Usia Produktif Bukan Usia Konsumtif

0
648
views

TRANSLAMPUNG.COM, BANDAR LAMPUNG –  PROSES dalam perjalanan karir ekonomi seseorang dikatakan sukses, jika sampai di puncak produktifitas menurun dan kesetabilan keuangannya tidak turun, bahkan cenderung meningkat.

Sehingga seseorang di usia tidak lagi produktif (masa usia pensiun) benar-benar pensiun. Artinya, menikmati kualitas hidup dengan mapan dan sejahtera. Di Indonesia, tidak banyak orang saat ini yang bisa mapan dalam usia pensiun, bahkan di usia yang lemah dalam segala hal masih saja dipaksakan kembali untuk bekerja mencari uang, dalam memenuhi  kebutuhan ekonominya.

Yang lebih bahaya lagi, seseorang yang tidak mempunyai perencanaan keuangan di saat usianya telah pensiun, sementara anak-anaknya masih ada yang sekolah bahkan kuliah, harus membanting tulang bekerja keras dalam menuntut ekonomi di masa yang bukan seharusnya ia lakukan.

Usia produktif banyak orang yang tidak sadar dalam perencanaan keuangan, mungkin mereka menganggap bahwa mereka masih kuat dan masih lama bekerja sementara kebutuhan yang urgent (penting)  belum waktunya memerlukan dana.

Sehingga mereka menunda dalam merencanakan keuangan, dimana tidak terasa waktu terus berjalan, yang pada akhirnya keuangan yang sisa tidak cukup untuk membiayai anak sekolah atau biaya kesehatan saat mereka tidak lagi produktif.

Mari kita analisa sesuatu yang kecil dimana seseorang yang telah bekerja pada usia 25 tahun mengeluarkan biaya konsumsi rokok sampai pensiun di usia 55 tahun.

Jika biaya konsumsi rokok Rp.20.000 (dua puluh ribu) perhari berarti sebulan yang di keluarkan adalah Rp.600.000( enam ratus ribu) sebulan jika di setahunkan menjadi Rp.7.200.000 (tujuh juta rupiah ) bagimana jika 30 tahun dengan tingkat bunga simpanan rata-rata 6% ?. Dapat kita hitung biaya konsumsi rokok yang kecil tadi ternyata tidak murah sebesar Rp. 602.709.025 ( enam ratus dua juta tujuh ratus sembilan ribu dua puluh lima rupiah), angka ini sangat fantastik untuk anggaran sekolah anak atau untuk di putar dalam harta yang produktif sehingga nantinya menjadi tabungan modal di saat usia pensiun.

Ada 3 macam cashflow yang perlu diketahui oleh kita semua ketahui:

Miskin, yakni besarnya pemasukan dan pengeluaran sama. Contoh  pemasukan Rp.5juta, pengeluarannya juga Rp.5juta.

Menengah, yaitu adanya pemasukan dibagi ke dalam pengeluaran konsumtif dan phisik.Contohnya: pemasukan Rp.5juta, pengeluaran konsumit untuk baju, tas, gadget Rp1,5 juta dan pengeluaran phisik untuk membeli makanan Rp.3,5 juta

Kaya adalah  besarnya pemasukan dibagi ke dalam pengeluaran konsumit,phisik dan investasi. Contohnya: pemasukan Rp.5 juta, pengeluaran konsumtif baju, tas, baju Rp.1,5 juta, pengeluaran phisik untuk makanan Rp.2,5juta dan pengeluaran untuk investasi Rp.1 juta.

Mengapa masa produktif sangat berharga? Masa produktif adalah masa dimana Anda masih memiliki kegiatan untuk mendapatkan atau mengumpulkan investasi melalui pekerjaan rutin, misalnya sebagai karyawan, pengusaha atau wiraswasta.

Secara patokan garis umur, usia 50–60 tahun adalah masa menjelang pensiun. Setelah masa pensiun biasanya produktivitas mulai menurun dan Anda sudah tidak lagi bekerja secara penuh.

Masa produktif adalah kategori usia 23 tahun biasanya baru lulus pendidikan S1 dan mendapatkan pekerjaan pertamanya. Dari penghasilan pertama, mulailah untuk bisa mengontrol dan merencanakan tujuan masa depan.

Artinya, Anda mempunyai waktu 32 tahun untuk bekal masa pensiun. Faktor usia akan mempengaruhi keputusan dalam merencanakan keuangan. Artinya pemilihan jenis investasi antara seorang dengan usia 30 tahun tentu jelas akan berbeda dengan usia 50 tahun karena situasi dan kondisi serta tujuan yang ingin dicapai.

Maka mulai saat ini, cukupkah dana, aset ataupun investasi yang Anda miliki untuk membiayai hidup sampai masa pensiun. Perencanaan keuangan yang matang akan memastikan bahwa kita tidak akan hidup menderita secara ekonomi khususnya pada masa sudah tidak lagi produktif.

Oleh karena itu, mulailah merencanakan keuangan sejak saat ini, sejak mendapatkan penghasilan pertama, sejak kita mulai mengenal uang agar masa depan sesuai dengan yang diinginkan dan rencanakan. Berikut kiat merencanakan keuangan di usia muda:

Usia produktif bukan usia konsumtif dalam Perencanaan keuangan yang matang akan membantu anda melewati masa masa ini dengan gemilang yang pada akhirnya mencapai masa pensiun yang membahagiakan.

Langkah merencanakan keuangan di usia muda seperti ;

  1. Bergaya Hidup Sederhana

Jangan besar pasak dari pada tiang ya, artinya pengeluaran tidak melebihi pendapatan. Usahakan menabung 3-10% dari tabungan, akan lebih baik jika bisa lebih.

  1. Tingkatkan Tabungan

Ketika Anda mendapatkan bonus atau uang lebih, alokasikan dana tersebut untuk tabungan pensiun ketimbang membelanjakannya. Hal tersebut akan membantu Anda untuk memiliki hidup yang layak dan makmur saat masa pensiun tiba.

  1. Simpan Dana di Tempat Bervariasi

Cobalah investasikan uang anda dalam produk-produk finansial yang bervariasi, ketimbang hanya satu jenis investasi saja. Misalnya reksa dana, deposito, asuransi, dan sebagainya. Setiap enam bulan, cek tabungan pensiun Anda untuk melihat apakah ada penambahan yang cukup signifikan.

  1. Biaya kebiasaan atau hobi

Hindari kebiasaan atau hobi yang tidak produktif dan menimbulkan biaya terlalu besar apalagi hal itu menjadi rutinitas setiap hari yang terus menimbulkan biaya.

Sebelum Anda belum telat mengambil keputusan segera lah berfikir lebih optimal dalam merencanakan keuangan Anda jangan saja di usia produktif ini Anda menjadikan semua nya dalam ekonomi konsumtif sehingga Anda tidak mempunyai perencanaan keuangan demi masa depan Anda sendiri. (*)