Termotivasi karena Prihatin Nasib Pebisnis Kecil

0
205
views

Bermain sambil Belajar Metode Berbisnis dengan Aplikasi The Profit Game

TRANSLAMPUNG.COM-Berada di puncak kesuksesan setelah 19 tahun berbisnis, rupanya, belum membuat Tony Susanto berpuas diri. Bukan karena caranya mengembangkan usaha hingga mencapai profit lebih besar. Namun, kewajibannya untuk membantu sesama yang menurutnya belum terpenuhi. Dari situlah dia mendapatkan ide membuat The Profit Game.

ANTIN IRSANTI

SENIN pagi itu (6/2), ditemani laptop dan beberapa minuman kemasan gelas, Tony Susanto menyambut Jawa Pos di kantornya yang unik. Ruangan di lantai 2 sebuah showroom mobil di Jalan Gayungsari Barat tersebut cukup minimalis. Namun, coretan di dinding dan penataan ruangan menunjukkan bahwa penghuninya adalah orang-orang yang kreatif. TS Corp terpampang di salah satu sisinya.

Begitu pula para karyawannya. Tidak ada yang terikat mengenakan seragam resmi dan celana kain. Pakaian yang dipakai mengekspresikan karakter masing-masing. Begitu juga Tony. Pagi itu dia mengenakan kaus putih berkerah dipadu celana jins biru. Santai tapi rapi. ’’Hai, selamat pagi,’’ sapanya dengan ramah.

Setelah memberikan salam hangat, dia langsung membuka laptop di mejanya. Sebentar mengutak-atik mencari sesuatu. Tidak sampai lima menit. ’’Nah, ini lho yang namanya The Profit Game,’’ ujar pria asli Sidoarjo itu sambil membalikkan layar laptopnya.

Di layar laptop berukuran 14 inci tersebut, tampak sebuah tampilan permainan mirip monopoli digital. Ada bangunan gedung-gedung, orang, dan kendaraan yang berlalu-lalang, serta beberapa area yang masih kosong. Di baris bawah, terdapat simbol-simbol yang menunjukkan perkembangan permainan yang telah dilakukan Tony. Di antaranya, jumlah konsumen, tingkat keberhasilan, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran, hingga laba kotor dan bersih.

Sangat berbau bisnis, ya? Tentu saja. Sebab, game tersebut merupakan simulasi bisnis dunia nyata. Namun, tidak seperti permainan simulasi biasa, user yang memainkan game itu bisa memperoleh modul terkait dengan cara-cara mencari peluang mengembangkan usaha. Admin memberikan panduan secara jelas dalam game. Selain itu, ada tambahan informasi melalui e-mail. ’’Kalau pakai business coach keluar uang jutaan rupiah, di sini kami kasih gratis,’’ kata Tony.

Ada tiga paket permainan yang bisa dipilih user. Mulai harga Rp 23 ribu, Rp 137 ribu, hingga Rp 249 ribu. Semua berisi modul-modul lengkap tentang panduan berbisnis. Harga hanya membedakan waktu pengiriman modul.

Saat ini baru ada 21 modul yang bisa diunduh pengguna The Profit Game. Ke depan, Tony menambah buku-buku panduan lainnya yang bisa diakses para penggunanya. Jika ada update terbaru, bakal diberikan.

Modul yang diberikan sebagai bonus game tersebut bukan modul sembarangan. Itulah panduan yang biasa diberikan seorang business coach kepada pebisnis yang menyewanya. Harga untuk satu modul tidak sebanding dengan uang yang dibayarkan user ketika memilih paket permainan. Di game tersebut, semua modul diberikan secara gratis.

Tony menjelaskan, sumber dana yang masuk nanti dikumpulkan. Kemudian, user yang membutuhkan suntikan modal bisa mengajukan melalui web yang telah disediakan dalam game.User hanya perlu memasukkan data-data yang diminta dan mengirimkan video tentang bisnis yang telah atau akan dijalankannya. Seluruh proposal yang masuk bakal diseleksi untuk mendapatkan dana bantuan.

Menurut Tony, besaran bantuan yang diberikan memang tidak banyak. Sebab, mereka menarget para pengusaha muda, UMKM, dan start-up yang modalnya kecil. Diharapkan, dia bisa membantu banyak orang dengan sumber dana tersebut. ’’Mirip crowdfunding, tapi ini dari user untuk user juga,’’ jelas pria kelahiran 27 April 1978 tersebut. Setelah cukup mampu, user bisa mengembalikan dana pinjaman sesuai dengan yang diberikan tanpa bunga.

Suami Yustina Nurinda itu mengungkapkan, dulu banyak orang datang yang mengeluh. Salah satunya tentang bisnis yang tidak kunjung balik modal. Padahal, dana operasional makin membengkak. Bahkan, beberapa hampir gulung tikar.

Melihat fenomena tersebut, muncul rasa iba dalam diri Tony. Dia prihatin terhadap nasib pebisnis kecil di Indonesia. Orang-orang yang seharusnya bisa merajai bisnis dalam negeri itu malah makin tergilas dengan kerasnya persaingan pasar.

’’Kalau saya kasih uang, itu tidak menyelesaikan masalah. Kalau saya kasih saran saja, itu juga belum cukup. Dari situ saya langsung putar otak mencari cara membantu mereka supaya bisa bangkit sendiri,’’ papar pria 39 tahun tersebut.

Awalnya, Tony mencoba membuat website sebagai wadah tanya jawab soal bisnis dan peluang usaha. Namun, rupanya cara itu tidak efektif. Orang-orang yang menggunakan website tersebut belum tentu paham dengan penjelasannya. Hingga suatu ketika, dia memperoleh inspirasi untuk membuat aplikasi permainan yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Game bagi Tony merupakan sarana yang paling tepat untuk menyalurkan ilmunya. Dengan game, orang akan mempunyai pengalaman langsung terhadap strategi yang dijalankan. Upaya itu juga memberikan solusi bagi para pebisnis yang tidak memiliki cukup waktu atau biaya untuk mengikuti seminar. Juga, bagi mereka yang tidak suka membaca.

Lagi-lagi, keputusan tersebut berdasar pengalaman. Sejak muda, Tony selalu menyempatkan diri mengikuti seminar bisnis. Dalam satu bulan bisa 3–4 kali dia mengikuti kegiatan tersebut. Bukan hanya itu, dia juga menambah ilmu dengan membaca buku. Targetnya, satu pekan satu buku. Tetapi, tidak semua orang bisa mengikuti caranya. Karena itu, dia memilih media yang lebih praktis tetapi juga efisien.

Untuk mewujudkan idenya tersebut, Tony dibantu dua orang kreatif yang ahli di bidangnya. Ada Afietadi ’’Mamak’’ Kurniawan sebagai content development and digital strategy. Juga, Ahmad Syaifudin Azhar yang bertindak sebagai game development and programmer. Kolaborasi itu menghasilkan game yang kini sudah bisa diunduh melalui aplikasi Play Store tersebut.

Upaya pembuatan permainan digital itu dimulai sejak akhir 2015. Selama satu tahun, ketiganya terus mengembangkan The Profit Game. Sebenarnya game tersebut sudah jadi pada Agustus 2016. Namun, Tony dan kawan-kawan terus berupaya menyempurnakan. Hingga akhirnya The Profit Game untuk full version benar-benar dirilis pada Januari lalu. Kini jumlah pengunduh sudah mencapai angka 2.000. Untuk sementara, The Profit Game baru bisa digunakan user dari Indonesia saja. Namun, tidak tertutup kemungkinan nanti game itu dikembangkan hingga memasuki dunia internasional.

Tony sebenarnya ’’bukan siapa-siapa’’. Kehidupannya berubah ketika orang tuanya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 1998. Saat itu krisis moneter melanda Indonesia hingga terjadi PHK besar-besaran dari sejumlah perusahaan.

Tony yang sudah lulus SMA tidak bisa melanjutkan kuliah. Akhirnya, dia menjual sepeda motor dan membuka bengkel di Gresik bersama dua teman ayahnya. Tidak bisa bolak-balik Sidoarjo–Gresik, dia tinggal dalam bengkel di pinggir jalan tersebut. ’’Rasanya seperti menunggui kuburan,’’ kenangnya.

Baru dua tahun setelahnya usaha Tony mulai menunjukkan hasil. Itu pun setelah dia melalui pendekatan dengan menyediakan kopi dan camilan kepada sopir-sopir truk di sekitar pabrik. Mereka mulai percaya dengan kemampuannya. Bisnis bengkel pun mulai berkembang.

Pada 2003, Tony mulai mengembangkan usaha lain. Dia ikut dua temannya membuka restoran. Tidak lama setelah bisnis restoran berjalan, dua temannya pecah kongsi. Akhirnya, para karyawan terancam menjadi penganggur. Tony memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuka sendiri restorannya.

Jatuh bangun selama dua tahun kembali dilakoninya. Namun, bapak tiga anak itu tidak pernah menyerah. Business is like a game. Tinggal pilih mau menang atau kalah. Kalau mau menang, harus berusaha. Akhirnya, perjuangan tersebut membuahkan hasil.

Kini Tony menikmati hasil usahanya. Selain memiliki 11 cabang restoran, dia menggeluti bidang properti, otomotif, manufaktur, dan yang paling baru, bidang digital. Selain itu, pria yang tinggal kawasan CitraLand tersebut termasuk dalam 31 Top Coach Indonesia dan 13 Top Coach Practitioner.

Meski demikian, seluruh capaian itu tidak akan berarti apa-apa. Pada akhirnya, berapa pun jumlah bilangan yang dihasilkannya bakal dikalikan nol. Tidak ada yang dibawa ketika kehidupan berakhir. Namun, dengan membagikan ilmu yang dimilikinya, Tony berupaya pengali terakhir dalam hidupnya bukan nol, melainkan satu. ’’Saya hanya ingin hidup saya bermanfaat bagi orang lain,’’ tandasnya. (*/c14/dos/sep/JPG)