuhan anak dibawah umur, terangnya.

Semntara itu Ayah korban baru mengetahui pada saat tanggal 06 September 2020 sekira pukul 08.00 WIB, setelah mendapat telpon dari saksi bahwa anak korban berinisial MT (15) telah disetubuhi oleh pelaku inisial FR (22) warga Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan, imbuhnya.

Kemudian ayah korban lalu pergi ke kota bumi Lampung Utara untuk memastikan informasi tersebut dan pada saat bertemu dengan korban, keterangan dari saksi tersebut dibenarkan oleh MT bahwa dirinya telah di setubuhi atau di cabuli bertempat di salah satu mes perusahanaan di Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan, dengan cara di paksa dan dibujuk rayuan pelaku, atas kejadian tersebut orang tua korban pergi ke Polres Way Kanan untuk melaporkan kejadian tersebut agar ditjndak lanjuti, ungkapnya.

Selanjutny kronologis penangkapan tersangka pada hari selasa tanggal 08 September 2020 sekitra pukul 20.00 WIB Unit PPA Satreskrim Polres Way Kanan mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa tersangka sedang berada di jalan dekat kediaman pelaku, jelasnya.

Petugas dari Satreskrim Polres Way Kanan bersama Kanit Reskrim Polsek Pakuan Ratu yang menerima informasi kemudian langsung menuju ke keberadaan pelaku, sekira pukul 22.00 WIB, kemudian langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku tanpa perlawanan selanjutnya dibawa dan diamankan ke Polres Way Kanan untuk dilakukan proses lebih lanjut, tambahnya.

Atas perbuatnya tersebut pelaku dapat dikenakan pasal 81 dan atau pasal 82 UU RI No 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara, pungkasnya. (ardiyansyah)