PANARAGAN (translampung.com)– Alokasi bantuan Pupuk Subsidi untuk Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, ditahun 2021 secara keseluruhan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.

Demikian hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Tubaba, Syamsul Komar, didampingi Kepala Bidang PSP dan Penyuluhan, Sutrisno, saat dikonfirmasi translampung.com diruang kerjanya, Selasa (20/4/2021) pukul 10.05 Wib.

Dikatakannya, untuk bantuan Pupuk Subsidi di Kabupaten Tubaba terdapat 5 jenis, dan untuk tahun 2021 ini mendapat Alokasi dari Pemerintah Pusat sebesar 7.984 Ton untuk jenis Urea, 1.981 Ton SP-36, 1.241 Ton ZA, 4.956 Ton NPK, dan terakhir 547 Ton untuk Petroganik.

“Sedangkan di tahun 2020, kita mendapat Urea 7.400 Ton, Sp-36 1.900 Ton, ZA 2.000 Ton, NPK 4.934, Ton dan Petroganik 2.500 Ton. Dari jumlah itu, memang beberapa jenis ada yang mengalami kenaikan dan sebagian lainnya juga ada yang mengalami penurunan.” Terangnya.

Jika dihitung secara keseluruhan, maka bantuan Pupuk Subsidi tahun 2021 ini sebesar 16.709 Ton, yang mana jumlah tersebut mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yang mendapat Alokasi total 18.734 Ton untuk Tubaba.

“Selain itu, pada mekanisme penyaluran tahun ini juga ada perbedaan, dikarenakan masyarakat Petani yang tergabung di Kelompok Petani haruslah terdaftar di Sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) dalam Program Kartu Petani Berjaya (PKPB) terlebih dahulu jika ingin mendapat Subsidi, dan nantinya di Aplikasi tersebut akan ada pemberitahuannya. Dan mengambilnya pun bisa langsung menebus di Kios yang sudah resmi bekerjasama dengan Distributor dengan mengisi Blangko.” Paparnya.

Lanjut dia, sedangkan pada tahun sebelumnya, setiap Kelompok Tani yang mendapat bantuan Subsidi Pupuk itu akan diberitahu oleh penyuluh dan haruslah terlebih dahulu membayar di Bank Lampung, baru kemudian akan diantar oleh Distributor ke Kios untuk kemudian diambil oleh Kelompok.

“Untuk PKPB ini merupakan program dari Gubernur Lampung sebagai upaya penyelesaian permasalahan Pertanian secara terstruktur, sistematis dan terintegrasi melalui pemanfaatan teknologi informasi. Sehingga diharapkan, agar masyarakat yang mendapat memang benar masyarakat Petani dan bantuan Subsidi dapat digunakan sebagaimana mestinya.” Imbuhnya. (D/R)