. . .

Suka Duka Petani Holtikultura

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, LAMBAR – Akibat naik turunnya harga tanaman Holtikultura di Kabupaten Lampung Barat (Lambar) terkadang membuat petani mabuk kepayang hingga gulung tikar.

Deden Cahyadi, salah satu petani holtikultura Pekon Watos Kecamatan Balik Bukit, mengatakan, harga tanaman sayuran khususnya di Bumi Skala Beghak tidak pernah menetap cukup lama sehingga terkadang petani seperti menelan pil pahit tampa air mineral.

Seperti sayuran tomat minggu lalu harga mencapai Rp 4000 saat ini hanya Rp 1000, Wortel Rp 5000 saat ini Rp 1.200, Mantang (Muntul)  Rp 2500 saat ini Rp 1300, sawi Rp 3000 saat ini Rp 800 taisin Rp 4200 saat ini Rp 2000 dan Bunci semula Rp 6500 saat ini Rp 2300.

Menurutnya, tanaman holtikultura diperkirakan naik-turunya harga dapat dipengaruhi oleh cuaca dan daya beli masyarakat (ekonomi, red) sehingga berpengaruh pada melemahnya ekonomi.

“Petani sayur seperti kami ini terkadang menelan pil pahit tampa air mineral tetapi terkadang cukup memuaskan,” terangnya.

Pihaknya berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Lambar agar dapat ikut andil dalam menentukan harga tanaman Holtikultura yang tidak pernah ada kepastian.

Saat di konfirmasi Plt. Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Lambar, Agustanto Basmar, mengatakan, pihaknya tidak dapat ikut andil dalam menentukan harga tanaman Holtikultura dikarenakan itu sudah masuk dalam ranah pembeli dan penjual.

Akan tetapi dijelaskanya, upaya pencegahan penyakit tanaman Holtikultura atau seperti apa bibit unggul, timnya akan berusaha sekeras batu sehingga nantinya hasil dapat sesuai harapan.

“Saya bersama tim akan mentelaah dahulu bagai mana Pemkab jika ikut andil harga tanaman sayuran,” pungkasnya. (saf/hkw)