Tiga Petahana Diprediksi Melaju

0
146
views

“Relawan mengirimkan data yang ada di TPS terpilih melalui Sort Massage service (SMS) ke Kordinator Wilayah (Korwil) masing-masing daerah pemilihan dan kemudian diolah dan dipublikasikan”

Direktur Rakata Institute Eko Kuswanto

Hasil Quick Count oleh Rakata Institute

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG-Tiga bupati petahana diprediksi akan melanjutkan kepemimpinannya dipriode 2017-2022, sedangkan satu petahana lainnya terhenti dan satu pasangan lainnya merupakan wajah baru.

Hal itu didapat berdasarkan hasil perhitungan cepat quick count yang diselenggarakan oleh Rakata Institute di Ballroom Hotel Horison, Bandarlampung, Rabu (15/2). Sample Quick Count sendiri diambil dari 365 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar dimasing-masing wilayah penyelenggara Pilkada yang diawasi dari tim Rakata Institute.

Hasil Quick Count oleh Rakata Institut di Pilkada Pringsewu dilakukan di 81 TPS dengan margin of error mencapai 2,55 persen. Dari hasil yang diterima oleh Rakata, Pasangan nomor urut dua Sujadi-Fauzi memimpin perolehan suara tertinggi mencapai 47,49 persen, diikuti oleh pasangan nomor urut satu Ardian Saputra-Dewi Arimbi dengan perolehan mencapai 34,19 persen dan Siti Rahma-Edi Agus Yanto dengan 18,32 persen suara, dari perolehan suara masuk sebesar 95,06 persen dengan partisipasi pemilih sebesar 69,67 persen.

Untuk Kabupaten Lampung Barat, pasangan nomor satu Parosil Mabsus-Mad Hasnurin memperoleh suara 57,53 persen diikuti pasangan nomor dua Edy Irawan Arief-Ulul Azmi Soltiansa dengan perolehan 42,47 persen suara yang diambil dari 83,65 persen suara masuk dengan partisipasi pemilih sebesar 78,46 persen.

Di Kabupaten Mesuji, pasangan petahana nomor urut dua Khamami-Saply memimpin dengan perolehan suara sebesar 69,46 persen diikuti oleh pasangan Febrina Lesisie Tantina-M. Adam Ishak yang memperoleh suara 30,52 persen dari 85,71 persen suara masuk dengan partisipasi pemilih 75,36 persen.

Sedangkan untuk Kabupaten Tulangbawang, Winarti-Hendriwansyah melaju dengan perolehan suara sebesar 49,67 persen diikuti pasangan petahana Hanan A Rozak-Heri Wardoyo yang memperoleh 39,81persen, sedangkan untuk pasangan yang melaju melalui jalur independen Syarnubi-Sholihah hanya memperoleh suara sebesar 10,53 persen dari 81,82 persen suara yang masuk di database Rakata Institute.

Sedangkan, untuk Kabupaten Tulangbawang Barat, Pasangan Petahana Umar Ahmad-Fauzi Hasan yang merupakan calon tunggal di Pilkada Tubaba memperoleh suara mencapai 97,49 persen dari 82, 14 persen suara yang masuk dengan partisipasi pemilih sebesar 88,63 persen. Meski calon tunggal, di Pilkada Tubaba tak sepenuhnya memilih calon tunggal dengan adanya perolehan suara sebesar 2,51 persen yang memilih kotak kosong.

Direktur Rakata Institute Eko Kuswanto mengatakan bahwa mereka mengerahkan lebih dari lima ratus orang yang tersebar di berbagai daerah yang menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak, mulai dari Pringsewu, Lampung Barat (Lambar), Tulang Bawang (Tuba), Mesuji, Tulang Bawang Barat (Tubaba).

“Kami mengerahkan lima ratus orang lebih untuk mengawasi ditiap TPS, yang tersebar di wilayah Pringsewu 81 TPS, Lambar 104 TPS, Tulang Bawang 110 TPS, Mesuji 42 TPS, Tulang Bawang Barat 28 TPS, yang nantinya para relawan akan mengirimkan data yang ada di TPS terpilih melalui Sort Massage service (SMS) ke pada Kordinator Wilayah (Korwil) masing-masing daerah pemilihan dan kemudian diolah yang nantinya dipublikasikan,” kata Eko Kuswanto, Rabu (15/2).

Selain itu, Eko menjelaskan bahwa dari masing-masing daerah pemilihan mempunyai tingkat kepercayaan 99 persen, dan margine of error yang bervariasi, tergantung jumlah TPS tersebut.

“Pringsewu memiliki margin of error kurang lebih 2,55 persen, Lambar kurang lebih 2,1 persen, Tuba kurang lebih 2,1, Mesuji kurang lebih 3 persen, Tubaba kurang lebih 4,5 persen,” jelasnya.

Eko menjelaskan bahwa lembaga ini merupakan lembaga yang independen, dan bisa menjadi rujukan masyarakat untuk mengetahui secara cepat dan tepat hasil perhitungan sementara pemilihan kepala daerah.

“Rakata selalu memastikan bahwa publik mendapatkan data yang akurat dan cepat dari sebuah lembaga independent yang kemudian bisa menjadi rujukan awal bagi masyarakat untuk mengetahui hasil pemilihan secara cepat, tetapi hasil ini bukan merupakan hasil final, hasil final tetap mengkerucut kepada hasil dari Komisi Pemilihan Umum (KPU),” pungkasnya.(hkw)