Tragis, Pelajar Terbakar di Sekolah saat Ekskul

0
290
views

Terkesan Janggal, Keluarga Lapor Polisi

TRANSLAMPUNG.COM, METRO – Ini peringatan, terutama bagi anak-anak, agar tidak bermain-main dengan api. Jika tidak berhati-hati, bisa terbakar.

Seperti yang dialami Arif Fiko Damarsyah. Akibat kurang waspada, anak berusia 12 tahun siswa kelas VII SMP itu mengalami luka bakar yang cukup parah di sekujur tubuhnya hingga 40 persen. Kini kondisinya dalam keadaan kritis dan dirawat di Ruang ICU (Intensive Care Unit) Rumah Sakit Umum A. Yani, Kota Metro.

Peristiwa nahas itu terjadi di sekolahnya, SMP Negeri 10 Metro. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari keluarga Arif, pelajar tersebut mengalami luka bakar.

Diduga karena terkena semburan api yang dinyalakannya pada kayu bakar bersama teman, saat ingin memasak. Semburan api tersebut muncul dan mengenai korban saat api disiram dengan minyak tanah.

Kejadian itu saat korban mengikuti kegiatan ekjstar kurikuler (ekskul) Pramuka di halaman sekolah tersebut  pada Jumat (27/10) sekira pukul 14.00 WIB.

Meskipun telah menerima sebagai musibah, namun keluarga tetap akan melanjutkan kasus tersebut ke pihak berwajib, untuk mengusut tuntas insiden terbakarnya Arif.

Paman korban, Sunardo akan melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Metro dan mendesak untuk mengusut tuntas dalam kasus yang diduga ada fakor kelalaian, baik dari pihak sekolah maupun warung pedagang minyak tanah.

“Kita bicara logika saja, minyak tanah yang disiram ke kayu lalu dinyalakan korek api bisa menyembur kobaran api sangat hebat, berarti ada dugaan minyak tanah tersebut dicampur (dioplos) dengan bensin (premium),” ujarnya, saat dikonfirmasi, Minggu (29/10).

Sunardo juga menyayangkan atas klarifikasi dari pihak sekolah. Menurut dia, seharusnya pihak sekolah bicara baik-baik dengan mendatangi keluarga Arif, lalu menjelaskan kronologis insiden tersebut.

“Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 10 Metro sepertinya cuek atas musibah yang menimpa anak didiknya. Hingga 50 jam Arif  dirawat di ruang ICU RSU A Yani Kota Metro, pihak sekolah hanya mengutus tiga guru dan kepsek untuk menjenguk,” tukanya.

Senada diungkapkan ayah Arif, Buyung (35). Menurutnya, pihak keluarga hanya bisa tabah dan sabar atas musibah ini.

“Saya sudah menerima dan ikhlas atas musibah yang menimpa putra saya, tetapi pihak sekolah pada saat menjenguk seperti cuek dan lepas tangan atas peristiwa yang menimpa anak didiknya. Kita belum mendapat jawaban dari sekolah secara detail, kemarin saat menjenguk hanya datang terus pulang,” jelasnya.

Oleh karena itulah, pihak keluarga Arif akan melapor ke polisi. Selain itu, juga akan melaporkan kasus ini ke wali kota Metro. Sebab kejadian ini masih dalam koridor ekskul Pramuka di sekolah.

Menurutnya, pemerintah harus peduli dan kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kita, agar ke depan tidak terulang lagi. Pengawasan sekolah, pendamping saat menggelar kegiatan ekskul, harus benar-benar memantau anak didiknya.

“Sebagai orangtua kami tidak minta dihargai. Tapi paling tidak, ada etika seorang kepsek dan dewan guru menjelaskan ke kami sebab anak saya terbakar. Banyak kejanggalan dan lepasnya tanggungjawab sekolah,” ujar Buyung.

Salah satunya, lanjut dia, Arif dalam keadaan kritis tapi diantar ke rumah sakit dengan sepeda motor.

“Apa tidak bisa memberikan penanganan cepat dengan memanggil mobil ambulance. Dari sini saja kami sudah bisa menyimpulkan bahwa pihak sekolah tidak merespons. Ini urusan nyawa orang, tapi dianggap seperti hewan, seenaknya saja. Orangtua mana yang terima diperlakukan seperti itu,” tukas  Buyung kesal.

Arif merupakan putra kedua dari pasangan Buyung dan Handayani (32) Warga 23B Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara Kota Metro.

Buyung mengatakan peristiwa ini aneh dan janggal. Dirinya mendapat kabar anaknya mengalami musibah ini informasi dari pihak tetangga yang kebetulan kerja di RSU A.Yani. Bukan dari pihak sekolah yang tempat Arif menimba ilmu.

“Diketahui pada saat kejadian naas tersebut, Arif diantar rekanya dan salah satu guru naik sepeda motor ke RSU A.Yani, tiba-tiba salah satu guru keluar dan tidak kembali lagi menengok keadaan anak saya. Sudah hampir 24 jam lebih Arif belum juga sadar, kata dokter kondisinya kritis,” ungkapanya, Sabtu (28/10) malam.

Sementara itu, Sunardo paman korban mengaku sudah mencoba mengklarifikasi ke pihak sekolah. Bukannya mendapat tanggapan dengan baik korologis kejadian sebab keponakannya terbakar, pihak sekolah malah menyalahkan Arif dan teman-temannya, karena belum waktunya memasak, tapi mereka menyalakan kayu bakar untuk memasak.

“Jadi gini mas informasi ini masih simpang siur, sebab pihak sekolah belum bisa diklarifikasi oleh keluarga peristiwa tersebut. Boro-boro ngasih penjelasan, datang menjenguk ke Rumah Sakit saja tidak, ini guru dan pembina pramuka macam apa, tidak punya hati nurani tahu anak didiknya kena musibah lari lepas tangan,”ujarnya.

Sementara itu, hingga berita ini diunggah di media sosial (Medsos) pihak sekolah belum bisa dikonfirmasi peristiwa naafyang menimpa  anak didiknya dihalamanm sekolah. Saat dihubungi melalui via telephone Kepala SMPN 10 Metro Supardi nomer ponselnya dalam keadaan tidak aktif.   (tnn)