Usulan Deal, RSUD Batin Mangunang Punya 6 Ambulans

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Rumah Sakit Umum Daerah Batin Mangunang Kotaagung, dalam waktu dekat memiliki enam unit mobil ambulans. Bertambahnya jumlah armada ambulans tersebut, diharapkan berbanding lurus dengan semakin baiknya pelayanan rumah sakit plat merah itu pada masyarakat Tanggamus.

Direktur Utama RSUD Batin Mangunang dr. Yudhi Indarto mengatakan, penambahan dua unit ambulans itu terealisasi setelah usulan kepada Pemerintah Kabupaten dan DPRD Tanggamus, disetujui Pemerintah Pusat.

“Sebelumnya RSUD (Batin Mangunang) ini, baru memiliki empat unit mobil ambulans. Lalu kami usulkan penambahan dua unit lagi pada Pemkab dan DPRD Tanggamus. Alhamdulillah setelah disetujui dan direkomendasikan ke pusat, pusat setuju,” ungkap Yudhi, Kamis (12/7).

Dia menjelaskan, sifat pelayanan mobil ambulans hanya untuk rujukan dan mengantarkan jenazah. Untuk rujukan selama ini, tujuan terjauh adalah mengantarkan pasien ke RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Dengan estimasi ongkos hampir Rp1 juta.

Ongkos yang dibebankan pada pihak pasien itu, untuk menanggung bahan bakar, makan dan minum sopir serta satu perawat, juga untuk setoran ambulans.

“Untuk pemakaian ambulans, memang tidak gratis. Sebab sudah diatur dalam perda. Apabila ingin gratis, maka hapuskan dulu perda biaya ambulans, maka kami akan gratiskan ambulans,” terang Yudhi.

Dia berharap, jumlah total ambulans yang dimiliki RSUD Batin Mangunang akan menjadi salah satu faktor pendukung, tercapainya target Akreditas Paripurna yang saat ini sedang dikejar. Cita-cita itu sebagai upaya lanjutan, dari peningkatan Akreditasi Dasar yang sudah didapatkan tahun ini.

“Untuk rumah sakit akreditasinya hanya dua, yaitu tingkat dasar dan paripurna. Beda dengan puskesmas yang ada empat klasifikasi akreditasi,” jelas Yudhi pada Selasa (10/7) lalu yang sudah diberitakan Trans Lampung.

Meskipun tipe rumah sakit yang dikelolanya hanya tipe C, Yudhi menegaskan, namun target paripurna akan tetap jadi incaran. Sebab selain akan meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit, hal itu pun mengangkat nama daerah. Tentu sebagai daerah yang berstatus kabupaten harus ada rumah sakit yang baik.

“Kami memang menargetkan lulus penilaian Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) yang jadwalnya disurvei akhir tahun ini. Jika lulus dari penilaian, maka masuk 2019 akreditasi sudah naik jadi paripurna,” terang Yudhi.

Ia mengaku memang tidak mudah agar lulus dalam penilaian SNARS tingkat paripurna. Namun belajar dari pengalaman penilaian akreditasi dasar lalu, maka target paripurna dicoba bisa diraih tahun depan. Sebab akreditasi rumah sakit merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh rumah sakit. Khususnya yang berstatus negeri.

“Untuk persiapan sudah dilakukan sejak sekarang, saya sekarang tegas kepada personal rumah sakit, baik tim medis atau non medis. Sebab ini demi kepentingan kita juga,” terang Yudhi.

Ia mengaku, persiapan besar adalah adanya ruang isolasi untuk pasien dengan penyakit yang berbahaya. Saat ini bangunan untuk bakal ruang isolasi memang sudah ada, namun belum tergarap.

“Untuk pembuatan ruangan seperti itu memang butuh dana besar, dan tetap kami buat, sebab saat penilaian nanti pasti ditanyakan,” tandas Yudhi. (ayp)

 

News Reporter