. . .

Waw..!! Banyak Berdar Gula Merah Oplosan di Kabupaten Pesawaran

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, PESAWARAN – Masyarakat Kabupaten Pesawaran harus berhati- hati jika hendak mengkonsumsi gula merah yang beredar di pasaran saat ini. Pasalnya keberadaan gula merah yang di jual di pasaran saat ini tidak terjamin keaslianya alias asli atau palsu (aspal).

Beredrnya gula merah aspal ini secara kasat mata, tak ada beda antara gula palsu dan gula merah asli. Lantaran dari warna hingga rasa, sama. Bahkan yang lebih parahnya, gula merah palsu ini diproduksi secara massal dan terbuka bahkan dikoordinir melalui UMKM seperti yang dilakukan masyarakat  di Desa Pujo Rahayu, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran.

Berdasar keterangan salah satu warga Pesawaran Budi mengatakan, bahwa awalnya dirinya mendapat laporan dari warga lainya bahwa  ada salah satu induatri rumahan yang memprodulsi gula merah namun limbah yang di hasilkan mencemari lingkungan di sekitar warga sehingga dirinya terjun meninjau lokasi pabrik tersebut.

“Awalnya saya ingin melihat kebenaranya, betul memang ada limbah yang membuat masyarakat sekitar resah setelah saya selidiki ada kegiatan pembuatan gula merah dioplos dengan gula rafinsi atau sering di sebut dengan gula kristal atau gula mentah yang telah mengalami proses pemurnian untuk menghilangkan molase yang di gunakan di industri rumahan tersebut, malah halini berlangsung sudah cukup lama bahkan hasil dari pengoplosan gula merah tersebut mencapai kuintal -kuintal dan sudah banyak  beredar di pasaran khususnya di kabupaten pesawaran”.Kata Budi kepada translampung.com, Senin (11/2/2019).

Dirinya menjelaskan bahwa hampir di seluruh pasar tradisional di Pesawaran gula merah oplosan tersebut sudah banyak beredar pasanya secara kasat mata memang tidak ada bedanya dari rasa maupun warna.

“Ya, tapi ada yang membedakan antara gula merah asli dengan gula merah oplosan ini kalau oplosan ini gulanya agak sedikit lebih keras tidak lembek seperti gula merah pada umumnya,”jelasnya.

Dirinya juga mengatakan berdasarkan hasil temuan di lapangan industri rumahan pembuatan gula merah oplosan ini membuatnya agak lumayan banyak dengan kapasitas besar bisa kwintalan setiap harinya.

“Nah kalau pengakuan dari pekerja pembuat gula ini bahan bakunya seperti gula putih rafinasi itu, atau campuran gula merah ini  dipasok dari salah seorang pengusaha gula dari Dusun Pujosari Desa Mataram Kecamatan Gading Rejo, Pringsewu,” jelasnya.

“Kalau saya lihat ini korbannya konsumen penikmat gula merah. Harapan saya sih dengan mengkonsumsi gula merah agar tidak terkena penyakit gula ini malah sebaliknya. Lantaran gula rafinasi salah satu bahan campuran gula merah tersebut itu kadar gulanya sangat tinggi dan bisa dipastikan membahayakan masyarakat penikmat gula merah, terutama bagi penderita penyakit diabetes,” tegasnya.

Sementara itu berdasarkam hasil infestigasi wartawan translampung.com di kediaman Ngatiman Warga Dusun Pujosari Desa Mataram Kecamatan Gading Rejo Pringsewu, selaku pemasok bahan baku untuk pembuatan gula merah oplosan mengunakan campuran gula rafinasi ini terlihat bayak sekali tumpukan gula merah yang sudah siap beredar kepasaran dan ada beberapa sak gula rafinsai yang ditumpuk di kediaman Ngadiman yang sudah siap untuk dikirim.

Menurut Ngadiman bahwa  apa yang dilakukan masyarakat dan dirinya tersebut lantaran hanya sebatas mencukupi kebutuhan pasar gula merah yang saat ini semakin berkurang di pasaran.

“Saat ini kebutuhan bahan bakunya seperti air nira yang dihasilkan dari pohon kelapa saat ini tidak lagi memadai jadi dengan cara inilah kita bisa memperbanyak dan bisa memenuhi pasaran di masyarakat .

Saat di singgung bahayanya pengunaan gula Rafinasi yang di oplos dengan gula merah ini yang nantinya dinkonsumsi oleh masyarakat ? Ngatiman tidak banyak mengetahui apa bahya yang akan terjadi kalau mengkonsumsi gula merah oplosan ini.

“Yang jelas selama ini belum ada keluhan dari masyarakat yang mengkomsi gula merah ini ,”jelasnya.

Lebih lanjut Ngatiman mengatakan bahwa apa yang dilakukan dirinya bersama warga ini tidak salah dan menyalahi aturan, dirinya berharap kepada pihak pemerintah setempat ada andil disini untuk melakukan sosilisasi tentang bagaimana caranya apa yang telah dilakukan ini tidak salah.

”Kalau kita di sini hanya sebatas untuk mencukupi kebutuhan perut saja, saya maunya ada peran pemerintah disini untuk memberi pembelajaran agar apa yang kami lakukan ini tidak salah, tapi ini yang terjadi malah sebaliknya tidak pernah ada sekali pemberitahuan atau sosialiasi terkait hal ini,” pungkasnya.(ydn).

error: Content is protected !!