Soal Lapangandi TBU, Herma HN Minta Warga dan Aparat Mencari Bukti

0
278
views

translampung.com  – Walikota Bandarlampung Herman HN mengaku geram atas tindakan oknum yang berani menjual lahan milik Yayasan Suaka Insan yang menjadi fasilitas umum masyarakat di Kecamatan Telukbetung Utara (TbU). Hal tersebut diungkapkan dia saat meninjau lahan seluas kurang lebih setengah hektar di gang Cipto, Jalan Wayhandak, Kelurahan Sumurbatu, TbU Bandarlampung.
Warga melaporkan bahwa tanah itu awalnya milik Yayasan Suaka Insan yang dihibahkan kepada warga sekitar pada tahun 1980an. Namun, berjalannya waktu ternyata lahan yang kini diklaim milik pengusaha berdarah Tionghoa yakni Cik Elly, malah akan ditutup dan ditembok keliling.

“Saya tanya warga ada nggak bukti hibah itu, tapi warga bingung karena surat itu dulu diurus sama aparat terdahulu. Makanya saya minta Lurah, Camat dan seluruh warga ikut mencari bukit surat itu. kita perjuangkan lahan ini kalau ada bukti tadi,” tegas dia.
Tokoh Masyarakat Sabnu Alie, turut membenarkan hal ini. dia menjelaskan sejak awal Yayasan Suaka Insani tidak pernah menjual lahan kepada pengusaha. Namun kenyatannya, ada seorang pengusaha Cik Elly yang mengklaim tanah itu miliknya berdasarkan surat dari BPN Kota.
Permasalahan ini, sambung Sabnu, sudah muncul sejak tahun 1990an. lalu pada 2000an kembali ada rencana penutupan lahan tersebut. akhirnya warga dipanggil Lurah yang saat itu dijabat oleh Abdul Haq Bastari.
Dia membeber bahwa itu lahan milik Yayasan Insani yang diberikan ke warga melalui pihak agraria, yakni Abdul Hasani. “kan tahun 1980an ada aturan kuburan cina nggak boleh di kota, akhirnya kuburan itu direlokasi ke gedongtataan. Kosong kan lahan itu. nah pihak yayasan ini bilang secara lisan ke Lurah waktu itu untuk masyarakat. Akhirnya atas usulan Pak Wali, pak Lurah diminta segera membuatkan sertifikatnya ke agraria. Tapi sayang karena lupa, yang dibuat sertifikat cuma kantor kelurahan yang berhadapan di depan lapangan. Lapangan ini nggak ada,” urainya menirukan ucapan Abdul Haq.
Nah persoalan ini ternyata terus berlarut-larut hingga berganti Lurah. Apesnya kata dia, ketika walikota dijabat Nurdin Muhayat. Disinggung soal status lahan itu, Lurah bingung dan menjawab lahan itu tidak bertuan. “Akibat kata-kata itu ya sekarang jadi masalah sampe sekarang, kita cek dan ternyata lahan itu sudah jadi nama pribadi orang,” imbuhnya.
Soal kepemilikan lahan atas nama Cik Elly, baik warga dan aparat setempat pun mengaku bingung lantaran berdasarkan kesepakatan dengan Yayasan Suaka Insani. Mereka tidak akan memperjual-belikan lahan tersebut kepada perorangan dan perusahaan, mesklipun Cik Elly katanya memiliki sertifikat hak milik lahan tersebut.
Saat dikonfirmasi soal ini, Pengurus Yayasan Suaka Insani, Yulia mengatakan, bahwa itu merupakan lahan milik yayasan. Dia mengaku, pihaknya justru belum mengetahui persoalan tersebut dan siap tinjau lokasi yang rencananya akan dilakukan hari ini, Rabu (13/4).
“itu yayasan memang punya suaka insani. Tapi kita belum tahu kalau lagi sengketa karena mau dibangun dengan Cik Elly. Kita mau tinjau lokasi secepatnya. Bangunan seperti apa,” akunya.
Disinggung soal kronologis status kepemilikan lahan yang sempat dihibahkan kepada warga setempat, Yulia enggan berkomentar dengan dalih tidak tahu-menahu soal itu. “saya nggak bisa kasih keterangan lebih jauh karena mau kita tinjau dulu lokasinya. Pada saat ada omongan hibah itu saya nggak tahu karena saya bukan pengurus lama,” terangnya.
Namun, saat meminta dipertemukan dengan pemilik Yayasan, Yulia menolak dengan alasan baik pimpinan dan keluarga sedang berada di luar kota. (jefri)

LEAVE A REPLY