Saksi: Bupati Terima Plastik Merah Isi Berlian

Sidang Kasus Korupsi dan TPPU Bupati Kukar

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Kepala Bagian Administrasi pada Dinas Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Ismed Ade Baramuli menjadi saksi di persidangan Bupati Kukar nonaktif Rita Widyasari. Dalam persidangan, dia mengaku memberikan kantong kecil berwarna merah kepada Rita yang diduga berisi seperti emas atau berlian.

“Saya hanya melihat ada kantong kecil warna merah, tapi saya enggak tahu isinya apa. Yang diserahkan Henry kepada Ibu Bupati (Rita). Saya lihat dengan jarak saya sekitar 3-4 meter,” kata Ismed saat bersaksi untuk terdakwa Bupati Kukar nonaktif, Rita Widyasari di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (14/3).

“Saya dengar dia bilang ‘Ini untuk ibu’ gitu saja,” ujar Ismed menirukan ucapan Henry, selaku Direktur PT Sawit Golden Prima.

Kemudian Jaksa membacakan BAP Ismed untuk memperjelas isi dari kantong merah tersebut.

“Kantong merah isinya apa?” tanya Jaksa.

“Mungkin perhiasan,” jawab Ismed.

“Dalam BAP saudara ini, ‘menurut saya kantong merah itu barang berharga seperti emas, berlian atau barang berharga lainnya. Apakah betul itu BAP Anda?” tanya Jaksa lagi.

“Iya itu betul,” jawab Ismed.

Menurut Ismed, Ismed kantong merah diduga barang berharga itu diberikan pada saat dirinya berada di rumah Bupati Rita, di Jalan Melati Nomor 22 Tenggarong .

Ismed menuturkan, pada saat itu Henry yang merupakan Direktur PT Sawit Golden Prima mengajukan permohonan izin penggunaan tanah untuk perkebunan kelapa sawit kepada Pemerintah Kukar di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman seluas 16 ribu hektare.

Saat itu, Henry mengajukan permohonan perizinan melalui stafnya bernama Timotheus Mangintung.

Ismed memaparkan, saat itu memang berkas perusahaan milik Henry sudah lengkap, namun belum dibuatkan Surat Keputusan (SK) perizinan tersebut. Namun karena pada saat itu dirinya mengaku dihubungi oleh Bupati Rita melalui ajudan Bupati Rita, maka dia mengaku segera menyelesaikan SK untuk perusahaan Henry tersebut.

“Lalu saya diminta kalau sudah selesai dibawa ke rumahnya. Sebetulnya harusnya ada paraf dari Asisten, Sekda, tapi karena mendesak dan di perintah kan oleh beliau (Rita), maka saya suruh staf saya Siti Aminah untuk mengerjakan SK itu, lalu sekitar pukul 10.00 WIB, saya bawa SK itu ke rumah pribadi beliau, di situ sudah ada bapak Henry dan Bapak Timothetus,” ucap Ismed.

Dia menegaskan bahwa pada pertemuan di rumah pribadi Rita itu, SK untuk perusahaan Henry di tandatangani dan kantong merah itu diberikan.

“Setelah SK itu diberikan saya pulang. Saya juga melihat ketika saya pulang kantong kain merah itu masih berada di rumah Bu Rita,” jelasnya.

Pada kasus ini, KPK menjerat Rita Widyasari dengan tiga sangkaan berbeda. Pertama, Rita diduga menerima suap dari Direktur PT Sawit Golden Prima, Henry Sisanto Gun alias Abun sebesar Rp 6 miliar.

Kedua, KPK menetapkan Rita sebagai tersangka penerimaan gratifikasi. Rita bersama Komisaris PT Media Bangun Bersama, Khairudin, diduga menerima uang sebesar 775 ribu dolar AS atau setara Rp 6,9 miliar. Gratifikasi diduga berkaitan dengan sejumlah proyek di Kukar.

Terakhir, KPK menetapkan Rita sebagai tersangka di kasus Tindak Pidana Pencucian Uang. Dia diduga melakukan pencucian uang terhadap aset yang dimiliki dari suap dan gratifikasi senilai Rp 436 miliar. (rdw/JPC)

 

 

 

News Reporter