. . .

Saemaul Undong, Gaya Korsel Bangun Desa yang Bisa Dicontoh Indonesia

image_print

TRANSLAMPUNG.COM – Dari dahulu sampai saat ini, Korea Selatan berhasil mengguncang dunia dengan berbagai torehan prestasi. Korean Wave seolah-olah tidak berhenti pada urusan kosmetik dan dunia hiburan. Dunia juga sudah melihat urusan ekonomi dan politik Korea Selatan yang banyak dijadikan rujukan bagi negara-negara dunia ketiga.

Jenderal Besar Amerika Serikat, Doughlas McArthur pernah bilang. Korea Selatan butuh 100 tahun untuk bisa bangkit dari perang 1950-1953. Sebab, perang membuat Korea Selatan sempat menjadi negara termiskin di dunia dengan GDP kurang dari USD 100.

Namun, apa yang diprediksi McArthur tidak tepat. Bantuan finansial dari Amerika dan Jepang, apa yang disebut pakar ekonomi sebagai Han Miracle berhasil mengubah wajah Korea Selatan. Mereka bangkit dan GDP negara menembus USD 27 ribu (Tran, 2011).

Perlahan tapi pasti, negara ini mulai bangkit dari keterpurukan. Apalagi, semenjak 1960-an melalui kebijakan industrialisasi dan rural development di bawah komando presiden Park Chung Hee. Negara itu lantas masuk ke dalam the Asian Newly Industrialized Countries (NICs) bersama dengan Hong Kong, Taiwan, dan Singapore di era 1970-an (Fields, 1985). Bagi saya, Korea Selatan adalah negara From Nothing to Something.

Saemaul Undong dan Cerita Sukses Dibaliknya

Tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang terus berkembang pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari salah satu program andalan pemerintah Korea Selatan. Terutama,  di era 1970-an hingga 1980-an. Salah satunya adalah Saemaul Undong, rural development program khas Korea Selatan yang kini diimitasi oleh puluhan negara dunia.

Secara gamblang, Saemaul Undong bisa diartikan sebagai gerakan pembangunan desa baru. Meski terlihat biasa, ada beberapa hal yang membedakan program ini dengan rural development program lainnya. Terutama, dalam hal tingkat partisipasi masyarakatnya.

Program itu  berhasil menjadi penyeimbang tingkat pertumbuhan ekonomi di kawasan pedesaan. Apalagi, ketika pertumbuhan ekonomi waktu itu hanya terpusat di wilayah perkotaan (Jwa, 2017).

Dengan mengampanyekan dan menanamkan semangat we can do it yang terdiri dari self-help, diligence, dan cooperation di kalangan masyarakat, Saemaul Undong telah diakui oleh PBB dan beberapa organisasi internasional sebagai model pembangunan yang efektif. Sebab, terbukti mengurangi tingkat kemiskinan di kawasan perdesaan (Choi, 2014).

Keberhasilan Saemaul Undong, makin diperkuat dengan industri teknologi Korea Selatan yang pesat. Kini, perkembangan teknologi membuat mayoritas desa-desa di Korea Selatan menjadi desa mandiri secara ekonomi.

Saemaul Undong berhasil karena dieksekusi dengan tiga tahapan yang berbeda. Mulai dari mindset change, improvement living condition, hingga income development program. Pada saat itu, setiap desa akan dimotori oleh 2 orang Saemaul Leaders (1 laki-laki dan 1 perempuan) untuk mendorong partisipasi masyarakat setempat (Park dan Choi, 2016).

Menariknya, mereka sama sekali tidak mendapatkan honor dari pemerintah pusat mengingat pada saat itu, ekonomi Korea Selatan masih terpuruk.

Pada 1960-an hingga awal 1970-an, tingkat pendapatan masyarakat kota lebih tinggi daripada masyarakat desa. Namun dengan adanya program Saemaul Undong pada 1970-an, tingkat pendapatan masyarakat desa berhasil ditingkatkan. Bahkan melebihi tingkat pendapatan masyarakat kota dalam beberapa tahun (Jwa, 2017).

Pemerintah pusat juga memberlakukan system reward and punishment untuk desa-desa yang efektif menjalankan program tersebut. Yang sukses dapat bantuan lebih daripada yang gagal. Menariknya, dengan modal milik mereka sendiri, desa yang gagal tersebut justru terpantik untuk mengejar desa maju.

Menyalin Semangat Saemaul Undong

Menengok program pembangunan perdesaan di Indonesia, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri pernah menjadi andalan pemerintah. Pada 2010, 69 persen bantuan pemerintah digunakan untuk membangun infrastruktur, sedangkan sisanya untuk program pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Selain itu, Bappenas juga mengklaim program ini berhasil mengeluarkan 500.000 rumah tangga dari kemiskinan (Bappenas, 2013).

Bahkan, munculnya undang-undang desa yang baru memungkinkan setiap desa di Indonesia mendapatkan gelontoran dana. Tentu, hal itu harus benar-benar dimanfaatkan oleh semua stakeholders untuk membangun kawasan perdesaan yang lebih bermartabat.

Menengok program pembangunan desa yang digalakkan oleh pemerintah pusat, semangat Saemaul Undong sejatinya bisa diadopsi. Pertama, langkah pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di berbagai daerah bisa dibarengi dengan pembangunan infrastruktur di desa.

Tentu, pembangunan tersebut seyogyanya dilakukan dari, oleh, dan untuk masyarakat desa sendiri dengan memanfaatkan bantuan dana dari pemerintah pusat. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh presiden Jokowi bahwa pada 2018, proyek pembangunan desa tidak semuanya diserahkan kepada pihak ketiga. Tetapi harus dilakukan secara swakelola yang melibatkan masyarakat sendiri (Kuwado, 2017).

Kedua, penerapan mekanisme reward and punishment juga menjadi penting. Hal ini dilakukan untuk mendorong tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan di perdesaan. Ketiga, dengan melihat hasil pembangunan yang dilakukannya sendiri, semangat self-help, diligence, and cooperation seharusnya bisa semakin tertanam di dalam masyarakat itu sendiri sehingga berdampak pada mindset change.

Keempat, pemerintah bisa mendorong program-program yang dijalankan di perdesaan bisa berkaitan langsung dengan proses-proses produksi. Dengan demikian, tingkat perekonomian dan pendapatan masyarakat juga bisa meningkat.

Kelima, hal yang tidak kalah penting adalah peran dari kepala desa setempat atau sering dinamai sebagai Saemaul leaders. Peran mereka cukup vital dalam upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat setempat. Cerita sukses Saemaul Undong di Korea Selatan juga tidak dapat dipisahkan dari tinggi dedikasi Saemaul leaders. Tanpa dibayar oleh pemerintah, mereka rela menjadi duta pembangunan.

Korea Selatan telah mengajarkan bangsa Indonesia tentang banyak hal, terutama semangat dan prinsip untuk terus maju dan berinovasi. Bangkit dari keterpurukan hanya dalam 4 dekade menjadi fakta menarik yang bisa dijadikan inspirasi bagi bangsa Indonesia.

Satu hal yang pasti, perlu komitmen dan kerja keras kuat. Tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan. Bagi saya pribadi, tidak sulit bagi bangsa Indonesia untuk maju seperti Korea Selatan. Apalagi, sejak lama kita sudah memiliki modal sosial yang kuat dimana semangat gotong royong masih melekat di dalam masyarakat.(jpg)