. . .

Sikap Tegas Bawaslu Ditunggu Terkait Kasus Luhut Pandjaitan dan Sri Mulayani

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah memanggil Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Jumat (2/11). Kedua dipanggil terkait salam satu jari di penutupan pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF di Bali.

Langkah Bawaslu meminta keterangan kepada dua orang menteri tersebut mendapat sambutan positif dari Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferry Juliantono.

“Kami mendukung Bawaslu yang berani bertindak tegas terhadap keduanya. Jangan terpengaruh karena jabatan mereka,” kata Ferry dalam keterangannya, Minggu (4/11).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini berujar, sikap yang ditunjukkan Luhut dan Sri Mulyani dalam acara internasional tersebut jelas tidak pantas. Sebab, keduanya bukan sedang mengampanyekan Pilpres 2019.

“Tindakan Luhut dan Sri Mulyani yang mengarahkan Direktur IMF dan Presiden Bank Dunia mengganti pose victory menjadi satu jari adalah perbuatan yang memalukan dalam forum internasional dan melanggar aturan kampanye,” ujarnya.

Ferry sangat yakin jika Bawaslu berani menindak sikap Luhut dan Sri Mulyani, seperti halnya dalam kasus pemasangan videotron kampanye Jokowi-Ma’ruf melanggar administrasi pemilu.

“Kita yakin Bawaslu berani bertindak tegas karena sebelumnya dalam kasus videotron juga berani memutuskan Jokma bersalah. Kita juga menuntut permintaan maaf secara terbuka dari Luhut dan SMI,” pungkasnya.

Luhut dan Sri Mulyani dilaporkan Advokat Nusantara ke Bawaslu terkait saat penutupan IMF-World Bank Meeting di Bali pada 14 Oktober 2018 berpose satu jari.

Saat itu, Bos IMF Christine Lagarde, yang sebelumnya berpose dua jari, berganti menjadi satu jari. Kemudian Sri Mulyani yang juga berada di situ menjelaskan padanya soal pose nomor urut di Pilpres 2019 dengan mengatakan ‘two for Prabowo and one for Jokowi’.(ZEN/FIN)