Bulir bening air mata tak terasa menggenang di sudut kedua mata Arniati (18 tahun). Mahasiswi semester IV Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram, Nusa Tenggara Barat itu setengah tak percaya membaca jumlah uang yang tertera pada bukti transferan uang pada rekening dirinya. Nilainya bisa untuk dua bulan uang jajannya yang tak mungkin bisa diperolehnya dalam satu waktu.

“Saya menangis saat menerima bukti transfer dari Ayahanda. Jumlahnya besar sekali. Bisa buat jajan saya selama dua bulan. Ayahanda sudah berkenan membantu mewujudkan salah satu impian saya yakni membelikan kacamata buat bapak saya. Terima kasih banyak Ayahanda untuk semua bantuannya,” kata Arniati dalam pesan Whatsapp kepada Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana, Minggu dini hari, 6 Juni 2021.

Perempuan asal Desa Talapiti, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat itu memanggil Dr Aqua dengan “ayahanda”. Padahal, tak sekalipun ia pernah berjumpa secara langsung dengan pria dengan jejaring pertemanan sangat luas dan terlibat dalam banyak aktivitas sosial itu. Namun, sikap Dr Aqua yang sangat antusias, ramah, dan santun membuat Arniati segera menunjukkan penghormatan yang sangat besar.

Ia tak pernah menyangka sedikitpun impiannya membelikan kacamata untuk sang Bapak bisa berwujud nyata. Sejak sekitar tiga tahun lalu, sedikit demi sedikit ia telah berusaha mengumpulkan uang untuk beli kacamata buat Bapaknya, Juwaedin (45 tahun) yang matanya rabun.

Meski sang Bapak yang tinggal bersama Ibunda Arniati, Yanti (41) di desa kelahirannya, tidak pernah minta dibelikan kacamata kepada putrinya itu, tapi nalurinya sebagai anak terpanggil menolong Bapaknya agar penglihatannya bisa membaik. “Walau saya juga sadar, sebagai mahasiswa tak mungkin saya bisa segera mewujudkan impian itu,” ujarnya.

Uang yang sudah dikumpulkannya dalam tiga tahun itu berjumlah Rp 300 ribu. Itu pun terkumpul dengan susah payah. “Uang tabungan saya sering terpakai buat beli buku. Orangtua jarang kirim uang. Saya hanya mengandalkan beasiswa Bidikmisi yang terimanya enam bulan sekali. Jika ada kegiatan kampus saya sering berpartisipasi. Terkadang dapat uang dari aktivitas itu. Juga saya jualan pulsa telepon, listrik, dan lain-lain,” ucap Arniati menguraikan upayanya untuk bisa bangkit memperbaiki kehidupannya.

Arniati menyampaikan apa adanya kondisi dirinya dan keluarganya. Masalah utama adalah kesulitan ekonomi.  “Jika ada kelebihan rejeki, saya selalu mengirimkan ke orangtua di kampung. Meski yang saya lakukan skalanya kecil bahkan mungkin tidak ada artinya, sebagai anak saya ingin membahagiakan mereka dan meringankan beban Bapak dan Ibu,” ujar Arniati.

Selama kuliah per enam bulan sekali Arniati menerima beasiswa Bidikmisi sebesar Rp 3 juta setelah dipotong dengan biaya kuliah dan pembangunan. Uang itu dipakainya buat membayar kamar kos, untuk makan sehari-hari, beli buku dan kebutuhan kuliah lainnya.

Untuk menghemat biaya hidupnya di Mataram,  anak kedua dari tiga bersaudara itu sering membawa kebutuhan sehari-harinya dari kampungnya. Dia pulang kampung minimal sekali dalam setahun karena jaraknya lumayan jauh. Arniati tinggal di Pulau Lombok. Sedangkan orangtuanya menetap di Pulau Sumbawa.

“Buat menghemat pengeluaran, saya sering membawa berbagai kebutuhan dari kampung. Barang-barang itu seperti beras, garam, micin, bawang merah, bawang putih dan sabun cuci. Saya juga bawa jagung yang sudah kering dan nasi basi tapi sudah dikeringkan. Enak untuk makan pas akhir bulan,” katanya lirih.

Arniati merupakan satu-satunya yang kuliah di keluarganya. Abangnya tidak kuliah karena tidak ada biaya. Dia bertekad menuntaskan pendidikannya. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 sehingga dapat memenuhi cita-citanya untuk jadi dosen.

“Sekaligus saya mau menjawab cibiran tetangga yang meremehkan kedua orangtua saya karena menguliahkan anaknya. Mereka tidak ingin anaknya jadi petani penggarap seperti mereka. Nasibnya harus lebih baik dari orangtuanya. Mereka yakin dengan pendidikan maka bisa mengubah kehidupan jadi lebih baik,” tambah Arniati semangat.

Saat komunikasi dini hari itu Dr Aqua meminta nomor rekening Arniati. Begitu dikirimkan, pria yang telah membiayai umrah ratusan orang tersebut langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening Arniati. Kemudian mengirimkan bukti transfernya.

Arniati yang baru kenal beberapa jam dengan sosok yang telah mengumrahkan lebih dari 150 orang dari hasil penjualan buku _super best seller_ karyanya yang berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”, tak menyangka akan mendapatkan keberkahan hari itu. Apalagi jumlahnya lumayan besar bagi dirinya.

Ia meminta izin kepada Dr Aqua untuk mengirimkan semua uang tersebut kepada orangtuanya. Karena Arniati yakin mereka lebih membutuhkannya.

“Jika Ayahanda izinkan, bolehkah saya mengirimkan semua uang itu buat orangtua saya. Soalnya Bapak punya penyakit paru-paru. Uangnya bisa dipakai buat menambah biaya berobat. Alhmdulillah saya masih ada uang sisa beli buku dan uang dari hasil jualan pulsa. Masih bisa digunakan untuk satu bulan ke depan,” lanjut Arniati.

Selama ini Arniati mengatakan belum pernah sekalipun mendapat kebaikan berlipat ganda seperti ini. Makanya selain sangat bersyukur, dia kaget sekali karena sama sekali tidak menyangka bakal memperolehnya.
*Skenario Teramat Indah*
Siapa menyangka impian mahasiswi bertekad baja dan penyayang untuk bisa memberikan persembahan bagi sang Bapak itu bisa tercapai. Tuhan Yang Mahakaya  telah membuat skenario teramat indah bahwa semesta akan mendukung setiap iktikad dan niat kebajikan.

Siapa mengira keikutsertaannya dalam Sharing Komunikasi dan Motivasi bertajuk Rumah Bincang Inspirasi “Memetik Inspirasi dari Sang Pakar Komunikasi” melalui aplikasi zoom, Sabtu, 5 Juni 2021 siang itu kemudian berujung sangat membahagiakan baginya.

Arniati menjadi salah satu dari 150-an mahasiswa yang dalam acara itu mendapatkan sharing dari Dr Aqua Dwipayana yang berbicara “satu layar” dengan putra bungsunya, Savero Karamiveta Dwipayana, yang merupakan Staf Bidang Komunikasi Sosial Politik dan Masyarakat (Komsospolmas) Tim Komunikasi Publik Komite Penanganan Covid-19.

Bermula dari inisiatif Ero, panggilan akrab Savero Karamiveta Dwipayana saat menyampaikan materi sharing secara virtual tersebut. Pada awal pemaparannya dia minta ke seluruh yang hadir untuk menuliskan keinginan mereka.

Para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, antusias melaksanakan permintaan Ero yang juga mahasiswa semester terakhir Jurusan dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi itu.

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana menyimak semua yang disampaikan Ero sambil membaca seluruh pesan yang ditulis para peserta. Penulis buku _super best seller_ Trilogi The Powef of Silaturahim itu kaget dan tertegun ketika membaca pesan dari Arniati. Ia terenyuh dan prihatin sekali.

Pengakuan Arniati mengingatkannya juga pada mendiang sang Ayah yang memberi pesan agar dirinya selaluberbuat kebaikan kepada siapapun termasuk pada orang yang tidak dikenal. Bahkan pada keadaan di mana kita tidak memiliki apa-apa.

Setelah Ero selesai presentasi, Dr Aqua minta ijin ke moderator Rico Juni Artanto untuk bicara. Laki-laki yang hobi silaturahim ini spontan menyatakan siap membantu membelikan kacamata buat Ayahnya Arniati.

“Saya membaca semua pesan yang ditulis para peserta. Saya tertarik dengan yang ditulis Mbak Arniati. Mulia sekali niatnya yaitu sejak tiga tahun lalu menabung untuk membelikan kacamata Bapaknya karena matanya sudah rabun. Insya Allah saya sekeluarga ikut membantu membeli kacamatanya,” ujar Dr Aqua yang disambut penuh suka cita oleh Arniati dan apresiasi yang tinggi dari para peserta.

Di akhir acara sebelum ditutup oleh Rico, Dr Aqua yang merupakan bapaknya Ero mengingatkan Arniati untuk mengontak dirinya buat merealisasikan kacamata untuk Bapaknya. Dia serius sekali ingin mewujudkan itu.  “Mbak Arniati tolong japri saya ya. Insya Allah kacamata buat Bapaknya bisa direalisasikan segera,” ujar laki-laki yang gemar membantu banyak orang termasuk yang belum dikenalnya.

Selesai acara Arniati pun mengirim pesan WA ke Ero. Menceritakan kondisi mata Bapaknya dan tentang perjuangan hidupnya di Mataram sebagaimana terpapar di atas.

“Kak Ero, Bapak saya membutuhkan kacamata untuk orang yang rabun agar bisa melihat dari dekat. Sampai sekarang matanya belum pernah diperiksa karena jarak dari desa tempat kami tinggal ke Kota Bima lumayan jauh. Naik kendaraan waktunya lebih dari satu jam. Selain itu kami tidak punya uang membeli kacamata. Bapak tidak pernah minta belikan kacamata, saya hanya berinisiatif saja buat menyenangkan beliau,” jelas Arniati.

*Penebar Kebajikan*
Penglihatan yang semula buram kini menjadi terang. Juwaedin dan Yanti, warga Dusun Nggaro Nangga, Desa Talapiti, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat itu tidak dapat menyembunyikan rasa syukur dan kegembiraannya.

Pria paruh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani penggarap akhirnya mendapatkan kacamata  — yang bahkan barangkali dalam tidurnya sekalipun tak pernah terimpikan — sehingga kedua matanya yang semula kabur melihat dekat, kini menjadi terang.

Ya, alat bantu penglihatan yang bagi banyak orang sepele tapi bagi seorang petani penggarap miskin di pelosok Nusa Tenggara Barat itu bermakna sangat mendalam, telah tiba di pangkuannya Selasa siang 8 Juni 2021.

Pada Senin malam, 7 Juni 2021 Dr Aqua mengontak teman akrabnya yang menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Setelah menceritakan tentang Arniati dan keluarganya, Dr Aqua minta tolong ke Rizal untuk menugaskan anggotanya di Kodim Bima membantu Juwaedin mendapatkan kacamata.

“Mohon bantuannya Mas Rizal. Semua biayanya insya Allah saya ganti. Saya melakukannya karena simpati sama Arniati yang mau menolong bapaknya yang sudah sejak lama matanya rabun,” ungkap Dr Aqua.

“Siap Uda Aqua. Segera saya aksi. Hasilnya saya laporkan ke Uda Aqua,” jawab Rizal.

Tidak sampai 24 jam, tepatnya Selasa siang, 8 Juni 2021, Dandim 1608/Bima Letkol Inf Teuku Mustafa Kamal lewat Dan Unit Pasi Intel Letda Inf Husein menugaskan Bintara Pelatih Unit Intel Serma Arif Budiarso dan anggotanya Sertu Muhtar untuk menjemput Juwaedin ke rumahnya. Kemudian dibawa ke toko kacamata di Kota Bima buat mendapatkan kacamata yang dibutuhkannya.

Perjalanan dari Kota Bima ke rumah Juwaedin pergi dan pulang sekitar 3,5 jam. Istrinya, Yanti menemani ke toko kacamata. Hari itu juga kacamata yang dibutuhkannya didapatkan dan langsung dipakai Juwaedin. Sejak itu penglihatannya kembali terang.

Dr Aqua dan Ero gembira sekali karena bantuan mereka langsung dirasakan manfaatnya oleh Juwaedin. Kemudian Dr Aqua telepon Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani untuk mengucapkan terima kasih.  “Siap Uda Aqua. Aman semuanya. Kawan-kawan di Kodim Bima yang melaksanakannya. Saya minta tolong ke mereka,” respon Rizal yang rendah hati.

Selasa sore Arniati kirim WA ke Dr Aqua. Mengabarkan Bapaknya sudah mendapat kacamata yang dibutuhkannya. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore Ayahanda. Bagaimana kabarnya? Semoga sekeluarga sehat selalu. Berkat bantuan Ayahanda, alhamdulillah hari ini Bapak saya sudah dapat kacamata. Beliau dan Ibu saya sangat bersyukur dan senang sekali karena sekarang mata Bapak sudah bisa melihat dengan jelas. Terima kasih banyak Ayahanda dan Kak Ero atas semua bantuannya kepada keluarga kami…”

Setelah mengirimkan WA itu, Arniati juga kirim foto Bapaknya sedang duduk sambil memakai kacamata barunya. Kondisinya jauh berbeda sebelum pakai kacamata.

Arniati kini semakin yakin dan optimis dengan cita-cita kuat mengubah kehidupan diri dan keluarganya. Ia juga meyakini masih terdapat sosok-sosok penebar kebajikan yang tak lekang memberikan inspirasi dan teladan nyata dalam kehidupan.***

Dr. Aqua Dwipayana, motivator dan penulis nasional