Ya Juru Masak Rutan, Ya Pembina Keagamaan Napi

0
121
views
BERDEDIKASI: Choiri setelah melihat kegiatan para napi di Masjid At Taqwa, Rutan Kelas II-B Trenggalek. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK/jpg)

TRANSLAMPUNG.COM, TRENGGALEK- Choiri tercatat bekerja di Rumah Tahanan Kelas II-B Trenggalek. Namun, dia tak hanya menjalankan satu tugas.

AGUS MUHAIMIN, Trenggalek

”Yang paling repot itu kalau pas Ramadhan seperti ini,” ungkap Choiri saat ditemui di tempat kerjanya pada Kamis (8/6). Keterangan tersebut, tampaknya, menjadi hal yang wajar.

Mengingat, banyaknya agenda saat Ramadhan, mulai kegiatan keagamaan hingga santap sahur, membutuhkan persiapan. Apalagi, Choiri menjadi salah seorang yang bertanggung jawab dalam kelancaran kegiatan tersebut.

Pada waktu biasa, kegiatan keagamaan dan masalah dapur menjadi rutinitas yang tidak begitu menyita waktu. Untuk kegiatan keagamaan, selain dari internal rutan sendiri, ada pihak luar yang ikut membantu membina warga binaan Rutan Kelas II-B Trenggalek. Yakni, pihak Kantor Kemenag Trenggalek.

Mereka biasanya datang setiap Selasa dan Jumat. Pembinaan tersebut tidak begitu lama. Paling hanya berkisar dua jam dengan materi yang sifatnya umum atau berbeda-beda. Misalnya, fikih atau materi keagamaan lainnya.

Untuk jadwal makan para penghuni rutan, Choiri bertugas sebagai qualitycontrol. Dia meninjau kondisi bahan makanan yang hendak disantap para warga binaan. Setelah itu, warga binaan sendiri yang mengolah bahan makanan tersebut di bawah pengawasan Choiri.

Namun, Ramadhan ini jauh berbeda. Tidak hanya bertambahnya jumlah kegiatan keagamaan yang harus diikuti para warga binaan, tetapi juga kegiatan di waktu tertentu. Misalnya, waktu sahur dan berbuka yang cukup menguras tenaga Choiri.

Betapa tidak, ratusan warga binaan di rutan membutuhkan makan. Kendati mungkin tidak semua napi menjalankan puasa, rutan tetap menetapkan dua kali jam makan saat Ramadhan. Yakni, saat berbuka dan santap sahur. Ya, Choiri harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan.

”Ya gak apa, wong ya tidak setiap hari, hanya pas Ramadhan,” ucapnya.

Banyaknya kegiatan saat Ramadhan awalnya menjadi hal yang sulit diterima keluarga Choiri. Sebab, sejak pukul 08.00 Choiri harus sampai di kantor hingga pukul 14.30. Dengan catatan, tidak ada kegiatan lain atau ditinggal pulang. Tak jarang, ada beberapa berkas yang menuntut Choiri untuk pulang lebih lama.

Tak berselang lama, dia harus segera kembali ke rutan untuk menyiapkan semua keperluan berbuka puasa. Hal itu dilakoni hingga sekitar pukul 21.30. Yakni, setelah salat tarawih dan tadarus di masjid Rutan Trenggalek. ”Awalnya diprotes (keluarga, Red), tapi lama kelamaan mereka biasa,” terangnya.

Choiri tidak hanya bertugas untuk urusan keagamaan dan perut. Pada hari tertentu, dia harus menghadap layar CPU untuk menginput data pengunjung yang masuk maupun tahanan baru di rutan tersebut. Hal itu sudah biasa dilakoni petugas di Rutan Kelas II-B Trenggalek. Artinya, petugas di lokasi tersebut tidak hanya berfokus di satu tugas, tetapi bisa berubah dan berganti seiring kebutuhan di lembaga pembinaan tersebut.

Selama puluhan tahun bertugas di Rutan Kelas II-B Trenggalek, Choiri mengaku sangat bangga bila upaya pembinaan melalui sisi keagamaan bisa mengubah perilaku warga binaan setelah keluar dari rutan. Hal itu sejalan dengan jerih payah yang dilakukan saat pembinaan.

Choiri harus rela berkeliling kamar setiap hari untuk mengontrol tahanan atau napi yang rewel saat dibina. ”Makanya, kadang ada yang bilang saya ini kereng. Padahal ya tidak,” ujarnya, lantas tersenyum. (jpg)