. . .

Stok Beras Melimpah, Bulog Jangan Agresif Operasi Pasar

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi menyatakan bahwa, stok dalam gudang Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) saat ini cukup melimpah, mencapai 40 ribu ton lebih beras.

Menurutnya, harga beras terkendali karena pasokan beras dari daerah masih normal. Adapun, terjadi kenaikan harga sekitar 3 persen masih tergolong wajar dan cenderung sementara. Terlebih sebentar lagi petani akan panen raya. “Tahun ini lebih terkontrol dari sebelumnya, karena kenaikan harga pada periode bulan sebelumnya sama 3,8 persen tapi tahun lalu 7,4 persen,” kata Arief di Jakarta, Selasa (11/9).

Untuk itu Arief meminta kepada Bulog agar tidak terlalu agresih melakukan operasi pasar (OP) Beras untuk mengendalikan harga. Sebab, jika tidak ditahan, dikhawatirkan stok di pasar akan banjir dan membuat harga menjadi tertekan sehingga menganggu petani.

“OP Bulog dengan menyalurkan beras ke pasar retail tidak efektif dan tidak perlu. Ini justru akan menekan harga dan menyakiti petani yang secara bergantian di berbagai daerah sedang panen. Pasokan dari daerah juga masih lancar sekitar 3 ribu – 5 ribu ton perhari,” ujarnya.

Arief menyampaikan, selama ini petani mengeluhkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang terlampau rendah di angka Rp3.700 per kilogram, karena di bawah biaya produksi. Sedangkan saat ini petani sedang menikmati harga gabah yang baik, Rp5.000-Rp5.500 per kilogram.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menyatakan siap melakukan operasi pasar beras. Penugasan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah menjaga inflasi 3,5 persen sesuai target Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

“Perum Bulog menyatakan siap menjalani penugasan ini, dengan stok beras sebanyak 2,2 juta ton. Jumlah ini cukup untuk menjaga harga beras hingga musim panen berikutnya,” katanya.

Menurut Tri, terkendalinya harga dan pasokan beras, menunjukkan janji dan optimisme pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras di tengah kemarau. “Kekhawatiran akan menurunnya produksi karena sejumlah daerah penghasil beras mengalami kekeringan, sejauh ini belum terbukti,” pungkasnya. (DS/FIN/tnn)

 

error: Content is protected !!