Surat Panggilan Janggal, Catut Nama Perwira Polda yang Meninggal

0
91
views

TRANSLAMPUNG.COM-JURIS dan Fadullah mengaku dalam perkara ini, memang tidak berkoordinasi dengan aparat Kecamatan Limau. Hal itu atas dasar kesepakatan ketujuh kakon yang menerima surat panggilan dari seseorang perwira di Polda Lampung. Dalam surat tersebut tujuh kakon dipanggil sebagai saksi.

Dari situlah diketahui adanya kejanggalan surat panggilan tersebut. Kejanggalan yang paling mencolok, yakni pihak pemanggil yang juga berstatus perwira di Polda Lampung, ternyata sudah meninggal. Maka ada pencatutan nama untuk menerbitkan surat panggilan palsu.

Secara sekilas memang surat panggilan terlihat asli yang dibubuhi stempel. Namun dalam surat tersebut hanya berisi panggilan saksi atas dasar penyelewengan Dana Desa 2016. Sedangkan apa saja rincian penyelewengan yang akan jadi bahan pemeriksaan tidak dijelaskan.

“Kami tidak tahu juga tuduhan penyelewengan yang bagaimana sehingga kami harus diperiksa, semestinya itu ada. Surat hanya berisi satu lembar menyatakan kami dipanggil saja,” terang Juris.

Dari sana maka ketujuh kakon hanya mengikuti perintah AS yang sekaligus juga mengantarkan langsung surat panggilan kepada tujuh kakon tersebut. Selanjutnya mereka hanya ikuti perintah AS sampai pada pengaturan jadwal pertemuan. Dan dari informasi yang beredar bahwa AS juga pernah membuat surat serupa kepada tiga kepala pekon di Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu. Namun tidak ditanggapi oleh mereka.

“Kalau di sini hanya kami bertujuh yang dapat surat panggilan dari oknum itu,” papar Juris mengakhiri keterangannya.

Diberitakan sebelumnya, seorang perwira Polda Lampung terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Tim Sapu Bersih Pungutan Liar ‎Polres Tanggamus dan Polsek Pringsewu. Ironis dan miris. Aparat penegak hukum yang sejatinya mengerti hukum, justru melanggar hukum.

Pengaruh uang, memang sangat dahsyat. Integritas seorang anggota Polri pun, bisa luluh seketika dengan iming-iming hidup enak karena bergelimang rupiah. Tak menutup kemungkinan, bahwa uang juga bisa membutakan semua orang dengan profesi apapun, tak hanya anggota Polri.

Cukup mencengangkan,‎ Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) yang melakukan OTT di Hotel Sarinongko, Pringsewu pada Kamis (22/6), ternyata berhasil menjaring oknum perwira Polda Lampung berinisial AS berpangkat Inspektur Satu (IPTU).

Operasi tangkap tangan ini dibenarkan Kasatreskrim Polres Tanggamus AKP Hendra Saputra, mendampingi Kapolres AKBP Alfis Suhaili. Namun Hendra belum mau memberikan keterangan lebih lanjut, karena perkara ini sedang ditangani oleh polda.

“Yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan di Propam (polda). Tunggu saja seperti apa hasilnya. Dan untuk perkembangan hasil pemeriksaan, silakan langsung konfirmasi ke Bidang Humas polda ya. Karena polres tidak berwenang memberikan keterangan ke media,” singkat kasatreskrim.

Dari OTT tersebut, petugas menyita barang bukti, berupa uang tunai Rp10 juta dan surat panggilan palsu terhadap tujuh kepala pekon di Tanggamus dan Pringsewu.‎ Dari informasi yang beredar, AS ditangkap karena diduga memeras tujuh kepala pekon‎.

Modusnya, AS mengirimkan surat panggilan palsu terhadap tujuh kepala pekon di Kecamatan Limau, Tanggamus, untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Pemanggilan itu terkait perkara dugaan penggelapan alokasi Dana Desa.

Para kepala pekon ini merasa ketakutan mendapat surat panggilan dari kepolisian. Diduga AS memanfaatkan ‘serangan psikologi’ untuk meminta sejumlah uang kepada para kepala pekon. Besarannya yaitu Rp100 juta/kepala pekon. Para kepala pekon ini meminta bertemu dengan AS secara langsung. Alhasil, disepakatilah lokasi pertemuannya di Hotel Sarinongko.

Bertemulah mereka di hotel tersebut dan terjadi negosiasi ‘harga damai’. AS yang awalnya bersikeras meminta Rp100 juta/kepala pekon, akhirnya hanya meminta para kepala pekon menyerahkan uang Rp25 juta/orang.

Karena belum memiliki uang sebanyak yang diminta, para kepala pekon baru bisa membayar Rp10 juta. Sisanya baru dilunasi pada Juli ini.

“Pada saat para kepala pekon ini menyerahkan uang Rp10 juta, Tim Saber Pungli datang menggerebek. AS tidak bisa mengelak, karena didapati bukti uang tunai dan surat panggilan kepolisian palsu,” tandas Hendra Saputra. (ayp)