‘Senam Puskesmas’ Berbuntut Panjang

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Petugas Puskesmas Rawat Inap di Jalan Sisingamaraja, Gedung Air, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, tidak detail dalam memberikan informasi terhadap masyarakat saat meminta pelayanan. Akibatnya terjadi miskomunikasi sehingga masyarakat menilai diacuhkan.

Kepala Puskesmas Rawat Inap Gedung Air, Titin Agustin mengakui bahwa petugasnya tidak lengkap dalam memberikan informasi kepada keluarga pasien. Sehingga hal itu katanya, membuat terjadinya miskomunikasi terhadap petugasnya dan keluarga pasien.

“Ini miskomunikasi antara petugas saya dan keluarga pasien, karena petugas saya tidak lengkap ngomongnya yang seharusnya pasien IGD tidak perlu mengantri ini justru keluarga pasien tersebut mengambil nonor antrian dan mengantri. Baru saat itulah karena merasa bukan pasien darurat jadinya petugas saya senam germas,” jelasnya kepada radarlampung.co.id (Group Trans Lampung) diruangannya, Senin (5/3).

Menurut Titin, ia mengatakan kepada petugasnya bahwa setiap pasien adalah memilik pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang sekali diberi tahu langsung nyambung, ada juga yang berulang-ulang baru nyambung dan ada yang berulang-ulang tidak nyambung juga.

“Oleh karena itu, saya mengatakan kepada petugas saya bahwa kita harus jelas untuk menyampaikan sesuatu kepada pasien maupun keluarga pasien. Sebenarnya juga petugas saya sudah benar penyampaiannya, tapi penangkapan keluarga pasien saja berbeda. Jadi tidak bisa disalahkan juga petugas saya karena selama ini pasien nyambung,” tandasnya.

Terjadinya miskomunikasi antara petugas dan keluarga pasien membuat Kepala Puskesmas bertindak tegas. Dalam peristiwa itu, Kepala Puskesmas Rawat Inap Gedung Air memberi sanksi berupa teguran terhadap satu perawat.

“Kita berikan sanksi teguran kepada satu perawat. Saya berikan sanksi kepada dia karena saat itu dia yang menyuruh keluarga pasien,” tegasnya, Senin (5/3).

Menurutnya saksi tersebut tidaklah sembarangan. Karena siapa saja yang bermasalah makan akan masuk kedalam buku laporan.

“Setiap namanya yang sudah masuk buku maka akan susah,” katanya sambil menunjukan buku tersebut.

Soal pasien yang datang dengan kondisi wajah seperti yang difoto, Titin tidak bisa mengungkapkan lantaran keterbatasan fasilitas CCTV yang tidak bisa di zoom.

“Saya cuma lihat pasien datang dan alurnya saja seperti itu. Kalau untuk kursi roda memang benar pasien menggunakan kursi roda, tapi itu kursi roda dari kita yang menyambut bukan berarti pasien datang dengan membawa kursi roda,” ujarnya. (adm/ang/tnn)

 

News Reporter