Tiga tahun buron, pembegal ustadz ditembak empat lobang

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG — Pelarian Alfian alias cenggeh (38) pelaku pembegalan dan pembunuhan yang kabur selama tiga tahun akhirnya dapat tertangkap tim Tekab 308 Polresta Bandarlampung di daerah Muara Dua Sumatera Selatan.

Warga Desa Mulyo sari Bergen Tanjungsari Lampung Selatan ini merupakan salah satu komplotan yang telah membunuh korbannya Ustadz Sofyan Sauri (46) warga waylaga panjang pada tahun 2014 lalu di Jl.raya Suban kel batu suri Panjang Bandarlampung

Dua dari empat pelaku pembunuhan terlebih dahulu telah tertangkap dan di vonis oleh majelis hakim selama 20 tahun penjara pada 11 Januari 2016 yakni Kristian Budiono dan Rohadi alias Kepel. Sedangkan satu tersangka Ridho telah tertembak mati karena mencoba melarikan diri.

Dan satu tersangka lagi Alfian alias cenggeh baru tertangkap pada hari kamis (1/3) sekitar pukul 00.30 wib di daerah Muara Dua Sumatera Selatan. Empat lobang peluru bersandar di kedua kakinya.

Kapolresta Bandarlampung, Kombes Murbani Budi Pitono mengatakan, penangkapan terhadap cenggeh berdasarkan penyelidikan dari Satreskrim Polresta Bandarlampung bahwa pelaku sedang berada di wilayah Muara dua Sumsel.

“Mengetahui pelaku itu berada di Muara dua, kami langsung menerjunkan tim Tekab 308 untuk berangkat menuju Muara dua untuk menangkap pelakunya,”ungkap Murbani, saat ekspose di Mapolreta Bandarlampung, kemarin (2/3).

Setelah mengetahui tempat persembunyiannya yang sudah tiga tahun buron, tim Tekab 308 langsung mendobrak rumah tersebut dan mendapatkan pelaku sedang tertidur dikamarnya.

Namun, saat mengetahui ada anggota yang akan menangkap, pelaku berusaha melarikan diri melompat dari jendela kamar dan tim tekab langsung melakukan pengejaran dengan mengeluarkan tembakan peringatan sebanyak tiga kali.

“Tembakan peringatan itu ternyata nggak dianggap pelaku. Makanya tim tekab 308 langsung mengambil sikap melumpuhkannya dengan menembak dua peluru di kaki kanan dan dua peluru di kaki sebelah kiri, sehingga pelaku berhasil diamankan dan dibawa ke Mapolresta Bandarlampung,”ucapnya.

Barangbukti yang berhasil diamankan yakni sepeda motor merk Yamaha Mio Warna merah milik korban, sebuah celana panjang warna merah milik korban, sebuah jaket warna hitam, sehelai kain sarung warna cokelat dan sehelai kain Sorban warna merah.

Terpisah, Cenggeh pelaku yang tertangkap mengaku perannya dalam membegal dan membunuh Ustadz Sofyan yakni dirinya hanya mengantar ketiga pelaku untuk mencuri motor.

“Yang mengambil motor dan membunuh bukan saya bang, saya cuma nganterin saja, saya sama Ridho bawa motor, Kristian sama Kepel yang turun mengambil motor dan membunuh pak ustadz itu,”ungkap Cenggeh.

Menurutnya, hasil dari penjualan motor itu, pihaknya hanya mendapatkan upah Rp400 ribu yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, dirinya tidak mengetahui berapa harga jual motor itu.

“Selama ini saya di Muara dua itu bertani bang, menanam jagung, hasilnya ya untuk kebutuhan saja bang, saya baru kali ini saja bang ikut mereka mencuri motor, karena sebelumnya juga saya bertani,”katanya.

Perlu diketahui, pada sekitar bulan Mei 2014 dinihari silam, Kristian bersama Rusdi, Rohadi, dan Cenggeh, di Suban Kelurahan Waylaga Kecamatan Panjang telah membegal sepeda motor milik Sofyan Sauri. Dimana saat itu, korban bersama temannya baru pulang dari pengajian dirumah Walikota Bandarlampung.

Temannya berhasil menyelamatkan diri, sedangkan Ustad Sofyan meninggal dunia karena melawan begal yang hendak mengambil motornya. Korban ditusuk lima kali oleh Kristian karena melawan saat motornya hendak diambil. Lalu tubuh korban dibuang ke jurang yang ada disekitar lokasi. Motor Yamaha Mio, BE 3457 DN milik korban kemudian dijual para pelaku seharga Rp1,4 juta.(yud)

 

News Reporter