UNESCO Melatih 50 Pemuda Sebagai Pejuang Iklim Youth Leadership Camp for Climate Change 2017

0
602
views

Translampung.com-Kantor UNESCO Jakarta, UN CC:Learn (The One UN Climate Change Learning Partnership) melalui UNITAR (United Nations Institute for Training and Research), bekerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia (TCRPI) telah mengadakan “Youth Leadership Camp for Climate Change 2017” sebagai bagian dari pelaksanaan fase kedua UN CC:Learn proyek Strengthening Human Resources, Learning and Skills Development to Address Climate Change dengan dukungan dari Pemerintah Swiss dan mitra Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pelatihan ini akan berlangsung selama 3 hari sejak hari Jumat hingga Minggu tanggal 24 – 26 Februari 2017 di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Pelatihan dengan peserta 50 pemuda/i terpilih ini bertujuan untuk membekali peserta dengan informasi tentang perubahan iklim, gaya hidup yang harus dilakukan agar lebih rendah karbon, dan keterampilan komunikasi untuk mendukung aksi pengendalian perubahan iklim.

Setelah pelatihan, peserta akan dikukuhkan menjadi Pejuang Iklim dan diwajibkan untuk menerapkan aksi pengendalian perubahan iklim secara langsung di lingkungan sekitarnya. Peserta terbaik akan disponsori oleh UN CC:Learn untuk mengikuti “Tribal Climate Camp 2017” di Amerika Serikat pada tanggal 31 Juli-4 Agustus 2017 yang akan diikuti pemuda-pemudi, kaum profesional pegiat perubahan iklim dan masyarakat adat dari Amerika Serikat dan Kanada.

Eva Juniar Andika, 21 tahun dari Jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu yang juga merupakan Ketua Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia serta penyiar radio UNIB ini berharap agar materi yang disampaikan pada YLCCC 2017 ini dapat menunjang kegiatan komunitasnya nanti.

“Komunitas kami berfokus pada perubahan iklim dan dampaknya bagi Situs Warisan Dunia dan juga bagi perempuan yang tinggal di sekitar hutan. Ketika banyak bencana alam, korban utama adalah perempuan. Sepulang dari sini, saya dan tim bisa menyampaikan penyebab, dampak, dan solusi perubahan iklim bagi masyarakat sekitar. Ini penting sekali untuk dilakukan oleh pemuda terutama kami yang sudah dilatih dan menjadi Pejuang Iklim.”

Prof. Shahbaz Khan, Director of UNESCO Regional Science Bureau for Asia and the Pacific menyatakan bahwa UNESCO mendukung pelibatan pemuda-pemudi dunia termasuk Indonesia untuk menjadi penggiat perubahan iklim, salah satunya dengan turut menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar.

“Indonesia sudah memiliki 11 Cagar Biosfer, 4 Warisan Alam Dunia, 2 Taman Bumi (Geopark) dan daftar ini dapat terus bertambah mengingat kekayaan ekosistem yang dimiliki Indonesia. Pemuda-pemudi Indonesia adalah generasi harapan kami untuk dapat meneruskan upaya pelestarian alam dan upaya adaptasi dalam mendukung Agenda 2030 guna mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG),” kata Prof. Shahbaz Khan, Jum’at (24/2).

Cristina Rekakavas, UN CC:Learn Secretariat, menyampaikan selamat kepada seluruh mahasiswa dan pemuda/i atas partisipasinya dalam acara ini. Acara ini berkontribusi terhadap pelaksanaan National Climate Change Learning Strategy of Indonesia, yang diluncurkan pemerintah Indonesia pada tahun 2013. Dan quot pembinaan pemuda-pemudi merupakan investasi yang penting untuk dilakukan guna dapat mewujudkan masa depan yang berkelanjutan. Upaya tersebut diimplementasikan melalui UN CC:Learn Partnership yang mendukung penuh pemuda-pemudi seluruh dunia untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengatasi perubahan iklim, menghadapi tantangan dan menjajagi kesempatan yang tersedia. Pemuda-pemudi merupakan pemimpin, pengambil keputusan dan konsumen di hari esok. Jadi, mulailah dari sekarang dengan menularkan antusiasme kalian dan berpikir kreatif dan quot,” Cristina Rekakavas.

Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Project Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi pemuda Indonesia untuk mendalami isu perubahan iklim sekaligus belajar bagaimana komunikasi pada masyarakat.

“Pemuda Indonesia merupakan segmen penduduk yang sesuai sekali untuk menjadi pelopor di masyarakat. Mereka punya semangat membara untuk jadi agen perubahan dan punya kemampuan teknologi informasi yang relatif tinggi. Kita harus wadahi itu,” Amanda Katili Niode.

Dalam kegiatan tersebut peserta juga mendapatkan workshop tentang pembuatan film, Ray Nayoan, sineas muda Indonesia yang beberapa kali memproduksi film tentang perubahan iklim menyatakan bahwa perubahan iklim itu isu yang kompleks, sangat menantang untuk disampaikan melalui film. Ray yang menjadi salah satu trainer dalam camp tersebut menambahkan,

“Namun jika berhasil mengemas dengan baik, hasilnya adalah masyarakat jadi lebih mudah mencerna dan harapannya mereka mau mengubah gaya hidup menjadi lebih rendah karbon,” ujar Ray.(*)