Jurusan Kehutanan Universitas Lampung menggelar Bedah Buku Catatan Wisata Intelektual 2005-2020 karya Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat, 1 Mei 2020 secara virtual. Bedah buku diikuti oleh 382 peserta yang berasal seluruh Indonesia dan juga peserta dari Australia, Brunei Darussalam, India dan Jepang.
Buku Catatan Wisata Inteletual 2005-2020 cukup tebal mencapai 464 halaman dengan 81 sub judul, dibahas oleh Sugeng P. Harianto, Guru Besar Kehutanan Universitas Lampung, jelas Bainah Sari Dewi, Moderator Bedah Buku. Dalam bahasannya, Prof Sugeng mengapresiasi penulis yang saat ini menduduki jabatan tertinggi ASN masih mendidikasikan pengalaman lapangan dan pemikirannya melalui tulisan. Buku yang isinya mencakup kepemimpinan dan manajerial, filosofi, pengelolaan kawasan konservasi, perhutanan sosial, serta inovasi dan gagasan baru.
Dalam sub judul awalnya Menggali Sepuluh Butir Falsafah Jawa: Menemukan Jati Diri Kelola Kawasan Konservasi, penulis menjelaskan tahun 2004, menuliskan tentang pentingnya pembaca mendalami kembali Hasta Brata, bagian kecil dari buku Nakhoda: Leadership dalam Organisasi Konservasi, sebagai bekal agar kita menjadi insan Kamil, bekal menjadi pemimpin. Boleh dikatakan Hasta Brata itu suatu filosofi hidup yang berhasil oleh Ranggawarsita, pujangga terakhir Kraton Surakarta. Hampir 16 tahun kemudian, di tahun 2020 yang ditandai dengan meluasnya pandemi Covic-19 di seluruh dunia, penulis mendapatkan pencerahan dari orang yang masih muda. Dalam kesempatan tersebut, penulis kembali disadarkan akan filosofi mengurus alam ini, khususnya kawasan konservasi, yaitu sepuluh tahapan hidup dalam filosofi orang Jawa. Kesepuluh tahapan tersebut adalah: (1) Maskumambang, (2) Mijil, (3) Sinom, (4) Kinanthi, (5) Asmarandana, (6) Gambuh, (7) Dhandhanggula, (8) Durmo, (9) Pangkur, dan (10) Megatruh.
Dalam tahapan ke-7 Dhandhanggula, dijelaskan sukses kelola kawasan konservasi harus dicarikan ukurannya, antara keseimbangan keberhasilan menjaga nilai ekologi dan lingkungannya dengan manfaatnya secara nyata bagi masyarakat di sekitarnya dan publik serta masyarakat dunia. Apa yang di-rasa-kan baik oleh pengelola kawasan konservasi dan masyarakat di sekitarnya yang telah beberapa generasi berhubungan, bersentuhan, dan seolah-olah hidup menyatu dengan alam yang saat ini bernama kawasan konservasi.
Yang utama, selain kepentingan ekonomi, adalah lahir dan tumbuhnya kesadaran individu, kelompok, dan komunitas masyarakat tentang pentingnya menjaga alam, memanfaatkan secara berhati-hati dan bijaksana, dan bersama-sama pemerintah melakukan aksi-aksi kolektif tersebut. Hasilnya adalah bagaimana kita mau dan mampu berbagi ruang hidup dengan makhluk ciptaan Tuhan di dalam hutan-hutan dan lautan itu. Diperlukan kedewasaan dan sikap hidup yang benar terhadap alam. Akhirnya mereka menyadari bahwa mereka hanya bagian dari komponen alam, bukan penguasa alam.


Di bagian lain pada sub judul, “Konservasi Berkeadilan untuk Alam dan Masyarakat”, penulis menjelaskan kawasan konservasi seluas 27,14 juta hektar yang tersebar di seluruh tanah air, ditunjuk dan ditetapkan untuk memberikan perlindungan keragaman hayati di berbagai tingkat dan ragam tipe ekosistem. Kawasan konservasi tersebut, dikelilingi oleh lebih dari enam ribu desa dan juga adanya masyarakat hukum adat. Ketergantungan secara ekonomi dan ekologi masyarakat terhadap kawasan konservasi nyata dan oleh karena itu maka telah banyak dilakukan analisis valuasi ekonomi. Terbukti, dari nilai air saja luar biasa besarnya. Di Taman Nasional Gunung Merapi, banyak desa tergantung pada rumput untuk memberikan makanan pada ternaknya. Di taman nasional lainnya, seperti di TN Betung Kerihun Danau Sentarum, masyarakat hidup dari memanen madu hutan. Di TN Gunung Leuser, terdapat obyek wisata alam terkenal Tangkahan.
Penulis mengingatkan, Spirit 5K, spirit yang terus didorong untuk menjadi semangat dalam menempatkan masyarakat sekitar atau di dalam kawasan konservasi sebagai subyek, sebagaimana dimandatkan dalam Sepuluh Cara (Baru) Kelola Kawasan Konservasi”, adalah Spirit 5K, yaitu (1) Kepedulian, (2) Keberpihakan, (3) Kepeloporan, (4) Konsistensi, dan (5) Kepemimpinan. Kesemua hal tersebut, sebenarnya menjadi sifat utama para pemimpin. Maka, hanya dengan kepemimpinan yang berintegritas saja, keempat K tersebut dapat dilakukan dan menjadi marwah dari kita semua, manusia manusia yang peduli pada alam dan mereka yang hidupnya masih sangat tergantung pada alam tersebut.
Dalam sesi diskusi yang sangat interaktif, Wiratno yang pernah menapaki jenjang dari terendah hingga mencapai jabatan tertinggi di Departemen Kehutanan hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dari penugasan di ujung barat hingga timur Indonesia, menjawab dengan lugas bahkan menyampaikan hal-hal yang sangat pribadi, dimana penulis pernah dalam posisi yang sangat sulit di lapangan dan terpisah dengan keluarga. Pengalaman spiritual penulis disampaikan mengalir, sehingga dengan mudah diterima peserta. Penulis juga mengingatkan bahwa kita merupakan tamu di alam, bukan penguasa alam, karenanya hidup harus berbagi ruang dengan seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan Sang Khalik, pungkas Wiratno.