. . .

Stabilitas Sistem Keuangan Triwulan III 2018 Aman

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia periode triwulan III 2018 secara keseluruhan relatif terjaga. Hal ini disimpulkan usai Komite Stabilitas Sisten Keuangan (KSSK) menggelar rapat koordinasi pada 25 Oktober 2018 lalu.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyebut, ada beberapa indikator perekonomian yang mendukung pernyataan tersebut. “Kesimpulan dari rapat kami untuk periode triwulan III 2018 secara keseluruhan stabilitas sistem keuangan kita adalah relatif terjaga atau aman,” ujar Sri di Gedung Juanda I, Jakarta, seperti ditulis Minggu (4/11).

Beberapa indikator yang menopang kesimpulan KSSK ditunjukkan dari pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga, inflasi rendah, cadangan devisa yang memadai, fluktuasi nilai tukar yang terkendali. Bahkan defisit APBN juga menunjukkan trend yang menurun serta keseimbangan primer yang semakin mendekati nol.

“Beberapa indikator yang menopang assessment dari KSSK adalah pertumbuhan ekonomi kita yang masih terjaga di atas 5%, tingkat inflasi yang rendah dan stabil, dan juga cadangan devisa yang memadai, volatilitas nilai tukar yang terkendali. Dari sisi APBN defisit APBN yang mengecil bahkan keseimbangan primer yang jauh lebih baik mendekati nol dibandingkan periode-periode sebelumnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menkeu menegaskan bahwa di tengah situasi perang dagang antara Amerika Serikat dengan mitra dagang utamanya serta kebijakan proteksionisme yang dilakukan negara tersebut, kondisi APBN Indonesia sampai saat ini masih sangat baik.

“Kondisi APBN kita juga dalam posisi yang sangat baik. Pertumbuhan pendapatan negara 19%. Pertumbuhan dari pendapatan perpajakan 16,5% (lebih tinggi dari tahun lalu). Ini menggambarkan perekonomian dan APBN kita dalam kondisi yang sangat baik,” katanya.

Menkeu bahkan memperkirakan bahwa defisit anggaran sampai akhir tahun 2018 akan lebih rendah dari yang diperkirakan pada UU APBN 2018.

“Defisit kita adalah posisinya sekarang adalah (Rp)200 triliun atau 1,35% dari GDP. Outlook dari APBN kita sampai dengan akhir tahun defisitnya yang tadinya di Undang-Undang APBN disebutkan 2,19% kemungkinan besar realisasinya akan terjadi di bawah 2% bahkan bisa mendekati 1,83%. Ini menggambarkan APBN kita sampai akhir tahun masih tetap dalam situasi yang stabil dan bisa kelola secara baik,” pungkasnya. (riz/fin)