Beberapa hari lalu, seorang teman yang tinggal di salah satu kota besar di Pulau Jawa kontak saya dari rumahnya. Waktu itu dini hari, di saat banyak orang sedang tidur nyenyak.

Dalam kondisi kesehatannya yang menurun drastis karena Covid-19, batuk yang tiada henti dan muntah-muntah, teman itu minta tolong dicarikan rumah sakit. Ingin segera dirawat.

Sementara suaminya dua hari sebelumnya telah dirawat intensif di salah satu rumah sakit yang terletak di kota kecil. Sekira satu jam naik mobil dari tempat tinggalnya. Suaminya juga kena Covid-19.

Terpaksa dirawat di rumah sakit itu dengan fasilitas kesehatan yang minim karena bersama keluarganya sudah keliling kota tempat tinggalnya, mampir ke banyak rumah sakit namun semuanya penuh. Akhirnya suaminya dibawa keluar kota untuk dirawat.

Beberapa jam kemudian setelah pagi dan terang, saya kontak teman-teman yang memiliki akses ke rumah sakit. Mereka bukan orang sembarangan. Sebagian ada yang mantan pejabat.

Di antaranya ada yang mantan Direktur Jenderal di salah satu Kementerian yang terkait menangani Covid-19. Ada juga mantan Panglima Daerah Militer di provinsi itu. Dengan rendah hati saya minta tolong ke mereka untuk membantu mencarikan satu tempat tidur di rumah sakit buat teman saya itu.

Setelah berusaha kesana-kemari, beberapa jam kemudian mereka kontak saya. Menyampaikan pesan senada. “Mohon maaf Pak Aqua, semua rumah sakit yang saya hubungi penuh. Bahkan banyak calon pasien yang antri ditenda. Jumlahnya mencapai puluhan orang. Saya tidak bisa membantu teman bapak.”

Ada di antara mereka memberikan solusi. Mendatangkan dokter ke rumah teman saya itu. Untuk memeriksa kesehatannya dan memberikan obat.

Membaik secara Drastis
Saya sangat sedih karena tidak bisa membantu teman tersebut. Dalam hati saya berucap, teman itu orang yang sangat berada. Kekayaannya bisa buat membeli rumah sakit.

Ironisnya saat sakit parah, tidak bisa mendapatkan satu tempat tidur buat dirinya. Hartanya yang banyak tidak berarti dibandingkan pertolongan medis yang dibutuhkannya.

Selain rasa sedih tidak bisa menolong teman itu, ada rasa syukur yang mendalam. Sampai hari ini kami sekeluarga mendapat kesehatan yang prima dari TUHAN. Juga bisa kumpul di rumah Bogor.

Sebelum pandemi Covid-19 kami berpisah sehingga disebut KB alias Keluarga Berserakan. Saya dengan kegiatan rutin silaturahim serta Sharing Komunikasi dan Motivasi di berbagai kota. Istri Retno Setiasih bekerja di kantor pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Si sulung Alira Vania Putri Dwipayana menekuni pekerjaannya di Seoul, Korea Selatan. Sementara si bungsu Savero Karamiveta Dwipayana kuliah di Jurusan dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Saya terus memonitor perkembangan kesehatan teman itu. Alhamdulillah membaik menuju kesembuhan.

Saat Sabtu, 10 Juli 2021 saya telepon teman itu suaranya sudah jelas. Dari nadanya terasa bahwa perkembangan kesehatannya membaik secara drastis.

“Makasih banyak Pak Aqua untuk doa dan semua atensinya. Kondisi saya sudah membaik. Masih menunggu hasil tes swab. Hari ini keluar. Semoga negatif,” ujarnya.

Saya mengucapkan, “Aamiin…” Sambil berpesan istirahat dulu sampai sembuh total. Hati dan pikirannya perlu “ditenangkan” dan “diistirahatkan”.

Sehat dan Bahagia
Sambil guyon saya katakan ke teman itu. “Bersyukurlah kesehatannya sudah membaik. Fokus pada penyembuhan total. Tidak usah memikirkan yang berat-berat dulu termasuk mikir bangsa dan negara. Itu sudah ada yang mengurusinya. Ada porsi masing-masing.”

Teman tersebut tertawa mendengarkan pesan saya tersebut. Dia mengatakan melaksanakan pesan saya karena ingin sembuh total. Tidak ingin sakit lagi sebab ngga enak dan rasanya tersiksa sekali.

Juga saya menyampaikan beberapa pesan buat suaminya. Sekaligus sebagai penguatan agar segera sembuh total.

Dari cerita di atas, kita semua yang sehat perlu bersyukur. Sejak pandemi Covid-19 kesehatan terasa sangat penting dan mahal sekali nilainya. Tidak dapat digantikan uang berapapun juga.

Kejadian nyata yang dialami teman saya itu bisa jadi salah satu contohnya. Ketika dia sedang sakit uangnya yang banyak sekali – bisa dipakai untuk beli rumah sakit – tidak mampu “membeli” satu tempat tidur di rumah sakit buat merawat dirinya.

Itu tentunya ironis sekali dan jadi pelajaran berharga buat kita. Semoga kita selalu sehat dan bahagia sehingga bisa menolong mereka yang sedang sakit. Aamiin ya robbal aalamiin…

Dari Bogor saya ucapkan selamat mensyukuri kesehaatan yang prima dan kebahagiaan lahir dan batin. Salam hormat buat keluarga. 14.30 11072021😃<<<

Aqua Dwipayana
Penulis dan Motivator Nasional