. . .

Tinggal 600-an Ekor, Save Harimau Sumatera!

image_print

Foto: AYP

TEATRIKAL SAVE HARIMAU SUMATERA: Panitia GTD 2018 sengaja menyuguhkan aksi teatrikal berpesan moral pelestarian harimau sumatera, badak, dan gajah pada para pelajar dan masyarakat, untuk mengedukasi bahwa tiga jenis satwa tersebut harus dilestarikan.

 

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Seiring waktu, populasi harimau sumatera saat ini terancam punah. Tak heran, jika Pemerintah Republik Indonesia dan seluruh dunia, berupaya keras melindungi hewan bernama ilmiah Panthera tigris sumatrae itu melalui sejumlah regulasi. Diketahui saat ini, jumlah populasinya se-Sumatera tinggal 400 hingga 600 ekor. Angka yang sangat memprihatikan.

Regional Coordinator (RC) Tiger Project Sumatera Landscape TNBBS, Nani yang sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Global Tiger Day (GTD) 2018 mengatakan, bahwa peringatan GTD merupakan ajang penyadartahuan atau kampanye kepada masyarakat umum terhadap penyelamatan harimau sumatera. Dihelat oleh TNBBS, sebab TNBBS merupakan salah satu instansi yang harus menjaga warisan dunia.

Ada tiga satwa kunci yang masih tersisa sampai saat ini, seperti gajah, badak, dan harimau sumatera. Khusus harimau sumatera, Nani menjelaskan, kendati populasinya masih ada, namun jumlahnya tidak banyak. Untuk se-Sumatera saja saat ini populasinya tinggal 400-600 ekor.

“Nah, tugas kita bersama untuk menjaga agar yang tersisa itu terus lestari. Jangan sampai seperti harimau jawa dan harimau bali yang sudah punah,” ujar Nani.

Kegiatan GTD 2018, kata dia, juga telah dilakukan di SD Sukaraja, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Nantinya rangkaian GTD terus berlanjut hingga ke Kabupaten Pesisir Barat pada 11-12 Agustus mendatang.

“Kegiatan GTD ini serentak dilakukan di 10 kabupaten/kota. Ini merupakan kampanye penyelamatan harimau sumatera Kami yang melibatkan mitra, komunitas, pemda dan stakeholder terkait terus berupaya mengedukasi masyarakat,” ungkap Nani.

Kegiatan bertajuk Global Tiger Day, dia menambahkan, dilaksanakan dalam rangka mengisi Hari Harimau Sedunia (Tiger Day) yang sejatinya diperingati setiap 29 Juli.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ir. Soekarno, Kotaagung atau yang biasa disebut taman kota (tamkot), menjadi lokasi kampanye penyelamatan harimau sumatera dari kepunahan. Sejumlah mitra TNBBS, mulai dari WCS, WWF, Tiger Project Sumatera, Tiger Art, Forum Harimau Kita hingga komunitas seperti gerakan Pramuka dan Goes Kotaagung (GOSKA) tampak hadir untuk memeriahkan acara dan bersama-sama mengedukasi masyarakat umum.

Dalam acara juga ditampilkan aksi teaterikal yang membawa pesan kepada seluruh pelajar dan masyarakat, bahwa harimau sumatera saat ini terancam punah. Selain itu panitia juga membagi-bagikan selebaran yang berisi mengenai informasi seputar harimau sumatera dan ada aksi mengecat muka dengan karakter harimau sumatera, pengunjung yang datang juga bisa berswafoto dengan background harimau sumatera.

Perwakilan dari Wildlife Conservation Society (WCS) Kotaagung, Firdaus, mengajak masyarakat Lampung berbangga. Sebab populasi harimau sumatera masih terjaga di Kawasan TNBBS. Namun saat ditanyai jumlah pasti populasi, Firdaus tidak merincinya.

“Ujungkulon bangga dengan badaknya. Kita juga patut bangga dengan harimau sumatera yang masih terjaga di TNBBS. Saat ini angka riil mengenai jumlah harimau sumatera di TNBBS belum tahu, sekitar puluhan ekor. Sebab kalau pakai bahasa statistik, angkanya 2,8 individu per 100 kilometer persegi dan itu sudah keluar tulisan ilmiahnya,” jelas Firdaus.

Masih terjaganya populasi harimau sumatera di wilayah kewenangan TNBBS, dia melanjutkan, karena populasi mangsanya masih bagus.

Sementara Asisten Bidang Administrasi Sekretariat Daerah Tanggamus Drs. Firman Ranie yang hadir dalam Kegiatan GTD 2018, mewakili Penjabat Bupati Tanggamus Ir. Zainal Abidin, M.T., mengapresiasi peringatan GTD yang diinisiasi TNBBS bersama mitra.

Menurut Firman Ranie, masyarakat khususnya genarasi muda, harus bisa menjaga satwa seperti harimau, badak, dan gajah yang saat ini terancam punah.

“Jangan sampai satwa, gajah, badak, dan harimau hanya menjadi cerita bagi anak dan cucu kita seperti ‘dongeng’ dinosaurus. Maka dari itu kita harus menjaga satwa yang dilindungi tersebut,” ajak Firman Ranie. (ayp)