Sejumlah Gedung RSHB Tidak Memiliki IMB

TRANSLAMPUNG.COM, GUNUNGSUGIH – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Lampung Tengah (Lamteng) mengakui menemukan adanya IMB Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB) Gunungsugih yang belum diperbarui sejak pertama kali pembangunan tahun 2004 lalu. Hal itu diketahui setelah DPRD Lamteng bersama unsur perizinan melakukan sidak ke rumah sakit belum lama ini.

Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Lamteng Syarief Kusen mewakili Kepala Dinas Andika Triansyah, mengatakan, belum ada laporan kembali terkait dengan IMB rumah sakit.

“Rumah Sakit Harapan Bunda itu memang sudah ada IMB, tapi dalam perjalanan terjadi perluasan bangunan. Setiap perluasan atau penambahan bangunan itu, harus mengajukan IMB kembali. Hal ini yang belum dilakukan pihak rumah sakit,” kata Syarief Kusen, Selasa (7/3).

Ia menyatakan, seharusnya pihak manajemen rumah sakit telah paham dengan aturan mengenai IMB tersebut. Sehingga, dalam melakukan penambahan atau perluasan bangunan tidak menyalahi aturan. Sementara hasil laporan resmi dari tim perizinan yang terjun ke lapangan belum diterimanya. Sehingga belum ada langkah lanjutan yang akan diambil.

Sementara, Raden Zugiri, anggota Komisi I DPRD Lamteng saat sidak mengatakan bahwa IMB yang dimiliki RSHB dibuat pada tahun 2004 lalu. Hingga sekarang, tidak ada pembaruan IMB-nya padahal bangunan rumah sakit sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, ada dugaan jika pihak rumah sakit sengaja tidak melakukan perbaruan izin.

Bahkan ada indikasi korupsi yang dilakukan RSHB. Karena ada 30 titik bangunan saat ini namun yang dilaporkan hanya lima bangunan saja. Hal ini tentunya sangat merugikan daerah, karena seharusnya pajak yang mereka bayarkan adalah untuk 30 bangunan, ternyata hanya lima bangunan saja.

”Saya minta agar eksekutif menghentikan segala jenis perizinan di RSHB. Sehingga tidak seenaknya mendirikan bangunan tanpa izin oleh pemerintah daerah,” bebernya.

Selain itu, kesalahan lainnya menurut Zugiri, RSHB juga mendirikan bangunan yang dipergunakan sebagai gedung hemodialisa (cuci darah). Namun baru mengurus IMB setelah gedung tersebut berdiri.

Sementara itu, Direktur RSHB Gunungsugih dr. Ari tidak banyak berkomentar terkait temuan DPRD ini. Pihaknya menyangkal bahwa bangunan rumah sakit yang dipimpinnya tidak berizin meskipun pihak DPRD telah melihat secara langsung sample pland gedung rumah sakit yang hanya memiliki satu lantai saja. Faktanya di lapangan, saat ini  sudah ada dua lantai. (jar-tka/rid)

News Reporter