Oleh Surya Burhanuddin

Persahabatan saya dengan Dr Aqua Dwipayana relatif baru. Meski begitu, semakin saya tahu banyak tentang Pak Aqua, makin saya baca buku-buku dan tulisan-tulisan bapak, saya tambah terpesona. Saya semakin mengagumi bapak. Saya merasa beruntung dapat berkenalan dengan bapak sekeluarga. Hal itu membuat saya kehilangan kata-kata, kecuali menyatakan luar biasa untuk semua itu.

Makin sempit waktu yang tersedia dalam padatnya kesibukan, semakin banyak tekanan nyata kehidupan di saat pandemi Covid-19 yang menghantui manusia sejagat raya ini, namun bagaimana mungkin justru Pak Aqua makin mampu menghasilkan karya yang bertubi-tubi, tulisan-tulisan yang membawa pencerahan, pemikiran positif dan kedamaian. Tindakan nyata kebajikan dan kemanusiaan yang tidak terpikirkan oleh orang lain, kendati mungkin banyak orang lain itu jauh lebih mampu.

Terbukti bahwa mampu saja tidak cukup kalau tidak ada kemauan. Sementara mampu dan mau saja juga belum cukup kalau tidak ada kesempatan dari-NYA. Semuanya bersatu-padu atas ijin TUHAN.

Pak Aqua berhasil mengendalikan rasa mau dan mampu yang bapak miliki untuk kebajikan dan kemanusiaan. juga Pak Aqua bisa membaca kesempatan yang diberikan-NYA untuk berbuat kebaikan, karena untuk melakukan itu tidaklah mudah.

Ketika baru mengenal sosok bapak saat saya berada dalam satu grup di media sosial Forum Minang Maimbau (FMM) saya terkejut dan tertarik sekali dengan tulisan-tulisan pendek yang selalu Pak Aqua posting. Isinya sangat mengena, menyentuh, membuka wawasan, membawa pencerahan, dan rasa damai. Sehingga timbullah rasa ingin kenal langsung dengan sosok bapak.

Potret Kerendahan Hati
Ternyata gayungpun bersambut, entah apa yang menggerakkan, terbuka peluang saya dapat berkomunikasi langsung dengan bapak walau melalui media sosial. Alhamdulillah berlanjut saya dapat kesempatan lebih lagi. Bapak bersedia melakukan perjumpaan ringan di tengah kepadatan dan kesibukan Pak Aqua yang luar biasa. Betul-betul satu potret kerendahan hati yang sangat jarang saya temui.

Wow… ternyata pertemuan pertama di salah satu resto di Jakarta Selatan ini menghabiskan waktu sekitar 5 jam tanpa terasa. Padahal bapak masih harus pulang ke Bogor.

Belum habis saya merasakan aura perjumpaan langsung dengan bapak dalam berbagai dimensi pertemanan, tiba-tiba Pak Aqua muncul di pondok saya di sudut Jakarta Timur. Saya merasa tersanjung dapat kesempatan dikunjungi oleh sosok yang saya kagumi.

Saat itu sayapun mendapat kesempatan untuk berkisah pengalaman 24 tahun ikut menjalankan peran mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberangkatkan ratusan putra-putri generasi muda anak bangsa dari berbagai daerah di Indonesia untuk kuliah program S1, S2, dan S3 ke universitas di luar negeri. Pak Aqua pun berkesempatan menyaksikan informasi-informasi yang tersedia di studio mini sederhana saya ini.

Pertemuan ini bagi saya alhamdulillah banget. Merupakan satu silaturahim yang memberi energi baru yang multi dimensi, yang mendorong saya untuk berfikir dan berbuat lebih luas lagi bagi sesama, kendati usia sudah berada di atas tujuh puluh. Saya menyadari bahwa hidup akan terasa lebih bermakna bila mampu memberi makna bagi kehidupan orang lain.

Tetap Tegar Maju Melangkah Memayungi Banyak Orang
Ternyata perkenalan dan pertemuan ini bukanlah satu kebetulan, karena belakangan baru saya ketahui bahwa jauh sebelum kenal langsung dengan sosok bapak pada awal tahun lalu itu, saya sudah bersahabat dengan Bapak Mustafa Kamal saat di Kuala Lumpur, yang ternyata beliau adalah abang tertua Pak Aqua.

Sementara menantu saya Sugiarto Kasmuri ternyata bekerja di institusi yang sama bahkan di unit kerja yang sama dengan Ibu Retno Setiasih, istri bapak. Ketika saya diundang ke kantor pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk berbagi pengalaman dalam memberangkatkan ratusan putra-putri generasi muda Indonesia dari berbagai daerah buat kuliah program S1, S2, dan S3 ke banyak universitas di luar negeri, di antaranya hadir Ibu Retno.

Juga ketika membaca buku super best seller “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” tertulis nama seseorang yang sangat dekat dengan Bapak. Ternyata adalah teman kuliah saya saat mengikuti Program Studi S2 di Universitas Sriwijaya Palembang tahun 90-an.

Kadang sayapun bertanya apa arti semua ini, satu kebetulankah? Rasanya semua itu hanya boleh terjadi atas ijin dan kehendak-NYA. Saya sangat meyakini hal tersebut.

Semoga Pak Aqua tetap tegar untuk maju melangkah memayungi banyak orang dalam kebajikan dan kedamaian, menghadirkan generasi berikut putri-putra bapak sebagai generasi milenial yang sudah  berkiprah mengikuti jejak ayahanda dalam dimensi kebajikan. Juga agar bapak sekeluarga selalu dalam lindungan ALLAH SWT. Aamiin ya robbal aalamiin…

Salam hormat saya untuk Pak Aqua dan keluarga. 🙏🌺🙏

Penulis adalah Penggagas dan Pendiri Gerakan Kuliah Insan Global Malaysia.