TRANSLAMPUNG.COM  (PANARAGAN)–
Mantap wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri berharap kepada seluruh Masyarakat se Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) dapat mendukung berbagai program Bupati Umar Ahmad, membangun kota berbasis ekologi.

Hal tersebut diungkapkan saat Bachtiar Basri menghadiri Pembukaan acara Sharing Time Megalithic Millenium Art, di Tiyuh (Desa) Panaragan Uluan Nughik, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tubaba pada (22/1/2020) sekitar pukul 08.00 WIB.

Selain Bupati Umar Ahmad.Sp, tampak hadir Wakil Bupati Fauzi Hasan.SE.MM, Unsur Forkopimda Tubaba, Dandim 0412/LU letkol Inf Krisna Pribudi, 
Danlanud M.Bunyamin Tuba diwakili Kadisop Kapten POM Adi Firmandadi, Kapolres Tubaba AKBP Hadi Saepul Rahman.S.Ik, Ketua DPRD Tubaba Ponco Nugroho.ST, Pabung Wilayah Tubaba Mayor Inf A.Sunarya, Kepala Satker Pemkab Tubaba, Mantan Wagub Lampung Hi.Bachtiar Basri, Budayawan Provinsi Lampung Anshori Jausal, Tamu Undangan dari Mancanegara, diantaranya. Diane Butler (Amerika), Margit Galanter (Amerika), Mara poliak (Amerika), Prances Rosario (Amerika), Bettina mainz (Jerman), Rudolfo mertig (Jerman), Sebastian mainz -mertig Jjerman), Keith miller (Inggris), Alexander Gabe (Indonesia) dan 
Daniel oscar baskoro (Indonesia).

“Saya bangga, ternyata Bupati Tubaba ini sangat penuh ide, dan idenya bagus, menurut saya langka. Dan kepada teman-teman warga Tubaba termasuk saya, ini harus kita dukung penuh, karena jangan hanya melihat saat ini, tapi lihatlah nanti dia pasti akan melegenda.” Ungkap Bachtiar kepada translampung.com dilokasi pada (22/1/2020) pukul 10.00 WIB.

Lanjut dia, dulu dirinya pernah berucap bahwa Tubaba ini adalah daerah Bukan-Bukan, namun nyatanya saat ini justru sudah ada tol, lintasan, dan wisata. Ini luar biasa unik, Jika wisata ini jadi, maka kota Tubaba akan menjadi kota indah dan tujuan.

“Oleh karenanya, saya berpesan moral  kepada masyarakat Tubaba harus dapat mendukung sepenuhnya.” Ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Umar Ahmad menyampaikan, hari ini kita berada di pusara kota Budaya Uluan Nughik  dengan arti Uluan berarti atas terus kemudian Nughik berarti kehidupan kita berada di kota awal dari kehidupan sebuah kota yang diniatkan menjadi kota budaya berbasis ekologi. Tentunya ini juga atas niat dan visi dari Alm Suprapto suryodarmo ingin merespon dari visi besar yang dimiliki Tubaba. Oleh karenanya beliau mengajak seluruh ilmuwan dari seluruh budayawan seluruh seniman yang berasal dari seluruh dunia khususnya yang tergabung dalam kelompok joget Amerta untuk hadir ke tubaba.

“Merespon keinginan kita semua untuk menjadikan tubaba atau khususnya kota ini sebagai Kota budaya yang berbasis ekologi dalam rangka  memperkuat itu semua kita telah menyusun langkah dan strategi yang pertama mungkin ini agak lebih menyentuh kepada wilayah-wilayah yang mitologi dan filosofis bahwa di tempat ini telah lahir sosok makhluk yang secara khusus kami sepakati dengan nama bunian disebut makhluk sosok makhluk yang nantinya akan menjaga pepohonan akan menjaga sumber sumber air yang ada di Tubaba.” Kata Umar.

Mungkin tutur ini nanti akan menjadi skema pembelajaran di sekolah dasar dan sekolah menengah, bahwa dalam konsep-konsep mitologinya orang Lampung tidak mengenal konsep Pandawa kita hanya mengenal konsep Kurawa yakni, orang Lampung mengajarkan kebaikan dengan banyak menyebut hal-hal yang dalam kata keburukan misalnya contoh, orang pagar dewa mengatakan kata duguk, maka kita jangan berbuat buruk,  Kita harus melakukan kebaikan. 

“Rasanya penting kebaikan itu harus kita sebarluaskan kepada orang lain sehingga kebaikan yang kita tanam ini bisa benar-benar meluas di tanah yang kita cita-citakan ini oleh karenanya sekali lagi sharing time megalitikum Ini adalah sebuah gagasan yang digagas hasil diskusi dengan almarhum Bapak Suryodarmo yang ketika itu beliau meresponnya dengan sangat cepat dan bahkan sampai pada titik beliau menentukan ada satu titik yang mesti digagas di Tulangbawang Barat.” Jelasnya.

Dalam sharing time ini kita juga ingin memberikan sebuah tanda yang nantinya akan menjadi kenangan untuk masa-masa yang akan datang, kiranya setelah stonehenge 5000 tahun yang lalu rasanya manusia jarang menggagas tempat-tempat yang bersifat megalitikum.  Oleh karenanya kita ingin menandai relasi hubungan manusia dengan alam ini dengan sebuah tanda yang kita tempatkan di sebuah konsep mitologi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam, menjaga pepohonan, menjaga sumber-sumber air, menjadi agar bantaran sungai dan lain sebagainya yang intinya adalah bagaimana menjaga hubungan relasi manusia dengan alam untuk sebuah kelestarian alam semesta.

“Mohon dukungan kepada seluruh warga masyarakat agar kiranya ini bisa benar-benar menghasilkan sebuah pemikiran yang berguna khususnya untuk Tubaba dan bagi alam semesta yang kita cintai ini.” Imbuhnya (ADV).