. . .

Warga Lempasing Keluhkan Bau Tidak Sedap dan Air Tercemar

image_print

Diduga dari Limbah Gudang Pengolahan Kepiting Rajungan dan Udang

TRASLAMPUG.COM, PESAWARAN – Sebagian warga Desa Lempasing Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Peswaran mengeluh adanya pembuangan limbah oleh salah satu perusahaan pengolah kepiting rajungan dan udang milik PT. Pangan Sumber Inti Laut yang diduga mencemari lingkungan, mulai dari air hingga menimbulkan aroma yang tidak sedap.

Pembuangan limbah yang diduga dilakukan oleh pihak perusahan ini di duga telah mencemari lingkungan karena selain menimbulkan bau yang kurang sedap di sekitar lokasi, limbah ini juga telah mencemari sumur warga yang sehari-harinya dipakai warga untuk mencuci pakaian dan mandi.

“Hampir tiga hari ini sumur yang di pergunakan sebagian warga yang kurang mampu untuk mencuci pakaian dan mandi tidak bisa dipakai lagi karena selain airnya kotor kehitam-hitaman, airnya ini beraroma bau kemungkina akibat adanya pembuangan limah dari perusahan itu,” ungkap salah satu warga yang namanya enggan dipublikasi, Sabtu kemarin (29/9).

Menurut warga tersebut, semenjak adanya perusahan tersebut banyak warga yang mengeluhkan terutama warga yang tinggal di sekitaran perusahan tersebut, karena adanya bau yang tidak sedap dari dalam perusahan ini yang  tercium oleh sebagian warga.

“Kalau mereka (perusahan, red) sedang operasi pasti bau busuk tercium, akibatnya kita yang tinggal disisni terasa terganggu. Bagaimana tidak, waktu pas mau makan bau busuk tercium jadi selera makan jadi terganggu,” ucapnya.

Senada di ungkapkan oleh salah satu pemilik warung makan yang tinggal tidak  jauh dari pembuangan limbah oleh  PT Pangan Sumber Inti Laut yang jaraknya hanya sekitar empat meter dari lokasi pembuang limbah tersebut mengatakan bahwa semenjak berdirinya perusahan tersebut para pelanggan yang hendak makan risih dengan bau yang tidak sedap tercium di lokasi itu.

“Bagaimana tidak pembungan limbah ini tidak di perhatikan oleh pihak perusahaan yang semau-maunya tanpa memperhatikan warga di sekililing karena pihak perusahan ini tidak menyediakan penampungan limbah yang permanent, jadi wajar kalau bau busuk tercium,” jelasnya.

Lebih lanjut Ia juga menjelaskan sudah beberapa kali keluahan warga ini disampaikan kepada pihak perusahaan tapi tidak ada tanggapan yang serius dari pihak perusahan tentang adanya masalah tersebut dan beberapa hari lalu sebagian warga memprotes ke pihak perusahaan lataran sumur yang dipergunakan sebagian warga yang tidak mampu untuk mencuci pakaian dan mandi tercemar sehingga tidak bisa dipergunakan.

“Nah, atas protes sebagain warga ini baru pihak perusahan melakukan penyedotan sumur tersebut, tapi hasilnya masih juga tidak bisa dipakai masih saja tetap airnya hitam dan bau,” ucapnya.

Sementara berdasarkan penelusuran wartawan Trans Lampung di lokasi, Sabtu (29/9) bahwa pembuangan limbah yang dilakukan oleh pihak perusahan ini terkesan tidak memperdulikan lingkunagan warga. Karena pihak perusahan tidak menggunakan penampungan permanen untuk pengelolaan limbah yang dihasilkan dari pengeolahan kepiting rajungan dan udang.

Pembuangan limbah yang dilakukan oleh pihak perusahan ini mengunakan paralon besar yang dipasang dari gudang, lalu disalurkan ke lokasi yang tidak jauh dari lokasi gudang pengolahan yang jaraknya kisaran 50 meter. Namun sayangnya di lokasi pembuangan limbah pihak perusahan ini tidak di buat secara permanen untuk pengolahan limbah, karena keberadaan limbah ini di biarkan begitu saja mengalir. Akibatnya menimbulakan bau busuk yang menyengat di sekiling lokasi ini.

Sementara jarak titik pembuangan limbah dari sumur warga yang tercemar ini kisaran 20 meter, alhasil saat pihak perusahan melakukan penyedotan sumur tersebut meskipun sampai kering masih saja tetap seperti semula sehingga sampai saat ini warga enggan mempergunakanya.

Saat wartawan koran ini medatangi lokasi hendak mengkonfirmasi adanya masalah tersebut ke pihak perusahan, namun tidak ada satupun pimpinan perusahan yang bisa di temui. Hanya ada salah satu security yang berjaga di gudang ini.

“Mau ketemu siapa mas? semua pimpinan sedang keluar kalau mau konfirmasi masalah pencemaran itu ke pak Tri karena dia sebagai manager lapanganya. Lagian pihak perusahan telah menyelesaikanya dengan menyediakan air bersih dan tempat mencuci pakaian di dalam gudang ini,” kata Haidar selaku penjaga di gudang ini.

Sebelumnya wartawan Trans Lampung ini sudah mencoba mengkonfirmasi masalah tersebut ke salah satu manager lapangan yang diketahui bernama Tri Handoko melaui sambungan WhatsAap-nya namun dirinya hanya berjanji akan memberikan keterangan lataran dirinya sedang belum bisa masuk kerja.

“Nanti kalau saya sudah masuk kerja saja mas saya sedang sakit,” jawab Tri melalui Whatsaapnya.

Namun sayang saat wartawan Trans Lampung menayakan siapa yang bisa ditemui dari pihak perusahan untuk konfirmasi masalah tersebut, dirinya tidak ada jawaban malah memblokir WhatsAap wartawan Trans Lampung. (ydn/hkw)

error: Content is protected !!