Subhanallah! Mantan Preman Pasar, Wafat saat Shalat

Muncul Cahaya saat Prosesi Pemakaman Alm. Saiful

TRANSLAMPUNG.COM, METRO – Setiap muslim ingin wafat dalam keadaan khusnul khatimah atau baik. Hal ini seperti yang dialami oleh Alm. Saiful bin Alm.H. Zakaria Mursid, yang meninggal dunia pada umur 59 tahun ketika melakukan shalat. Almarhum warga Perumnas Tejoagung, Metro Timur ini sudah lima belas tahun mesyiarkan agama islam ke beberapa negara, mulai dari Vietnam hingga India.

Laporan Raden Yusuf/Trans Lampung

Ketika dikunjungi di rumah duka, masih terpasang tarup berbentuk persegi dan beberapa kendaraan yang terparkir untuk bertakjiah. Di Jalan Mawar, Tejoagung, Kecamatan Metro Timur tepatnya rumah duka berada. Siang itu hari Sabtu pukul 13.00 WIB di tengah teriknya matahari wartawan media ini mengunjungi rumah duka dengan mengayuh kuda besinya.

Wartawan media ini langsung disambut dengan hangat oleh Tari (39) anak bungsu dan Sudarwati (67) istri almarhum. “Benar ini kediaman almarhum Saiful,” tanya wartawan media ini. “Benar mas, silahkan masuk,” kata Tari ramah.

Dengan ramah dia menceritakan detik-detik wafat ayahandanya. “Benar papah memang menjadi berbincangan, karena meninggalnya papah dalam keadaan khusnul khatimah,” katanya.

Ia mengaku kaget ketika jenazah ayahnya diantar ke rumah duka. Menurutnya almarhum wafat hari Selasa (27/3/2018) jam 14:50 WIB ketika shalat di kediaman kawanya di 15 polos, Metro yang baru saja pulang umrah.

“Kami kaget dan gak disangka-sangka dia meninggal, karena kondisinya sehat-sehat saja. Kami mau ke pasar dia keluar, lalu mampir ke rumah kawanya yang baru pulang umrah di 15 polos, dan jenazah diantar kawanya,” kata dia.

Di kediaman kawan almarhum, setelah duduk selama lima belas menit kemudian menumpang sholat sunah sekitar pukul 14.40 WIB.

“Kata kawanya kok lama pas dicek dia diam saat duduk di antara dua sujud. Almarhum saat disenggol tak sadarkan diri dan langsung dilarikan di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi almarhum sudah wafat,” tutur Tari.

Dengan suasana haru ia melanjutkan cerita. Kegiatan almarhum sebelum meninggal hari itu juga sempat adzan di Masjid arah Lapangan Stadion Tejoagung.

“Kata jamaah papah numpang adzan di masjid untuk terakhir kali dan setelah sholat papah langsung menyalami semua jamaah satu per satu dan untuk meminta maaf,” lanjutnya.

Dia mengatakan pada hari itu ayahnya ke pasar Tejoagung untuk meminta maaf kepada para pedagang. “Dia ke pasar meminta maaf tapi kami gak tahu, pedagang yang ngasih tahu,” ucapnya.

Di matanya almarhum merupakan ayah yang luar biasa. Sebelum meninggal almarhum pernah berbicara kepadanya bahwa ketika wafat ingin tetap dalam keadaan suci. “Bapak saya gak pernah lepas dari wudhu mas,” tuturnya.

“Dia juga pernah mengatakan kalau meninggal pakai jubah gamisnya itu, dan ternyata Allah mengijabahnya,” lanjutnya.

Menurutnya jenazah diantar selang satu jam sejak keluar rumah. “Sampai detik ini kami masih terima takjiah karena banyak yang belum percaya, kalau papah meninggal,” kata Tari.

Ada kejadian diluar nalar manusia ketika proses penguburan jenazah. Saat dikebumikan muncul secercah cahaya yang menyinari pemakamnya.

“Orang-orang bilang kalau ada cahaya yang nyinarin kuburan papah, padahal itu malem gak ada lampu dan gak ada terang bulan hanya mengandalkan lampu jalan, tapi kata warga ada cahaya dari langit. Dan masjid juga sampai tidak cukup ketika papah dishalatkan,” tuturnya.

Obat-Obatan, Minuman Keras

Tari pun menceritakan masa lalu ayahadanya itu, menurut Tari ayahandanya berubah drastis sejak lima belas tahun terakhir. Berbagai narkoba hingga minuman keras sangat dekat dengan almarhum. Perubahan sangat mencolok ketika meninggalnya anak keduanya pada tahun 2005 silam.

Sudarwati istri almarhum mengatakan banyak yang sudah disadarkan oleh almarhum suaminya itu. “Dia mengajak orang shalat pokoknya mensyiarkan agama islam, dulu memang dicap begitu karena memang pergaulanya di pasar sejak kecil, dia lahir di 15 B timur (komplek pasar dan terminal Kota Metro),” katanya.

“Dulu siapa yang gak kenal bang Ipul seluruh Metro. Tapi papah ini gak punya musuh mas, karena papah ini bukan melakukan tindak kejahatan yang merugikan orang lain. Hanya kalau semua narkoba atau minuman keras papah ini dulu pernah, persis seperti almarhum ustad Jefri itu loh mas,” katanya.

Semua temannya yang mantan preman pasar sudah diajak berhijrah olehnya. “Sebelum meninggal banyak teman-temanya yang diajak hijrah dan ada yang diberikan baju gamis sampai sekarang alhamdullilah sudah berubah,” imbuhnya.

“Dia berubah setelah kematian anak keduanya yaitu kakak saya. Dia jadi sering shalat di Masjid Taqwa kemudian ikut jamaah tabligh sekitar tahun 2005, yang tadinya belum bisa ngaji belajar ngaji, alhamdullilah sampai sekarang,” kata Tari.

Almarhum sudah mensyiarkan agama islam hingga beberapa negara. “Sudah ikut jamaah tabligh dia keliling dunia untuk mensyiarkan agama islam ini mas, India, Bangladesh, Thailand, dia jarang di rumah kadang sampai empat bulan, kalau ibu ikut biasanya tiga hari. Paspornya saja sudah ada ke 8 negara,” kata Tari.

Menurut Tari almarhum pernah berkata kepadanya bahwa jangan pernah menangis jika almarhum meninggalkan keluarganya. “Kalau kata-kata terakhir tidak ada tetapi apapun kata-kata papah itu adalah dakwah, papah terakhir memasang baner di depan untuk usaha grosir dan eceran beras, memang belum dilepas mas biarin dulu,” tutup Tari. (*)

News Reporter