. . .

Setnov Minta Dikonfrontir dengan Andi Narogong dan Nazaruddin

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Terpidana korupsi e-KTP Setya Novanto meminta dirinya dikonfrontir dengan Andi Agustinus alias Andi Narogong yang merupakan terdakwa korupsi e-KTP. Selain itu juga dengan terpidana korupsi Wisma Atlet Hambalang M. Nazaruddin.

Hal ini, kata Novanto, untuk memberikan gambaran yang jelas pada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terkait aliran dana korupsi KTP-el.

“Memang sebaiknya dikonfrontir antara Andi, saya dengan Nazar,” kata Novanto saat bersaksi untuk terdakwa e-KTP Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Selasa, (18/9).

Menurut Novanto konfrontir dengan Nazaruddin, untuk menginformasikan secara detail ke mana saja aliran dana korupsi e-KTP. Novanto pun bercerita bahwa dirinya pernah diingatkan tentang hal tersebut oleh Nazaruddin. Terutama mengenai aliran dana ke Badan Anggaran (Banggar) DPR, untuk memuluskan proyek tersebut.

Mantan Ketua DPR RI itu menjelaskan, ada penambahan uang di APBN 2011 untuk proyek e-KTP, berikut dollar amerika yang dibagi-bagi guna memuluskan mata anggaran tersebut. Rinciannya yakni USD 1 juta untuk Olly Dondokambey, bendahara PDI Perjuangan saat itu, lalu USD 1 juta untuk politisi Partai Golkar Melchias Markus Mekeng, politisi Demokrat Mirwan Amir dan politisi PKS Tamsil Linrung.

“Ini (penyerahan) di lantai 12 di ruangannya Ade Komarudin. Itu (besaran anggaran e-KTP) Alokasi 1,2 T untuk uang proyek e-KTP APBN 2011 sehingga ada tambahan 1T,” papar Novanto.

Selain nama-nama di atas, Novanto juga menyebut politisi lain seperti politisi Golkar Chairuman Harahap, Agun Gunandjar, dan mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat Marwan Jafar. Namun, jumlah nominal yang diberikan dan diterima berubah-ubah.

“Yang pertama diberikan kepada Chairuman sebesar USD 500 ribu kepada pak Jafar ini 100 kepada Akom (Ade Komarudin) 700 dan kepada Agun 1juta,” imbuhnya.

Adapun Andi Agustinus atau Andi Narogong, sambung Novanto, berperan sebagai pemberi uang pada para politisi itu. Hal ini dilakukan dengan perantara keponakan Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Lebih lanjut, Novanto membeberkan bahwa pemberian uang itu dimaksudkan agar Banggar DPR meloloskan proyek e-KTP. “Karena sebagai badan anggaran jadi untuk meloloskan proyek ini,” tukas Novanto. (rdw/JPC/jpg)