. . .

Tim DVI akan Akhiri Identifikasi Korban Lion Air

image_print

Tersisa 24 Sampel DNA

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA -Pemeriksaan Deoxyribonucleic acid (DNA) terhadap korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh pada Senin 29 Oktober di Tanjungpakis, Karawang, Jawa Barat, akan berakhir pada 23 November. Sementara korban yang sudah teridentifikasi sampai hari ini berjumlah 104 orang.

Kepala Disaster Victim Identification (DVI) Rumah Sakit Polri Kramat Jati Kombes Pol Lisda Cancer mengatakan, saat identifikasi berakhir, kemungkinan akan ada korban yang tidak teridentifikasi.

Rencana berakhirnya pemeriksaan DNA pada Jumat 23 November. Tidak menutup kemungkinan pada tanggal tersebut ada jenazah yang masuk tidak teridentifikasi, katanya di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (20/11).

Sejauh ini kata Lisda, sudah ada 195 kantong jenazah yang masuk ke RS Polri Kramat Jati. Meski begitu Lisda memastikan jumlah korban tidak lengkap. Pasalnya jelas Lisda, jenazah yang dibawa ke RS Polri Kramat Jati hanya berbentuk bagian tubuh atau body part, bukan jenazah yang masih utuh.

“Untuk itu, dari 195 kantong jenazah akan ketahuan pada Jumat nanti semuanya, berapa jumlahnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Lisda mengatakan, jika korban yang tidak teridentifikasi pihaknya akan menyerahkan kepada Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk membantu mengurus surat maupun akta kematian.

“Pemecahan masalah ini, Dukcapil sudah memberikan solusi kepada yang tidak teridentifikasi akan diberikan hak-haknya, termasuk dipermudah akta kematian,” terangnya.

Sementara itu Kepala Laboratorium DNA Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Kombes Pol Putut Cahyo Widodo menuturkan, sampai saat ini jumlah penumpang yang telah teridentifikasi sebanyak 104 dan 85 yang belum teridentifikasi. Dari total 104 yang teridentifikasi tersebut terdiri dari 75 laki-laki dan perempuan 29 orang.

Hari ini teridentifikasi tiga korban lagi atas nama Puspita Eka Putri (24), perempuan, teridentifikasi melalui pemeriksaan DNA. Achmad Sukron Hadi (30), laki-laki, teridentifikasi melalui pemeriksaan DNA. Muhammad Luthfi Nurramdhani (24) laki-laki, teridentifikasi melalui pemeriksaan DNA, ucapnya.

Sedangkan untuk data sampel DNA, masih ada 24 sampelDNA korban yang belum direkonsiliasi atau dicocokan. Untuk 24 sampel tersebut merupakan bagian dari keseluruhan 666 sampel DNA yang diambil dari tulang korban.

“Yang belum ada 24 dari 666. Itu yang berasal dari tulang-tulang korban,” tuturnya.

Putut menambahkan, dalam waktu dekat 24 sampel DNA tersebut akan dicocokan dengan data antemortem dan postmortem agar segera bisa diidentifikasi.

“Moga-moga satu hari dua hari yang akan datang 24 ini sudah bisa dicocokan dengan antemortem. Nah ini kalau sudah dicocokan dengan antemortem maka semua postmortem sudah dicocokan,” tambahnya.

Menurut Putut, jika seluruh sampel DNA telah dicocokan, jumlah akhir korban akan diketahui. “Nanti ketemu jumlah penumpang yang teridentifikasi. Sekarang sudah 104. Ya kita berdoa supaya lebih dari 104. Seandainya tidak sampai 189 berarti yang sisanya itu belum dikirimkan dari kantong tadi. Kantongnya kan 195,” ungkapnya.

Lebih jauh Putut menerangkan, proses pemeriksaan sampel DNA melalui tulang memakan waktu lebih lama dibandingkan darah atau otot, yakni sekitar tujuh hari. Sementara pemeriksaan lewat darah atau otot hanya membutuhkan waktu empat hari.

“Proses pemeriksaan melalui tulang jauh lebih sulit dibanding melalui darah atau otot. Karena sel yang ada di dalam sel tulang yang mempunyai membran yang sangat keras. Karena itu perlu waktu yang lebih lama dibandingkan yang lain,” jelasnya. (AF/FIN/tnn)