. . .

Siap-Siap, Suku Bunga Bakal Naik Lagi

image_print

translampung.com, JAKARTA – Rupiah menghadapi tekanan jual yang tinggi karena krisis ekonomi di Turki mengganggu sentimen global dan menciptakan kondisi risk-off. Apresiasi Dolar memperburuk situasi bagi Rupiah.

Analis FXTM, Hussein Sayed mengatakan mata uang Indonesia merosot ke level yang tak pernah tersentuh sejak Oktober 2015 di atas 14600. Menurut Hussein, Rupiah sepertinya akan tetap tertekan karena selera risiko investor yang rendah dan Dolar yang menguat secara umum.

“Karena itu, Bank Indonesia mungkin mempertimbangkan untuk meningkatkan suku bunga guna mendukung Rupiah,” kata Hussein, di Jakarta, Selasa (14/8).

Dari aspek teknis, lanjut Hussein, dollar mempunyai ruang untuk menyerang rupiah hingga ke level Rp14700 di jangka pendek karena situasi risk-off yang dipicu krisis Turki mengurangi minat terhadap aset pasar berkembang. “Apalagi, komentar dari Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Menteri Keuangan Berat Albayrak di akhir pekan bahwa pemerintah akan mengumumkan rencana hari ini untuk menenangkan pasar tidak berhasil membangkitkan kepercayaan,” kata Hussein.

Menurut Hussein, investor harus melihat tindakan ekonomi yang serius, bukan bersifat politis, agar situasi tidak menjadi sepenuhnya di luar kendali. Langkah ini termasuk kenaikan darurat suku bunga oleh bank sentral, menerapkan kontrol modal, reformasi fiskal, meminta paket penyelamatan dari IMF atau pemberi pinjaman lain, dan mengakhiri ketegangan diplomatis dengan Donald Trump. Apabila langkah-langkah ini tidak diambil, investor akan terus menjual aset Turki.

Dolar, kata Hussein, diuntungkan oleh gejolak pasar berkembang sehingga mencapai level tertinggi satu tahun yaitu 96.50. Hal yang juga mendukung Dolar adalah data ekonomi yang menunjukkan bahwa IHK inti mencatat pertumbuhan terbesar dalam satu dekade, meningkat 2.4% dibandingkan tahun lalu. Federal Reserve mungkin tak punya pilihan selain terus memperketat kebijakan dengan dua kenaikan suku bunga lagi tahun ini yang menyebabkan divergensi kebijakan moneter yang lebih lebar.

“Dolar yang menguat menyebabkan posisi AS lebih lemah di perang dagang, dan investor bertanya-tanya apakah Trump akan kembali berupaya untuk memperlemah Dolar,” kata dia.

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada mengatakan masih melemahnya mata uang Lira Turki dan EUR membuat pergerakan USD kian menguat. Akibatnya laju Rupiah pun, sesuai perkiraan sebelumnya, kembali terdepresiasi. Meski dari dalam negeri tidak adanya berita negatif namun, pelaku pasar masih bereaksi negatif atas berita di pekan sebelumnya dimana dirilis penurunan cadangan devisa dan melebarnya defisit neraca pembayaran.

“Pelaku pasar cenderung meningkatkan permintaannya atas USD. Sementara itu, adanya pemberitaan dimana pemerintah terlihat pusing dengan anomali pergerakan Rupiah yang kian terdepresiasi kian menambah sentimen negatif,” kata dia.

Ia memperkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran 14.622-14.580 per dollar AS pekan inj. Masih adanya sentimen negatif, terutama dengan masih berlanjutnya penguatan laju USD membuat sejumlah mata uang utama global cenderung melemah. Tentunya kondisi tersebut dapat membuat laju Rupiah berpeluang melemah kembali. Ditambah dengan belum adanya sentimen berita yang dapat mengangkat Rupiah sehingga pelemahan dapat kembali berlanjut.

“Meski terdapat peluang melemah namun, diharapkan aksi jual dapat lebih terbatas agar Rupiah tidak melemah lebih dalam,” kata Reza.

Ia melanjutkan, penyebab nilai tukar mudah goyah sebenarnya karena termasuk dalam soft currency. Karena itu, mau tidak mau pasti akan tergoncang apabila terjadi fluktuasi pada mata uang hard currency, seperti dollar dan pound sterling termasuk yen.

Menurut Reza beberapa mata uang tersebut masuk dalam kategori hard currency, karena perekonomian mereka yang besar. “Sementara kita masih soft currency yang biasanya dimiliki oleh negara-negara berkembang, ” kata Reza.

Karena itu, Reza mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi penting tapi yang lebih penting adalah menjaga stabilitas perekonomian. Apalagi, kalau pertumbuhan ekonomi tinggi tapi mengandalkan impor, maka hal itu jauh dari harapan berkualitas.

“Pemerintah seharusnya tanggap dengan kondisi saat ini yang menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor sangat besar,” tukasnya. (Mad/FIN/tnn)