Oleh:
Christine Wulandari dan Destia Novasari
Program Magister Kehutanan – Universitas Lampung

A
groforestri adalah sistem dan teknologi penggunaan lahan yang dilakukan secara terencana yang menggunakan kombinasi jenis tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu atau rerumputan dan atau peternakan sehingga membentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar tanaman. Pengertian agroforestri tersebut merupakan salah satu pengertian agroforestri yang digunakan oleh International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) yang dituangkan kedalam Buku Pengantar Agroforestri oleh ICRAF. Lebih lanjut, Christine Wulandari, salah satu dosen senior Jurusan Kehutanan Universitas Lampung mengemukakan bahwa agroforestry juga bisa dikombinasikan dengan budidaya lebah madu.

Penggunaan jenis tanaman yang berkombinasi antara tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dalam agroforestri dapat menjadi salah satu solusi dalam mitigasi bencana banjir. Hal ini terjadi karena beragam jenis tanaman yang ada pada sistem agroforestri akan menciptakan beragam tingkatan strata tajuk yang berperan penting dalam proses siklus hidrologi yang dibuktikan dalam hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ary Widiyanto pada tahun 2016 dengan judul penelitian “Agroforestri dan peranannya dalam mempertahankan fungsi hidrologi dan konservasi”. Secara sederhananya, proses siklus hidrologi yang pertama adalah proses penguapan dari air laut dan makhluk hidup, kemudian uap air tersebut akan bergerak oleh tiupan angin menuju daratan, selanjutnya terjadi pembentukan awan, setelah awan terbentuk maka akan terjadi hujan, lalu air hujan tersebut akan mengalir menuju laut kembali.

Tajuk-tajuk tanaman yang beragam dalam sistem agroforestri berperan pada saat terjadinya hujan hingga air kembali ke laut. Apabila dalam suatu lahan terdapat beragam jenis tanaman maka air hujan yang turun tidak akan langsung mengenai tanah, akan tetap jatuh kepermukaan daun pada strata tertinggi terlebih dahulu. Kemudian air hujan tersebut akan perlahan menuju tanah melalui setiap permukaan daun pada setiap tingkatan strata tajuk yang ada. Akibatnya, kecepatan setiap butir air hujan tidak akan merusak struktur tanah sehingga meminimalisir terjadinya aliran permukaan dan air akan dapat masuk kedalam tanah melalui pori-pori tanah dengan baik.

Aliran permukaan pada proses siklus hidrologi air akan langsung mengalir menuju sungai, danau, dan lautan. Air tersebut akan mengangkut bagian-bagian dari tanah sehingga pada saat musim hujan akan terjadi banjir dan kualitas air akan menurut akibat dari peningkatan sedimen tanah. Oleh sebab itu tajuk pada tanaman akan berperan sebagai penahan air hujan yang akan jatuh ke tanah, sehingga air hujan yang sampai ke permukaan tanah akan berkurang dan menyebabkan proses infiltrasi tanah menjadi tepat, kemudian air tersebut akan tersimpan didalam akar-akar tanaman.

Akar-akar tanaman kehutanan dan pertanian memiliki perbedaan. Akar tanaman kehutanan (pohon) memiliki panjang yang lebih dibandingkan tanaman pertanian sehingga akar-akar pohon tersebut mampu menembus kedalam tertentu sehingga berikatan erat dengan butiran-butiran tanah. Hal inilah yang menyebabkan proses pengikatan air menjadi lebih mudah sehingga dapat berperan dalam menampung air dan mencegah terjadinya banjir pada saat musim hujan. Oleh sebab itu sistem agroforestri juga secara otomatis akan dapat menjadi solusi dalam mitigasi bencana banjir.

Bentuk nyata agroforestri yang berperan sebagai pengatur tata air telah dibuktikan di Kecamatan Air Naningan. Menurut keterangan salah satu ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) yang mengaplikasikan sistem agroforestri di Kecamatan Air Naningan tepatnya ketua KTH Tunas Karya mengatakan “sistem agroforestri ini sangat membantu masyarakat terutama dalam mencukupi kebutuhan air untuk masyarakat sekitar hutan pada saat musim kemarau”. Ketua kelompok tani itu juga menceritakan bahwa sebelum para pengelola hutan menggunakan sistem agroforestri, masyarakat mengalami kekeringan terutama pada saat musim kemarau namun setelah adanya sistem agroforestri masyarakat tidak lagi merasakan kekurangan air dan kualitas air yang ada juga menjadi tetap baik. Apa yang terjadi di Kecamatan Air Naningan dapat menjadi salah satu referensi bahwa dengan pengayaan jenis tanaman dalam berbagai stratifikasi tajuk maka akan membantu masyarakat dalam menjaga stabilitas siklus hidrologi air. Saat musim kemarau tidak kekurangan air dan pada saat musim penghujan dapat mencegah terjadinya banjir. Hal penting yang hendaknya ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah adalah pemilihan yang tepat akan kesesuaian jenis tanaman terhadap kondisi di lapangan. Setelah itu juga perlu ada kesesuaian dengan sistem agroforestri secara keseluruhan untuk di wilayah tersebut. Agar terjadi keberlanjutan atau kelestarian siklus hidrologi yang optimal di wilayah tersebut maka perlu dikembangkan kebijakannya sebagai payung pelaksanaan di lapangan. Adanya kelembagaan yang kuat di sisi lembaga masyarakat akan lebih mendukung lagi kelestarian sirkulasi hidrologinya karena ikatan kelembagaan yang baik akan menjadikan masyarakat mempunyai kesadaran yang baik atas kelestarian lingkungannya (Wulandari, 2019). Dengan demikian, 3 (tiga) hal yang perlu untuk dipertimbangkan dalam upaya mitigasi banjir di suatu daerah adalah: kesesuaian sistem agroforestry, kebijakan yang tepat dan kelembagaan masyarakat yang kuat. (*)